Cirebon (ANTARA) - Di balik Posko Mudik Dinas Perhubungam (Dishub) Kota Cirebon, Jawa Barat, Libo Widi menatap aspal di ruas arteri Jalur Pantai Utara (Pantura) yang tak kunjung sunyi.
Saat ribuan orang melesat dari arah Jakarta menuju Jawa Tengah guna menjemput rindu berlebaran di tanah kelahiran, ia justru mematung menghitung laju, menjadi mata bagi negara dalam memantau situasi arus mudik.
Dengan seragam abu-abu khas petugas perhubungan, Widi selalu bersiaga di posko mudik yang lokasinya tepat di samping kanan kawasan bersejarah di Kota Cirebon yakni Goa Sunyaragi.
Jarum jam menunjukkan pukul 11.37 WIB pada Jumat, ketika ANTARA menyambangi posko tersebut untuk menghimpun data kendaraan yang melintas di Jalur Pantura saat H-1 Lebaran.
Pria dengan model rambut klimis tersebut tampak begitu fokus. Pandangan matanya tajam seolah tak lepas dari aspal jalanan, memantau ritme pergerakan kendaraan yang kian padat menjelang malam takbiran.
Di tangannya, sebuah gawai menjadi instrumen penting untuk mencatat dan melaporkan fluktuasi arus lalu lintas secara berkala.
“Saya sedang bertugas, menghitung laju kendaraan pada H-1 Lebaran,” katanya saat berbincang dengan ANTARA.
Tugasnya memang terlihat sepele, namun dari jemarinya lah data krusial dikirimkan untuk menentukan kebijakan rekayasa lalu lintas, demi memastikan perjalanan para pemudik tetap lancar dan aman.
Suasana posko yang berhias ornamen ketupat memberikan kontras emosional yang kuat, sebuah pengingat bahwa hari kemenangan sudah di depan mata.
Namun bagi petugas seperti Widi, perayaan itu harus ditunda demi pengabdian di garis depan jalur mudik.
Ia tetap bersiaga di tepi jalan raya, menjaga konsentrasi di tengah kebisingan laju kendaraan di Jalur Pantura, memastikan setiap “angka” yang ia hitung sampai ke tujuan dengan selamat untuk berkumpul bersama keluarga.
Jemarinya kembali mengetuk aplikasi penghitung lalu lintas dengan lincah. Di balik aktivitasnya itu, terselip potongan kisah dari mereka yang tetap berjaga ketika yang lain pulang ke kampung halaman.
Sudah enam tahun, ia menjalani peran sebagai petugas penghitungan arus lalu lintas di Kota Cirebon.
Tugas tersebut mulai dilakoninya setelah pandemi COVID-19 mereda, saat masyarakat kembali diizinkan bepergian dan tradisi mudik kembali menggeliat.
Sejak saat itu, setiap musim mudik Lebaran menjadi fase kerja yang menuntut ketahanan dari segi fisik, mental, dan juga kesabaran.

Pekerjaannya berjalan dalam pola yang terukur. Ia menghitung kendaraan berdasarkan jenis seperti sepeda motor (R2), mobil penumpang (R4), angkutan kota, bus, hingga truk dari berbagai sumbu, termasuk dump truck.
Penghitungan dilakukan secara berkala, setiap 15 menit. Dari sana, data dikumpulkan dan diakumulasi menjadi hitungan per jam.
“Jadi jenis-jenisnya kita ngitung per 15 menit. Nanti kita total per jamnya berapa untuk kendaraan yang melintas di pos kami,” ujarnya.
Metode yang digunakan kini sudah berbasis digital. Sehingga, ia tak lagi menggunakan alat manual.
Sebuah aplikasi di ponsel menjadi alat utama, dengan kategori kendaraan yang sudah tersedia. Ia hanya perlu memilih sesuai dengan kendaraan yang melintas.
Namun, kemudahan itu tetap menuntut kecepatan dan ketelitian. Dalam kondisi padat, kesalahan kecil saja bisa berarti banyak kendaraan terlewat dari pencatatan.
Mencapai puncaknya
Di hari biasa, hitungan itu terasa ringan. Lalu lintas cenderung stabil, memberi ruang bagi mata untuk beristirahat sejenak. Namun menjelang Lebaran, suasana berubah.
Kendaraan datang seperti gelombang yang saling berkejaran, menutup celah satu sama lain.
Untungnya saja, kata dia, saat ini terdapat kamera pengawas yang bisa merekam sekaligus menghitung data pergerakan kendaraan di Jalur Pantura.
Keberadaan alat ini, setidaknya dapat meringankan beban para petugas traffic counting (TC) di posko mudik.
Sejak H-7 Lebaran, rata-rata kendaraan yang melintas di titik pengamatan mencapai 3.000 hingga 4.000 kendaraan per jam. Namun saat puncak arus mudik, angka itu melonjak tajam.
Pada Kamis (19/3), tercatat 8.814 kendaraan melintas dalam satu jam, tepatnya antara pukul 11.00 hingga 12.00 WIB siang.

Lonjakan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan. Kala kendaraan datang bertubi-tubi, membedakan jenisnya dalam waktu singkat membutuhkan konsentrasi tinggi.
“Tantangan terbesarnya itu ya di saat ramai, pas puncaknya. Kadang bingung menentukan jenis kendaraan, tapi karena kita berdua jadi bisa dibagi,” ungkapnya.
Tugas panjang di tengah cuaca yang tak pasti, serta dalam kondisi puasa membuat stamina menjadi hal yang krusial.
Widi menjaga kondisi tubuh dengan pola makan bergizi, istirahat cukup, serta menjaga ritme aktivitas harian.
Di sela tugasnya, ia menyampaikan pesan kepada para pemudik, khususnya pengguna sepeda motor.
Ia berharap pengendara lebih memperhatikan keselamatan, termasuk dalam hal jumlah penumpang. Sebab, membawa terlalu banyak penumpang atau barang dapat meningkatkan risiko di jalan.
Kewajiban
Di balik kesibukan itu, ada sisi personal yang tak kalah kuat. Bagi Widi, Lebaran bukan selalu tentang berkumpul bersama keluarga.
Selama enam tahun terakhir, ia hampir selalu bertugas saat hari raya. Ketika banyak orang bersilaturahmi, ia tetap berada di posko.
Ia mengaku momen yang paling dirindukan adalah berkumpul dengan keluarga besar. Sebagai anak bungsu dari lima bersaudara, suasana saat Lebaran terasa berbeda tanpa kehadirannya.
“Memang yang dirindukan itu kumpul bareng saudara. Pasti terasa ada yang kurang,” tuturnya.
Meski begitu, ia tetap berusaha meluangkan waktu untuk keluarga di luar rutinitasnya. Keluarganya pun memahami tanggung jawab yang dipikulnya setiap tahun.
Widi menegaskan tugas ini akan kembali datang, seiring dengan datangnya musim mudik. Tidak banyak yang berubah dari rutinitasnya, kecuali angka-angka yang terus bergerak.
Di ujung percakapan dengan ANTARA, ia menyampaikan alasan simpel, namun menohok yang membuatnya tetap menjalani pekerjaan ini secara konsisten.
“Karena sudah kewajiban saya. Jadi harus dijalani,” katanya.
Menjadi dasar kebijakan
Di balik kerja para petugas TC, ada sistem yang memastikan penghitungan berjalan tanpa jeda. Dishub Kota Cirebon mengerahkan sejumlah personel untuk mendukung proses ini.
Kepala Bidang Lalu Lintas Dishub Kota Cirebon Indra Setiaman menjelaskan total ada 12 petugas untuk menghitung laju kendaraan, pada momen mudik Lebaran 2026.
Mereka bekerja selama 24 jam penuh, dibagi dalam enam sif. Setiap sif berlangsung selama empat jam, dengan dua orang petugas yang bertugas secara bergantian.
Di posko induk, jumlah personel lebih banyak. Sekitar 15 orang dari Dishub, TNI, dan Polri berjaga bersama. Mereka memantau arus lalu lintas seraya memastikan koordinasi berjalan lancar di lapangan.
Setiap angka yang dikumpulkan tidak berhenti sebagai catatan harian. Data tersebut menjadi bahan analisis untuk menentukan kebijakan lalu lintas di masa mendatang.
Perbandingan dilakukan antara tahun berjalan dengan tahun sebelumnya. Dari sana, pemerintah, utamanya di tingkat daerah dapat mengevaluasi efektivitas kebijakan yang telah diterapkan.
“Data yang kita kumpulkan itu untuk kita analisa dan evaluasi, supaya pelaksanaan arus mudik dan balik ke depan bisa lebih aman dan lancar,” kata Indra.
Tahun ini, salah satu kebijakan yang diterapkan adalah tidak adanya penutupan jalur di Kota Cirebon. Berbeda dengan tahun sebelumnya, pengaturan lalu lintas lebih difokuskan pada penyesuaian durasi lampu lalu lintas.

Lampu hijau diperpanjang di titik-titik tertentu untuk mengurangi kepadatan. Hasilnya, arus kendaraan tetap terkendali tanpa menimbulkan kebingungan bagi pengguna jalan.
Data yang dikumpulkan pun menunjukkan tren jumlah kendaraan yang melintas di Jalur Pantura. Setelah lonjakan besar pada 2022, kala aktivitas mudik kembali diperbolehkan, volume lalu lintas mulai menurun.
Saat itu jumlah kendaraan tercatat sekitar 1,6 juta unit. Angka tersebut turun menjadi 1,5 juta pada 2023, lalu tercatat 1,2 juta 2024 dan anjlok di angka 1,1 juta selama periode mudik Lebaran 2025.
Untuk tahun 2026, hingga H-1, jumlah kendaraan menunjukkan peningkatan dibanding tahun sebelumnya, meskipun angka final masih menunggu hingga arus balik selesai.
Pergerakan ini menjadi indikator penting dalam membaca pola mobilitas masyarakat setiap tahunnya.
Tetap dilintasi pemudik
Gema suara takbir mulai terdengar di setiap sudut Kota Cirebon, bersahutan dari masjid ke masjid, seolah berpadu dengan deru kendaraan yang masih bergerak di Jalur Pantura.
Berdasarkan data penghitungan arus mudik pada pukul 20.45 WIB, Jumat, rata-rata kendaraan yang melintas di Jalur Pantura Kota Cirebon mencapai 2.081 unit.
Adapun secara totalnya, sekitar 49.932 kendaraan yang didominasi sepeda motor sebanyak 42.827 unit.
Di tengah suasana yang kian menghangat menuju Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Iwan, pemudik asal Bekasi, memilih tetap berada di perjalanan, menuntaskan sisa jarak menuju kampung halamannya di Pekalongan, Jawa Tengah.
Ia sengaja berangkat pada H-1 Lebaran, sebuah pilihan yang menurutnya lebih bijak setelah berkaca pada pengalaman sebelumnya.

Baginya, hari-hari menjelang puncak arus mudik justru menjadi waktu paling padat, ketika kendaraan menumpuk dan perjalanan bisa tersendat.
“Kalau berangkat lebih awal biasanya malah kena macet panjang. Saya pilih H-1, arusnya masih ramai tapi lebih jalan,” ujarnya.
Sepanjang perjalanan, ia tetap menemui kepadatan, terutama dari sepeda motor dan kendaraan pribadi yang masih mendominasi Jalur Pantura.
Menurutnya, arus lalu lintas masih bergerak, memberi ruang bagi pengendara untuk menjaga ritme perjalanan tanpa harus terjebak terlalu lama.
Ia mengaku lebih tenang dengan pilihan waktu tersebut. Selain menghindari kepadatan, ia bisa menyesuaikan waktu istirahat dengan lebih fleksibel, tanpa tekanan harus segera keluar dari kemacetan panjang.
Baginya, perjalanan mudik selalu membawa makna yang sama, yakni kerinduan untuk berkumpul bersama keluarga.
Kala kumandang takbir yang semakin kuat terdengar, ia berharap bisa segera tiba, menyempurnakan perjalanan panjang itu dengan hangatnya suasana Lebaran di rumah.
Sementara itu, petugas seperti Widi tetap berjaga di pos. Mereka menuntaskan tugas, supaya arus mudik aman hingga akhir.







