TRIBUNNEWS.COM - Hari Raya Idul Fitri merupakan momen penuh kebahagiaan bagi umat Islam di seluruh dunia.
Selain menjadi penanda berakhirnya bulan Ramadan, Idul Fitri juga menjadi waktu untuk kembali kepada kesucian, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kualitas ibadah.
Dalam literatur Islam, disebutkan bahwa Rasulullah SAW pertama kali merayakan Idulfitri pada tahun kedua Hijriah (624 M), tepatnya setelah peristiwa Perang Badar.
Sejak saat itu, terdapat sejumlah amalan sunnah yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam menyambut dan merayakan hari kemenangan tersebut.
Berikut dikutip dari laman resmi Kemenag, beberapa amalan sunnah yang dapat dilakukan saat Idul Fitri:
Baca juga: Salat Idul Fitri 21 Maret 2026 di Masjid Istiqlal: Ini Aturan, Akses Masuk, dan Area Parkir
Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk mengumandangkan takbir sejak malam terakhir Ramadan hingga pagi hari 1 Syawal. Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 185:
Artinya, “Dan sempurnakanlah bilangan Ramadhan, dan bertakbirlah kalian kepada Allah”. (QS. Al-Baqarah: 185).
Takbir Idulfitri terbagi menjadi dua jenis, yaitu takbir muqayyad (yang dilakukan setelah shalat) dan takbir mursal (yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja).
Tradisi ini menjadi bentuk syiar sekaligus ungkapan rasa syukur atas selesainya ibadah Ramadan.
Takbir Idul Fitri bisa dikumandangkan di mana saja, di rumah, jalan, masjid, pasar atau tempat lainnya.
Kesunnahan takbir Idul fitri dimulai sejak tenggelamnya matahari pada malam 1 Syawal sampai takbiratul Ihramnya Imam shalat Id bagi yang berjamaah, atau takbiratul Ihramnya mushalli sendiri, bagi yang shalat sendirian.
Pendapat lain menyatakan waktunya habis saat masuk waktu shalat Id yang dianjurkan, yaitu ketika matahari naik kira-kira satu tombak (+ 3,36 M), baik Imam sudah melaksanakan Takbiratul Ihram atau tidak. (Syekh Sa’id Bin Muhammad Ba’ali Ba’isyun, Busyra al-Karim, hal. 426).
Salah satu contoh bacaan takbir yang utama adalah:
(Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj, juz 3, hal. 54).
Pada hari raya, umat Islam dianjurkan untuk tampil rapi dan bersih sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan.
Rasulullah SAW mencontohkan untuk mandi, memakai wewangian, serta mengenakan pakaian terbaik.
Meski tidak harus baru, pakaian yang dikenakan sebaiknya bersih dan layak.
Tradisi memakai baju baru saat Lebaran pun memiliki landasan sebagai bentuk menampakkan kebahagiaan di hari yang mulia.
Kesunnahan berhias ini berlaku bagi siapapun, meski bagi orang yang tidak turut hadir di pelaksnaan shalat Idul Fitri.
Khusus bagi perempuan, anjuran berhias tetap harus memperhatikan batas-batas syariat, seperti tidak membuka aurat, tidak mempertontonkan penampilan yang memikat laki-laki lain yang bukan mahramnya dan lain sebagainya. (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 1, hal. 281).
Salah satu hari yang diharamkan berpuasa adalah hari raya Idul Fitri.
Bahkan, dalam kitab-kitab fiqih disebutkan bahwa berniat tidak puasa pada saat hari Idul Fitri itu pahalanya seperti orang yang sedang puasa di hari-hari yang tidak dilarang.
Sebelum shalat Idul Fitri, Rasulullah SAW biasa memakan kurma dengan jumlah yang ganjil; tiga, lima, atau tujuh.
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa: "Pada waktu Idul Fitri Rasulullah saw. tidak berangkat ke tempat shalat sebelum memakan beberapa buah kurma dengan jumlah yang ganjil.” (HR. Ahmad dan Bukhari)
Rasulullah menunaikan shalat Idul Fitri bersama dengan keluarga dan sahabat-sahabatnya, baik laki-laki, perempuan, atau pun anak-anak.
Rasulullah memilih rute jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang dari tempat dilangsungkannya shalat Idul Fitri.
Rasulullah juga mengakhirkan pelaksanaan shalat Idul Fitri, biasanya pada saat matahari sudah setinggi tombak atau sekitar dua meter.
Hal ini dimaksudkan agar umat Islam memiliki waktu yang cukup untuk menunaikan zakat fitrah.
Baca juga: 30 Balasan Ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 2026: Berisi Doa, Rasa Syukur, dan Terima Kasih
Dalam salah satu riwayat, Rasulullah SAW pernah menemani Aisyah menyaksikan pertunjukan permainan tombak dan tameng pada hari raya. Hal ini menunjukkan bahwa Islam memberi ruang untuk hiburan yang positif dan tidak melanggar syariat sebagai bagian dari kebahagiaan Idulfitri.
Tradisi saling mengunjungi saat Lebaran juga telah dicontohkan sejak masa Rasulullah SAW. Beliau dan para sahabat saling berkunjung serta mendoakan kebaikan satu sama lain.
Silaturahmi menjadi salah satu amalan utama yang mempererat persaudaraan dan memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Memberikan ucapan selamat saat Idulfitri merupakan amalan yang telah dikenal sejak masa sahabat. Meskipun sebagian riwayat terkait hal ini berstatus lemah, para ulama membolehkannya karena didukung oleh banyak dalil umum tentang anjuran menyebarkan kebaikan dan rasa syukur.
Riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang kisah taubatnya Ka’ab bin Malik setelah beliau absen dari perang Tabuk, Talhah bin Ubaidillah memberinya ucapan selamat begitu mendengar pertaubatnya diterima. Ucapan selamat itu dilakukan dihadapan Nabi dan beliau tidak mengingkarinya.
Tidak ada aturan baku mengenai redaksi ucapan selamat ini. Salah satu contohnya “taqabbala allâhu minnâ wa minkum”, “kullu ‘âmin wa antum bi khair”, “selamat hari raya Idul Fitri”, “minal aidin wa al-faizin”, “mohon maaf lahir batin”, dan lain sebagainya.
Pada prinsipnya, setiap kata yang ditradisikan sebagai ucapan selamat dalam momen hari raya, maka sudah bisa mendapatkan kesunnahan tahniah ini. Bahkan, Syekh Ali Syibramalisi menegaskan tahniah juga bisa diwujudkan dalam bentuk saling bersalam-salaman.
(Tribunnews.com/Latifah)