Laporan Wartawan TribunBanten.com, Muhammad Uqel
TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Perbedaan perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah kembali terjadi di Indonesia.
Menyikapi hal tersebut, PCNU Kabupaten Serang mengajak umat Islam untuk tidak memperdebatkan perbedaan, melainkan fokus pada makna kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa.
Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Serang, KH Muhammad Robi Ulfi Zaini Thohir, mengatakan bahwa perbedaan dalam penentuan hari raya merupakan hal yang sudah biasa terjadi.
"Yang penting substansinya adalah kita merayakan kemenangan, baik setelah puasa 29 atau 30 hari," ujarnya, Jumat (20/3/2026).
Ia menekankan bahwa Nahdlatul Ulama menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghormati di tengah perbedaan.
Menurutnya, mayoritas warga NU mengikuti hasil rukyatul hilal dan keputusan resmi pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama yang menetapkan Idul Fitri pada Sabtu.
Namun, ia tidak menampik adanya sebagian masyarakat, termasuk warga NU, yang merayakan Idul Fitri lebih awal dengan menggunakan metode hisab, sebagaimana yang juga dilakukan oleh Muhammadiyah.
"Bukan hanya Muhammadiyah, sebagian NU juga ada yang menggunakan hisab," katanya.
Gus Robi menilai, kondisi tersebut justru menunjukkan kekayaan khazanah keilmuan dalam Islam.
"Perbedaan itu adalah rahmat, bukan untuk dipertentangkan," tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk saling menghormati, terutama dalam menghadapi perbedaan waktu pelaksanaan Idul Fitri.
Di akhir pernyataannya, Gus Robi mengajak umat Islam untuk menjadikan Idul Fitri sebagai momentum perbaikan diri.
"Giat ibadah, tuluskan niat, dan tekadkan amal untuk kebaikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara," tandasnya.
Baca juga: Lebaran Tak Serentak di Internal NU, PCNU Serang Tegaskan Perbedaan Adalah Rahmat
(*)