TRIBUNTRENDS.COM - Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) mengungkapkan adanya temuan baru terkait kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.
Berdasarkan hasil investigasi independen, peristiwa tersebut diduga bukan tindakan spontan, melainkan operasi yang telah direncanakan secara matang.
TAUD menemukan indikasi kuat bahwa penyerangan terhadap Andrie Yunus pada Kamis (12/3/2026) malam tidak dilakukan oleh satu orang saja.
Sejumlah bukti awal mengarah pada keterlibatan banyak pelaku yang bekerja secara terorganisir dalam menjalankan aksinya.
Rekaman CCTV dari Gedung YLBHI memperlihatkan adanya belasan orang yang diduga saling berkoordinasi sepanjang malam kejadian.
Baca juga: Rocky Gerung Senang Prabowo Tegas Nilai Penyerangan Andrie Yunus Bentuk Terorisme: Pembalikan Moral
"Kami memperoleh bukti permulaan bahwa operasi ini dilakukan oleh belasan orang pelaku dan terdapat keterlibatan pelaku sipil di antaranya," tulis TAUD dalam siaran persnya, Jumat (20/3/2026).
Selain itu, penyelidikan juga mengungkap adanya pola pengintaian yang dilakukan secara sistematis sebelum serangan terjadi.
Sosok pelaku utama yang mengenakan helm biru terlihat sudah berada di sekitar lokasi beberapa jam sebelumnya.
Ia bahkan sempat menggunakan atribut ojek online berwarna hijau sebagai bentuk penyamaran untuk mengelabui situasi.
Atas rangkaian temuan tersebut, TAUD yang beranggotakan LBH Jakarta, YLBHI, Greenpeace, dan Imparsial mendesak agar proses hukum tetap berada di ranah peradilan umum demi menjamin transparansi.
Pusat Polisi Militer (Puspom) TNI mengumumkan empat anggota Bais TNI sebagai tersangka penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus.
Mereka dijerat dengan Pasal 467 KUHP terkait penganiayaan berencana. Komandan Puspom TNI, Mayjen TNI Yusri Nuryanto, menegaskan pihaknya kini tengah mendalami siapa aktor intelektual di balik perintah serangan tersebut.
“Jadi yang terkait dalam perintah siapa nih, kan gitu. Jadi nanti masih sedang kita dalami. Percaya sama kita bahwa kita akan bertindak profesional dan transparan,” ujar Mayjen Yusri dalam jumpa pers di Mabes TNI, Rabu (18/3/2026).
Baca juga: Misteri Aktor Intelektual Penyiraman Air Keras Andrie Yunus, 4 Prajurit TNI Diduga Cuma Eksekutor
Kasus ini telah menarik perhatian tertinggi di tingkat negara.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa dirinya telah menerima perintah langsung dari Presiden Prabowo Subianto untuk mengusut tuntas kasus ini secara profesional.
Guna mempercepat pengungkapan, Polri mengedepankan metode scientific crime investigation yang menitikberatkan pada bukti fisik dan analisis laboratorium forensik.
Selain itu, Kapolri menjamin perlindungan penuh bagi masyarakat yang berani memberikan informasi.
“Seluruh informasi yang diberikan oleh masyarakat, kita akan memberikan jaminan perlindungan. Kami juga telah membuat Posko Pengaduan agar masyarakat bisa memberikan laporan langsung,” tegas Jenderal Listyo Sigit.
Hingga saat ini, sinkronisasi data antara temuan investigasi mandiri TAUD dengan penyidikan resmi kepolisian dan TNI menjadi kunci untuk mengungkap tabir gelap di balik teror terhadap aktivis kemanusiaan ini.
Sebagai informasi, peristiwa penyiraman yang terjadi di kawasan Senen, Jakarta Pusat, mengakibatkan Andrie Yunus menderita luka bakar serius hingga 24 persen di bagian mata, wajah, dada, dan tangan.
Saat ini, korban menjalani perawatan intensif di RS Cipto Mangunkusumo.
(TribunTrends/Tribunnews/ Mario Christian Sumampow)