SURYA.co.id, Gresik - Tradisi ambengan seusai salat Idul Fitri 1447 H masih dilestarikan masyarakat Gresik. Warga berbondong-bondong membawa talam berisi nasi dan lauk khas bandeng sebagai wujud syukur atas kemenangan setelah sebulan berpuasa Ramadan.
Selain bandeng, lauk lain yang disajikan antara lain telur dan sayuran. Tiga hingga empat orang biasanya duduk bersama menyantap hidangan dalam satu talam, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat.
Tradisi ini sudah berlangsung turun-temurun dan masih mudah dijumpai di wilayah utara Gresik serta Duduksampeyan. Warga berbondong-bondong membawa talam ke masjid untuk makan bersama setelah salat Idul Fitri.
Suasana penuh kehangatan tercipta, diawali dengan doa bersama sebagai ungkapan syukur sebelum hidangan disantap.
“Tradisi ambengan sebagai rasa syukur, terlebih dahulu dipimpin doa bersama sebagai ungkapan syukur lalu makan bersama,” ujar Fahmi, Sabtu (21/3/2026).
Rosyid, salah satu warga, mengaku rutin melestarikan tradisi ini. Ia membeli bandeng seberat dua kilogram di Pasar Bandeng Gresik untuk hidangan ambengan.
“Alhamdulilah masih terus dilestarikan sampai saat ini,” kata Rosyid.
Tradisi ambengan bukan sekadar makan bersama, tetapi juga simbol kebersamaan dan solidaritas warga.
Pelestarian tradisi ini menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Gresik masih menjaga warisan budaya leluhur. Ambengan tidak hanya mempererat hubungan antarwarga, tetapi juga memperkuat identitas lokal di tengah modernisasi.