Hegemoni AS Rontok, Iran Berhasil Targetkan Jet Tempur Siluman AS F-35 Paling Canggih di Dunia
Ansari Hasyim March 21, 2026 01:41 PM

SERAMBINEWS.COM – Angkatan bersenjata Iran pada Kamis dilaporkan berhasil menargetkan jet tempur siluman F-35 Lightning II milik Angkatan Udara Amerika Serikat, salah satu pesawat tempur paling canggih di dunia.

Peristiwa ini dinilai berpotensi menjadi titik balik dalam perang udara modern, sekaligus memicu perdebatan mengenai efektivitas teknologi siluman menghadapi lawan yang semakin inovatif.

Baca juga: AS Tawarkan Rp168 Miliar untuk Tangkap Mojtaba Khamenei, Pejabat Iran Berguguran

Sejumlah pakar militer menyebut, ini merupakan pertama kalinya jet F-35 menjadi sasaran serangan langsung.

Laporan awal berasal dari akun sumber terbuka (open source) yang menyebutkan bahwa pesawat F-35 varian A/B terpaksa melakukan pendaratan darurat setelah terkena tembakan sistem pertahanan udara Iran.

Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM), Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins, mengonfirmasi adanya laporan tersebut.

“Kami mengetahui laporan bahwa pesawat F-35 melakukan pendaratan darurat di pangkalan udara regional AS setelah menjalankan misi tempur di atas Iran,” ujarnya kepada Military Times.

Meski demikian, pihak CENTCOM menyatakan bahwa pesawat berhasil mendarat dan pilot berada dalam kondisi stabil.

Di sisi lain, analis militer Will Schryver mengklaim bahwa Iran tidak hanya menargetkan, tetapi juga berhasil “merusak” pesawat tersebut saat beroperasi di wilayah udara Iran.

Ia bahkan meragukan pernyataan resmi AS dengan merujuk pada rekaman video yang beredar, yang disebut menunjukkan adanya jejak api di belakang jet setelah serangan.

Reaksi di media sosial pun bermunculan.

Analis Brandon Weichert menyoroti besarnya biaya program F-35 yang mencapai sekitar 2 triliun dolar AS selama dua dekade, dibandingkan dengan potensi kerentanannya terhadap sistem pertahanan yang lebih murah.

Sementara itu, pengguna lain, Gandalv, menilai F-35 selama ini dipandang sebagai simbol superioritas teknologi militer AS.

Namun, menurutnya, keberhasilan Iran menargetkan pesawat tersebut menunjukkan bahwa anggapan itu mulai dipertanyakan.

Ia juga menyinggung kerentanan teknis, khususnya jejak panas mesin F-35 yang dapat terdeteksi sensor inframerah.

Beberapa pengamat menekankan bahwa sistem pertahanan udara yang digunakan Iran disebut merupakan buatan dalam negeri, bukan teknologi impor.

Hal ini dianggap sebagai pencapaian signifikan bagi kemampuan militer Iran.

Selain itu, perbedaan biaya juga menjadi sorotan. Jet F-35 diperkirakan bernilai sekitar 190 juta dolar AS per unit, sementara sistem pertahanan yang digunakan untuk menargetkannya diklaim jauh lebih murah.

Para ahli menilai dampak insiden ini tidak hanya bersifat taktis, tetapi juga strategis.

Analis Syed Mohd Murtaza menyebut bahwa keberhasilan ini memberi Iran data penting terkait “sidik jari inframerah” F-35.

Data tersebut dinilai sangat berharga untuk pengembangan sistem deteksi dan penargetan di masa depan, bahkan berpotensi dibagikan kepada negara sekutu.

Analis berbasis di AS, Shaiel Ben-Ephraim, menilai kejadian ini juga memunculkan pertanyaan tentang klaim supremasi udara Amerika Serikat.

Ia mencatat bahwa sejak konflik dengan Iran dimulai pada 28 Februari, sejumlah aset militer AS dilaporkan mengalami kerusakan atau kehilangan.

Dari sisi geopolitik, sejumlah pengamat menilai insiden ini memiliki dampak simbolis yang besar.

Kemampuan Iran—negara yang selama ini berada di bawah sanksi—untuk mendeteksi dan menargetkan F-35 dianggap sebagai sinyal perubahan dalam keseimbangan kekuatan udara global.

Meski Pentagon berusaha meredam dampak dengan menyebut insiden ini sebagai kejadian yang dapat diatasi, banyak pihak menilai peristiwa tersebut telah menggoyahkan citra “tak tersentuh” yang selama ini melekat pada F-35.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.