Trump Kirim Ribuan Marinir ke Teluk, Bayang-bayang 'Vietnam Baru' Menghantui
Darwin Sijabat March 21, 2026 02:48 PM

TRIBUNJAMBI.COM - Memasuki pekan keempat konfrontasi berdarah di Timur Tengah, Amerika Serikat mengambil langkah drastis yang memicu alarm kewaspadaan global. 

Pentagon resmi mengerahkan lebih dari 2.200 personel Marinir tambahan menuju perairan Teluk, sebuah sinyal kuat bahwa Washington tengah mempersiapkan transisi dari perang udara menuju operasi darat yang berisiko tinggi terhadap Iran.

Tiga kapal perang raksasa—USS Boxer, USS Comstock, dan USS Portland—telah bertolak dari Pasifik membawa Unit Ekspedisi Marinir (MEU) ke-11.

 Jika bergabung dengan MEU ke-31 yang sudah bersiaga lebih dulu, total kekuatan darat tambahan AS di kawasan tersebut akan melonjak hingga hampir 9.000 personel.

Para ahli militer berspekulasi bahwa unit tempur lengkap ini disiapkan untuk operasi penggerebekan garis pantai Iran, terutama untuk merebut Pulau Kharg—titik saraf ekspor minyak Teheran—atau mengamankan Selat Hormuz secara fisik. 

Namun, langkah ini dihantui trauma sejarah Perang Vietnam (1955-1975) yang berakhir dengan kegagalan total dan depresi hebat bagi tentara AS.

Menanggapi kekhawatiran publik, Presiden Donald Trump menunjukkan sikap tak tergoyahkan meski 74 persen warga AS menolak pengiriman pasukan darat menurut jajak pendapat Universitas Quinnipiac.

Baca juga: Trump Amuk NATO, Sebut Macan Kertas Pengecut Hadapi Blokade Iran 

Baca juga: Presiden Prabowo Beri THR ke Penyintas Banjir Aceh Usai Salat Idulfitri

"Tidak, saya tidak takut. Saya benar-benar tidak takut pada apa pun," tegas Trump saat ditanya mengenai potensi konflik ini menjadi "Vietnam kedua".

Sabotase Energi di Qatar: Harga Minyak Tembus 119 Dolar

Eskalasi ini dipicu oleh tindakan nekat Iran yang mulai menyasar infrastruktur energi sekutu AS. Teheran dilaporkan menghantam Ras Laffan di Qatar, terminal gas alam cair (LNG) terbesar di dunia. 

Serangan ini menghancurkan 17 persen kapasitas ekspor LNG Qatar dan memaksa harga minyak mentah global meroket hingga 119 dolar AS per barel.

Dampaknya sangat mengerikan; QatarEnergy memprediksi perbaikan fasilitas tersebut memakan waktu lima tahun dengan kerugian mencapai 20 miliar dolar AS per tahun. 

Di Amerika Serikat, harga bahan bakar melonjak hampir 1 dolar dalam sebulan, mengancam biaya logistik pangan dan menyeret ekonomi global ke jurang resesi terdalam.

 

Baca juga: Lebaran 2026, Bupati Muaro Jambi Tiadakan Open House agar ASN Bisa dengan Keluarga

Baca juga: Pesan Idulfitri 1447 H dari Reruntuhan Gaza, Presiden Palestina Serukan Ini

Baca juga: Klarifikasi Polemik Salat Id Sukoharjo Batal: Kades Minta Maaf Atas Kegaduhan

Baca juga: Pesan Idulfitri 1447 H dari Istiqlal: Rawat Kerukunan dan Berantas Korupsi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.