Iran Jebol Iron Dome di Dekat Reaktor Nuklir, Israel Kini Ajukan Tambahan Rudal ke AS
Rustam Aji March 23, 2026 05:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEL AVIV – Sistem pertahanan udara berlapis Israel yang selama ini dikenal "kebal" kini menghadapi ujian serius setelah dua rudal balistik Iran berhasil menghantam wilayah pemukiman di Dimona dan Arad, Sabtu (21/3/2026) malam.

Kegagalan pencegatan di dekat fasilitas penelitian nuklir strategis di Gurun Negev tersebut memicu kekhawatiran global mengenai ketersediaan stok rudal penangkis Israel. Insiden ini mengakibatkan sedikitnya 175 orang terluka, dengan 10 di antaranya dalam kondisi serius.

Kegagalan di Titik Vital

Meskipun militer Israel mengklaim tingkat keberhasilan pencegatan di atas 90 persen, jebolnya pengamanan di Dimona—yang hanya berjarak delapan mil dari reaktor nuklir utama—menjadi sorotan tajam.

"Dimona dilindungi sistem berlapis buatan Israel dan AS, tetapi tidak ada yang sempurna," ujar Brigjen (Purn) Ran Kochav, mantan komandan pasukan pertahanan udara Israel.

Baca juga: KPK Tuai Protes Usai Kabulkan Tahanan Rumah Gus Yaqut, Eks Penyidik: Jangan Ada Negosiasi!

Laporan dari media lokal yang lolos sensor militer menyebutkan bahwa sistem Arrow 3, pencegat tercanggih untuk rudal balistik, diduga tidak dikerahkan dalam serangan di Arad dan Dimona.

Hal ini memperkuat dugaan bahwa Israel mulai menghemat penggunaan rudal pencegat yang mahal dan membutuhkan waktu produksi lama.

Krisis Stok Rudal dan Diplomasi ke Washington

Tekanan terhadap pertahanan udara Israel semakin nyata seiring durasi konflik yang memanjang.

Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Israel, Amir Baram, dilaporkan telah melakukan perjalanan ke Washington bulan ini untuk meminta tambahan amunisi dan rudal pencegat secara darurat.

"Ini bukan seperti tong tanpa dasar," tegas Kochav mengenai persediaan rudal. "Saat melakukan pencegatan, kita juga harus memikirkan pertempuran di hari berikutnya."

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, saat meninjau lokasi terdampak pada Minggu (22/3), meminta warga untuk tetap disiplin menggunakan bungker, namun ia bungkam mengenai alasan teknis di balik kegagalan sistem pertahanan udara tersebut.

Upaya Optimasi Sumber Daya

Untuk menyiasati potensi kelangkaan, Israel kini berupaya memperluas jangkauan sistem yang lebih hemat biaya seperti Iron Dome dan David's Sling.

Baca juga: Gelombang Solidaritas di India: Warga Kashmir Galang Donasi Perhiasan dan Ternak untuk Iran

Langkah ini diambil agar rudal mahal seperti Arrow 3 hanya digunakan untuk target yang dianggap paling mengancam infrastruktur strategis nasional.

Hingga saat ini, pihak militer secara resmi membantah laporan mengenai habisnya stok rudal dan menyatakan siap menghadapi pertempuran jangka panjang.

Namun, pergerakan pejabat pertahanan ke Amerika Serikat memberikan sinyal berbeda mengenai kondisi riil di lapangan.  (ahmad naufal/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.