Jalan Nasional Rusak Padahal Baru Berumur 1 Bulan, Anggaran Proyek Peningkatan Jalan Rp 18,39 M
Ani Susanti March 21, 2026 04:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Sebuah jalan nasional rusak padahal baru berumur satu bulan.

Jalan yang dimaksud adalah Jalan Mauponggo–Ngera–Puuwada di Kabupaten Nagekeo.

Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur (NTT) mengatakan, laporan kerusakan ruas jalan yang sebelumnya dikeluhkan warga sudah diatasi.

Kerusakan terjadi di sejumlah titik pada segmen Mauponggo–Puuwada 1 sepanjang dua kilometer.

Retakan kecil serta penurunan kualitas permukaan jalan sempat memicu kekhawatiran masyarakat yang setiap hari bergantung pada akses tersebut -mulai dari petani, pelajar, hingga pedagang kecil.

Baca juga: BMKCTR Lamongan Percepat Perbaikan Jalan Rusak Kejar Kelancaran Mudik Lebaran 2026

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah IV NTT, Wilhelmus Sugu Djawa menjelaskan, kerusakan terjadi saat proyek masih dalam tahap pelaksanaan, atau sebelum proses serah terima pertama (Provisional Hand Over/PHO).

“Saat ini sudah kami tangani dan kondisinya kembali baik,” ujar Wilhelmus, Sabtu (21/3/2026), melansir dari Kompas.com.

Ia menyebutkan, proyek peningkatan jalan tersebut merupakan bagian dari dua paket pekerjaan dalam Program Inpres Jalan Daerah Tahun Anggaran 2025 di Kabupaten Nagekeo, dengan total nilai kontrak mencapai Rp 18,39 miliar.

Paket pertama adalah preservasi Jalan Mauponggo–Ngera–Puuwada 1 sepanjang dua kilometer yang dikerjakan oleh CV Ratu Orzora dengan nilai Rp 9,11 miliar.

Sementara paket kedua, dengan panjang yang sama, dikerjakan oleh CV Anugerah Cipta Jaya dengan nilai Rp 9,28 miliar.

Kedua paket tersebut berada di bawah pengawasan konsultan supervisi PT Maha Charisma Adiguna.

Untuk paket pertama, kontrak dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dimulai pada 26 November 2025. Pekerjaan dinyatakan selesai dan dilakukan PHO pada 11 Maret 2026, dengan masa pemeliharaan selama satu tahun hingga 11 Maret 2027.

Selama masa pelaksanaan, ditemukan kerusakan pada beberapa titik, yang menurut Wilhelmus terjadi akibat cuaca ekstrem sejak akhir 2025.

Atas temuan tersebut, penyedia jasa CV Ratu Orzora telah melakukan perbaikan sebagai bagian dari pemenuhan standar mutu sebelum PHO dilaksanakan. Kini, kata dia, ruas jalan tersebut telah kembali mulus dan dapat dimanfaatkan masyarakat secara optimal.

Dievaluasi

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, Richard Manukoa menegaskan, setiap temuan kerusakan menjadi bagian dari evaluasi yang wajib segera ditindaklanjuti.

“Sudah ditangani dan sekarang kondisinya baik dan mulus,” kata Richard.

Richard menambahkan, perbaikan dilakukan oleh kontraktor sebagai bentuk tanggung jawab, mengingat proyek masih berada dalam masa pelaksanaan.

Tanggung jawab tersebut tidak berhenti pada penyelesaian administratif, tetapi juga mencakup fase pascapekerjaan untuk memastikan kualitas jalan tetap terjaga.

Richard juga mengungkapkan, sejak awal proyek berjalan, pihaknya telah melibatkan Kejaksaan Tinggi NTT dalam pengawasan.

Selain itu, audit akan dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan NTT setelah Lebaran.

“Kami memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan dan tidak ada niat untuk mengambil keuntungan pribadi dari proyek ini,” ujar Richard.

Baca juga: Jalan Rusak Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Bondowoso Bergerak Tambal Jalan Secara Swadaya

Richard berharap masyarakat dapat kembali memanfaatkan jalan tersebut dengan aman dan nyaman, sehingga distribusi hasil pertanian dan aktivitas sehari-hari dapat berjalan lancar tanpa hambatan.

Sebelumnya, warga Desa Ngera dan Lewa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, sempat mengeluhkan kondisi jalan yang baru selesai dibangun pada akhir 2025 namun sudah mengalami kerusakan.

Jalan nasional sepanjang sekitar empat kilometer itu merupakan akses vital yang menghubungkan Kecamatan Mauponggo dan Keo Tengah, serta melayani lima desa dengan jumlah penduduk sekitar 7.000 jiwa.

Berita Lain

Aksi swadaya menambal jalan berlubang di Bondowoso terus berlanjut. 

Salah satunya adalah inisiatif masyarakat dalam memperbaiki jalan penghubung Desa Baratan–Kembangan pada Selasa (3/3/2026).

Menurut seorang warga berinisial AM, perbaikan jalan ini menggunakan dana swadaya masyarakat sebesar Rp10 juta yang dikumpulkan melalui donasi sukarela.

Dana tersebut digunakan untuk memperbaiki jalan penghubung Desa Baratan menuju Desa Kembangan, Ardisaeng, dan Sumberdumpyong pada Selasa (3/3/2026) pukul 19.30 WIB.

"Kami warga Desa Kembangan berinisiatif memperbaiki jalan ini sendiri," katanya.

Ia menjelaskan bahwa jalan poros ini sebenarnya berada di wilayah Desa Baratan dan Sumberwaru.

Namun, warga Desa Kembangan berinisiatif memperbaikinya karena merupakan akses satu-satunya menuju desa mereka.

Baca juga: Warga Adang Bupati Protes Jalan Rusak dan Minta Tak Dikira Bodoh, Pemda Sebut Tak Berwenang Perbaiki

Aksi serupa terjadi di Desa/Kecamatan Binakal. Seorang warga berinisial WA mengatakan telah melakukan penambalan jalan mulai dari depan puskesmas hingga Kantor Desa Binakal.

Anggaran penambalan diperoleh dari swadaya warga. Secara nominal terkumpul sekitar Rp200 ribu, namun banyak warga yang menyumbangkan material berupa pasir, batu koral, dan semen.

"Perbaikan ini bekerja sama dengan pihak desa juga. Karena setiap tahun digelar bazar, banyak UMKM dan pembeli yang melintas. Apalagi sekarang musim hujan dan jalanan berlubang, sehingga kami berinisiatif bersama Pemdes dan Bhabinkamtibmas," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa penambalan jalan ini murni bentuk kepedulian terhadap fasilitas publik. Warga juga mengaku memahami kondisi efisiensi anggaran pemerintah saat ini.

Sementara itu, di kawasan Kecamatan Bondowoso, tepatnya di Jalan H.O.S. Cokroaminot relawan dari berbagai komunitas seperti Makelar Akhirat dan Suara Rakyat Bondowoso (SRB) juga bahu-membahu menambal jalan.

Koordinator Relawan, Yusdeni Lanasakti, menyebutkan bahwa lubang jalan ditemukan di sepanjang 2,5 km jalur tersebut dengan diameter bervariasi antara 30 cm hingga 1,5 meter.

"Sepanjang jalan itu yang kami tambal lubangnya. Kira-kira sepanjang 2,5 kilometer," ujarnya.

Anggaran penambalan ini berasal dari iuran relawan hingga terkumpul sekitar Rp7 juta.

Selain uang tunai, ada pula bantuan berupa material koral serta peminjaman peralatan penambalan.

Yusdeni menjelaskan aksi ini dipicu oleh banyaknya pengendara yang jatuh, termasuk seorang ibu yang membonceng anaknya.

Kerawanan ini dinilai sudah pada level yang membahayakan keselamatan jiwa. Pihaknya tidak mengetahui kendala apa yang dihadapi pemerintah, namun relawan hanya ingin bergerak membantu sebagai bagian dari masyarakat.

"Cuma ingin membantu," pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.