Misteri 'Atlantis Jepang': Monumen Yonaguni, Karya Manusia atau Alam?
GH News March 21, 2026 05:11 PM
Jakarta -

Di dasar laut dekat pulau Yonaguni, Jepang, terbentang struktur batu raksasa yang menyerupai tangga dan piramida. Formasi ini, yang dikenal sebagai Yonaguni Monument, telah lama memicu perdebatan di kalangan ilmuwan.

Apakah situs tersebut jejak peradaban kuno yang tenggelam, atau sekadar hasil proses geologi yang luar biasa?

Banyak peneliti menilai formasi tersebut kemungkinan besar terbentuk secara alami. Hingga kini, asal-usul struktur yang dikenal sebagai masih menjadi topik diskusi dalam kajian geologi dan arkeologi bawah laut.

Dilansir dari BBC, struktur ini pertama kali ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang penyelam lokal pada 1980-an dan sejak itu menjadi salah satu situs penyelaman paling terkenal di Jepang.

Ditemukan Secara Tak Sengaja

Penemuan Yonaguni Monument bermula pada 1986 ketika penyelam bernama Kihachiro Aratake sedang menjelajahi perairan sekitar Pulau Yonaguni untuk mencari lokasi baru bagi wisata selam.

Di kedalaman sekitar 25 meter, Aratake melihat formasi batu besar dengan permukaan datar dan sudut-sudut tajam yang tampak seperti tangga atau teras bertingkat. Ia kemudian melaporkan temuannya kepada para ilmuwan untuk diteliti lebih lanjut.

"Sekitar 35 tahun lalu, saat saya sedang mencari titik penyelaman, saya menemukannya secara tidak sengaja," ujar Aratake, dalam wawancara dengan BBC pada 2022.

Ia juga menambahkan, "Saya sangat emosional ketika menemukannya. Saat menyadari penemuan itu, saya tahu ini akan menjadi harta bagi Pulau Yonaguni."

Sejak saat itu, lokasi tersebut menjadi daya tarik bagi penyelam dari berbagai negara yang ingin melihat langsung struktur batu misterius di dasar laut.

Diduga Terbentuk dari Proses Alam

Meski bentuknya tampak seperti bangunan buatan manusia, banyak ahli geologi berpendapat struktur tersebut kemungkinan merupakan hasil proses alam.

Beberapa peneliti menjelaskan batuan di wilayah tersebut memiliki bidang perlapisan (bedding planes) dan retakan alami (joints). Kombinasi keduanya, ditambah aktivitas tektonik dan erosi laut, dapat menghasilkan bentuk geometris seperti sudut tajam dan permukaan datar.

Ketika terkena erosi laut dan aktivitas tektonik, lapisan batu tersebut dapat membentuk pola yang terlihat seperti tangga atau dinding. Karena itu, sebagian ilmuwan menilai struktur tersebut lebih masuk akal dijelaskan sebagai formasi geologi alami dibandingkan peninggalan arsitektur kuno.

Fenomena serupa juga ditemukan di berbagai belahan dunia, menunjukkan bahwa pola geometris bukan hal yang mustahil dalam proses alami.

Namun, keindahan visual tersebut justru memunculkan perdebatan ilmiah yang belum usai hingga kini. Terlepas dari perdebatan ilmiah yang masih berlangsung, Yonaguni Monument kini menjadi salah satu daya tarik utama Pulau Yonaguni.

Dilansir dari situs resmi Japan Travel, pulau yang terletak di Prefektur Okinawa ini dikenal sebagai destinasi selam dengan pemandangan bawah laut unik. Banyak penyelam datang untuk menyaksikan langsung struktur batu besar yang sering dijuluki sebagai "kota bawah laut" Yonaguni.

Selain menarik wisatawan, keberadaan situs juga terus memicu penelitian tentang bagaimana proses alam dapat menciptakan bentuk yang tampak menyerupai karya manusia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.