Tribunlampung.co.id, Lampung Selatan - Pagi itu, Sabtu (21/3/2026), suasana Pelabuhan Bakauheni masih dipenuhi pemudik yang datang dan pergi. Di antara deretan kursi tunggu, seorang gadis muda duduk bersama adiknya yang masih kecil.
Sesekali ia menoleh ke arah dermaga, menunggu kapal yang akan membawa mereka menyeberang.
Bagi banyak orang, perjalanan mudik biasanya dilakukan beberapa hari sebelum Lebaran. Namun bagi Anzar, warga Sukarame, Bandar Lampung, mudik tepat di hari H Idul Fitri justru memberi pengalaman yang berbeda.
Saat ditemui Tribunlampung.co.id di Pelabuhan Bakauheni, gadis berusia 25 tahun itu sedang menunggu kedatangan kapal, di kursi tunggu bersama adiknya, untuk menyeberang menuju Pelabuhan Merak.
Sambil menunggu, ia bercerita tentang alasan mengapa baru berangkat mudik pada hari pertama Lebaran.
Baca juga: Hindari Kepadatan, Pemudik Asal Lampung Pilih Mudik di Hari Lebaran
Ia mengaku sudah kali kedua melakukan perjalanan mudik bertepatan pada hari H Idul Fitri.
Kali ini, setelah melaksanakan salat Id, Anzar lebih dulu merayakan Lebaran bersama orang tuanya di Lampung sebelum bertolak menuju Serang untuk mengunjungi kakek dan neneknya.
"Tadi pagi Lebaran dulu di rumah sama orang tua. Karena orang tua tahun ini tidak bisa ikut mudik, jadi saya dan adik saya saja yang jadi perwakilan keluarga dari Lampung ke Serang," ungkap Anzar, Sabtu (21/3/2026).
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan kendaraan pribadi bersama keluarga besar, tahun ini Anzar memilih menjadi pejalan kaki.
Menurutnya, mudik hanya berdua dengan sang adik terasa lebih seru dan praktis jika menggunakan transportasi umum seperti kapal feri yang menghubungkan Bakauheni dan Merak.
Satu di antara hal yang menurutnya paling menarik adalah suasana mudik tepat di hari H Lebaran. Meski berada di tengah perjalanan, nuansa hari kemenangan tetap terasa kuat.
Para pemudik yang melintas masih mengenakan pakaian Lebaran, sementara musik tematik Idul Fitri terdengar diputar di area pelabuhan.
"Menurutku seru banget, soalnya orang-orang yang mudik hari H biasanya masih pakai baju Lebaran. Jadi suasana Lebarannya masih sangat terasa meskipun kita lagi di kapal bareng penumpang lain," ucapnya.
Meski mengakui membawa kendaraan pribadi akan lebih nyaman jika membawa banyak barang, Anzar merasa mudik tanpa kendaraan tetap menyenangkan selama barang bawaan tidak berlebihan.
Perjalanan kali ini menjadi pengalaman keduanya merayakan suasana Lebaran di tengah perjalanan penyeberangan antar-pulau.
"Rencananya nggak lama-lama sih di Serang. Setelah lebaran dan ramah tamah keluarga langsung pulang ke Lampung hari Minggu mendatang untuk menghabiskan liburan dan bersiap kembali ke rutinitas biasanya," tutup Anzar.
(TRIBUNLAMPUNG.CO.ID/Fajar Ihwani Sidiq)