Tradisi Ngapungkeun Balon Hari Lebaran di Garut, Bukan Sekadar Warisan Turun-Temurun
Kemal Setia Permana March 21, 2026 07:47 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Garut, Sidqi Al Ghifari 

TRIBUNJABAR.ID, GARUT - Setiap tahun, suasana Lebaran di Garut tak hanya diwarnai silaturahmi dan hidangan khas, tetapi juga kemeriahan tradisi menerbangkan balon raksasa yang telah berlangsung secara turun-temurun.

Tradisi yang dikenal dengan 'Ngapungkeun Balon' itu menjadi momen yang paling dinanti warga, khususnya di Kampung Panawuan, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

"Tradisi ini sudah ada sejak tahun 1960-an, sebagai wadah silaturahmi antar warga," ujar salahsatu penggerak Atep (41) kepada Tribun, Sabtu (21/3/2026).

Ia menuturkan balon-balon berukuran besar tersebut biasanya mulai diterbangkan sejak pagi hari setelah pelaksanaan Salat Id.

Warga juga memperhatikan aspek keselamatan, yakni balon diterbangkan menggunakan asap dari pembakaran minyak tanah sebagai pengisi udara panas, tanpa membawa api langsung sehingga dinilai lebih aman.

Warga terlihat berbondong-bondong menuju lapangan atau area terbuka untuk menyaksikan balon berwarna-warni itu perlahan mengudara.

Kegiatan itu ungkap Atep, tidak hanya dilakukan di satu kampung, tapi juga diikuti oleh setiap rukun warga di wilayah Panawuan.

Baca juga: Selain Warga yang Datang untuk Bersilaturahmi dan Berfoto, Tokoh Agama Juga Hadir di Pakuan

"Mereka saling unjuk kreativitas, dari mulai ukuran hingga corak balon yang dibuat sedemikian unik," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahan yang digunakan pun beragam, mulai dari kertas telur, kertas wajit, hingga kertas minyak yang disatukan menggunakan lem aci.

Dalam prosesnya, satu balon biasanya dikerjakan oleh sekitar lima orang dalam waktu satu malam, bahkan saat diterbangkan pun masih ada yang berjaga untuk menambal jika terdapat bagian yang bocor.

"Ini 100 persen bahannya kertas dan dii tahun ini di titik ini ada 4 balon, total diseluruh titik penerbangan ada 20 an balon," ucapnya.

Selain itu, biaya pembuatan satu balon bisa mencapai sekitar Rp700 ribu yang diperoleh dari iuran warga dan donatur. 

Pengumpulan dana biasanya sudah dilakukan sekitar 10 hari sebelum Lebaran. 

Bahkan, kata dia, pernah suatu tahun warga tidak menerbangkan balon lantaran tidak tersedianya biaya.

Baca juga: Sehari Bisa Raup Cuan Hingga Rp100 Ribu, Alasan Penyapu Koin di Pantura Subang Tetap Beraksi

Hal itu kemudian menuai keluhan dari masyarakat, sehingga akhirnya tradisi tersebut kembali dihidupkan melalui swadaya masyarakat.

"Jadi ini sudah melekat di masyarakat sudah jadi tradisi yang setiap tahun konsisten dilakukan," kata Atep.

Pantauan Tribun di lokasi, warga tampak berbondong-bondong memadati lapangan dan sejumlah area terbuka sejak pagi hari untuk menyaksikan balon-balon berwarna-warni yang perlahan mengudara.

Suasana semakin semarak dengan antusiasme masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, yang turut menantikan momen balon terbang ke langit.

Di sisi lain, persiapan penerbangan balon dilakukan secara gotong royong. Warga mulai menyiapkan tungku api yang menjadi sumber panas utama, dengan menambalnya menggunakan tanah dan kaleng agar lebih kokoh dan mampu menahan panas. 

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan aliran udara panas dapat masuk secara maksimal ke dalam balon, sehingga balon dapat mengembang sempurna sebelum akhirnya dilepaskan ke udara.

Raden Syakira Salwa (18) mengaku cukup senang setiap tahun bisa menyaksikan langsung tradisi tersebut.

Selain menjadi hiburan, kegiatan ini juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga.

"Senang bisa kumpul bareng di lapangan sama warga lain, apalagi momen Lebaran. Jadi bukan cuma nonton balon, tapi sekalian silaturahmi juga," katanya. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.