Isi Jatah Menu Tahanan KPK di Lebaran 2026, Istri Noel Ebenezer Beberkan Isi Kotak Makan
Torik Aqua March 21, 2026 08:14 PM

 

TRIBUNJATIM.COM - Isi menu jatah makanan rumah tahanan (rutan) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di momen Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.

Momen Lebaran ini dimanfaatkan oleh keluarga untuk menjenguk tahanan di rutan KPK untuk melepas rindu.

Hal tersebut juga dilakukan oleh istri mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel, Silvia Rinita Harefa.

Setelah menjenguk, Silvia membeberkan isi menu makanan yang didapat oleh suaminya.

Menu itu juga didapat para tahanan di Rutan KPK Cabang Gedung Merah Putih, Jakarta Selatan, Sabtu (21/3/2026).

Baca juga: Isu Gus Yaqut Tak Terlihat di Rutan KPK Dibocorkan Istri Noel Ebenezer, Sebut Tahanan Curiga

Berdasarkan pantauan wartawan Tribunnews.com, Ilham Rian Pratama di lokasi, Silvia keluar dari Rutan KPK sekitar pukul 13.09 WIB.

Dia menenteng kantong plastik merah dan sebuah kotak makan berbahan karton putih.

Kepada awak media, ia secara blak-blakan membuka kotak tersebut untuk menunjukkan menu standar yang didapatkan oleh para tahanan di dalam rutan.

Dari dalam kotak, terlihat porsi makanan yang terdiri dari bungkusan nasi, semangkuk plastik kecil berisi sayur bening dengan isian wortel dan buncis, sebutir buah jeruk, serta telur balado.

"Ini boleh nih kita lihat ya. Coba nih lihat. Tuh, ada sayur, nasi, buahnya terus sama apa... telur," ucap Silvia seraya menunjukkan isi kotak makanan tersebut.

Menariknya, makanan rutan tersebut ternyata sengaja tidak dikonsumsi oleh para tahanan pada hari perayaan ini.

Silvia mengungkapkan bahwa sang suami justru menyuruhnya untuk membawa pulang jatah makanan itu agar pihak keluarga tahu apa yang mereka makan sehari-hari.

"Enggak (dimakan tahanan), disuruh bawa biar merasakan katanya keluarga makanannya," ungkapnya santai.

Sebagai gantinya, para tahanan menyantap hidangan khas Lebaran yang dibawakan langsung oleh pihak keluarga dari luar.

Silvia menceritakan para keluarga tahanan bahkan sudah berkoordinasi satu sama lain agar menu yang dibawa bisa saling melengkapi untuk dinikmati bersama di dalam rutan.

"Memang dari koordinatornya di grup, masing-masing keluarga bawa. Ada yang semur, snack, buah-buahan. Aku kebetulan kebagian dapat sayur dan ketupat," jelas Silvia.

Ia menambahkan bahwa tidak ada permintaan khusus dari suaminya, asalkan makanan tersebut merupakan hidangan khas Lebaran.

Lantaran banyaknya keluarga yang datang menjenguk secara bersamaan, ia sempat menyeletuk bahwa kondisi di dalam rutan terasa sangat panas.

Adapun kunjungan ini merupakan bagian dari kelonggaran dan layanan khusus dari KPK untuk menghormati hak beragama para tahanan pada momen perayaan Idulfitri.

Silvia membeberkan bahwa durasi kunjungan tatap muka kali ini terasa lebih leluasa.

"Dari jam 10 sampai jam 1. Jadi kalau hari raya, dilebihkan satu jam dari hari biasa," katanya.

Di dalam rutan, suasana kunjungan diwarnai dengan obrolan hangat seputar kabar dan keadaan keluarga masing-masing.

Kasus Gratifikasi

Sebagai informasi, Immanuel Ebenezer alias Noel saat ini berstatus sebagai tahanan KPK dan tengah menjalani proses persidangan.

Ia didakwa atas kasus dugaan penerimaan gratifikasi dan pemerasan terkait penerbitan serta perpanjangan sertifikasi lisensi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) selama menjabat sebagai Wamenaker pada periode Oktober 2024 hingga Agustus 2025.

Terlepas dari proses hukum yang sedang berjalan, Silvia memastikan kondisi suaminya terpantau baik pada hari raya ini.

"Pada sehat sih. Kelihatan sehat," ujarnya.

Profil Singkat Wamenaker Terjaring OTT KPK

Ebenezer merupakan politikus Partai Gerindra.

Pria bernama lengkap Immanuel Ebenezer Gerungan atau yang kerap disapa Noel ini mulai dikenal luas setelah menjadi pendukung militan pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Ketika itu, dia dikenal sebagai bagian dari relawan Joman.

Noel akhirnya menjabat sebagai Ketua Umum Relawan Joman.

Dikutip dari Kompas.com, pada Pilpres 2024, Noel mulanya menyatakan dukungan Jokowi Mania untuk Ganjar Pranowo sebagai bakal calon presiden (capres).

Bahkan, dukungan tersebut sempat memunculkan relawan Ganjar Mania.

Namun, pada saat itu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) belum mengumumkan bakal capres yang akan diusung pada Pilpres 2024.

MURKA -  Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker) Immanuel Ebenezer murka saat hendak mengakhiri polemik dugaan ijazah ditahan di perusahaan pengusaha di Surabaya Jan Hwa Diana pada Kamis, (17/4/2025).
MURKA - Wakil Menteri Tenaga Kerja (Wamenaker) Immanuel Ebenezer murka saat hendak mengakhiri polemik dugaan ijazah ditahan di perusahaan pengusaha di Surabaya Jan Hwa Diana pada Kamis, (17/4/2025). (TribunJatim.com/Nurarini Faiq)

Akibatnya, sempat terjadi ketegangan antara Relawan Jokowi Mania dengan sejumlah politikus PDI-P.

Setelah itu, secara tiba-tiba, dukungan Jokowi Mania beralih kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai bakal capres.

Apalagi, setelah putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka secara resmi mendampingi Prabowo sebagai bakal calon wakil presiden (cawapres).

Hingga akhirnya, Noel membubarkan relawan Ganjar Mania dan membentuk relawan Prabowo Mania 08.

Sejak saat itu, pria kelahiran 22 Juli 1975 ini turut berjuang memenangkan pasangan Prabowo-Gibran pada Pilpres 2024.

Pada saat yang sama, Noel bergabung dengan Partai Gerindra.

Bahkan, dia maju sebagai calon anggota legislatif (caleg) pada Pemilihan Legislatif (Pileg) 2024.

Maju sebagai caleg dari daerah pemilihan (dapil) Kalimantan Utara, Noel meraup 29.786 suara. Tetapi, dia tidak berhasil lolos sebagai wakil rakyat di Senayan.

Baca juga: Tangis Buruh Pabrik Odol Mengabdi 40 Tahun Dapat Pesangon Cek Bodong, Wamenaker Ngamuk

Kena OTT KPK

“Benar,” kata Wakil Ketua KPK Fitroh Rohcahyanto, saat dikonfirmasi Kompas.com, Kamis (21/8/2025).

Meski demikian, Fitroh belum menyampaikan kasus korupsi yang menjerat Noel.

“Nanti akan disampaikan,” ujar dia.

Sebanyak 10 orang diamankan KPK dalam OTT tersebut. 

Baca juga: Sosok Santi Bos Travel Bikin Wamenaker Geram, Ditemui Malah Terbang ke Jepang, Perusahaannya Disegel

Pernah Murka Sidak Pabrik Jan Hwa Diana

Sebelum terjaring OTT KPK, Immanuel Ebenezer menjadi sorotan saat sidak perusahaan milik Jan Hwa Diana.

Kala itu, pabrik Jan Hwa Diana tengah disoroti karena polemik penahanan ijazah karyawannya.

Wamenaker turun tangan menyidak pabrik Diana untuk mengakhiri polemik tersebut namun tak membuahkan hasil.

Bahkan, Wamenaker dibuat murka.

Kala itu, Wamenaker Immanuel tak bisa menahan kecewa atas ulah tidak kooperatif Diana, selaku owner UD Sentoso Seal, perusahaan penyedia spare part kendaraan.

Tanda-tanda tidak kooperatif Diana itu, sudah dirasakan saat Wamenaker yang mewakili negara bersama Wawali Surabaya Armuji mewakili pemerintahan setempat tiba di lokasi perusahaan, di pusat pergudangan Margomulyo Surabaya.

Begitu Wamenaker tiba, Diana tidak tampak.

Bahkan, Immanuel dan Cak Ji harus menunggu untuk masuk ke tempat perusahaan itu, meski tidak melalui pintu utama.

Diana pun tak datang menyambut, hanya petugas dan staf Diana yang membukakan pintu.

Mereka lantas mengantarkan perwakilan pemerintah itu ke salah satu lorong.

Dengan tetap berdiri, Diana bersama suaminya baru menemani Wamenaker.

Setelah beberapa saat keliling di sejumlah lorong, perwakilan pemerintah dan pelaku industri itu bertemu untuk mengklarifikasi soal penahanan ijazah.

Khusus untuk pertemuan tersebut, hadir pula Kapolrestabes Surabaya Kombespol Lutfi Sulistiyawan.

Kedatangan perwakilan negara yang lengkap itu, ternyata tetap tidak membuat Diana memberi keterangan dengan baik.

"Tidak kooperatif. Kita sebagai negara tidak dihargai. Saya pikir Pak Wawali saja yang tidak dihargai. Saya juga tidak dihargai," kesal Wamenaker Immanuel dengan nada kecewa, dikutip dari Kompas.com.

Dalam pertemuan dengan Diana dan manajemen, Wamenaker melihat ada yang janggal dan ditutup-tutupi.

Baca juga: Wamenaker Murka sampai Tunjuk Pegawai saat Sidak Perusahaan, Mau Temui Bos Tak Digubris: Kurang Ajar

Dia datang sebagai kewajiban negara harus hadir agar industrial tetap harmonis, lanjut Wamenaker, agar hak-hak karyawan tidak dilanggar.

Namun, nyatanya di luar dugaan. Immanuel meminta menjadi pelajaran bagi industrial yang lain agar jangan menahan ijazah.

Menahan ijazah itu pelanggaran yang tidak bisa ditoleransi.

Diana dianggap selalu berkelit, mengaku tidak kenal karyawan dan sebagainya.

Perwakilan negara ini pun meminta kasus ini akan dikawal secara hukum, dan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada penegak hukum, sebab indikasinya jelas, Perda harus ditegakkan.

Bahwa kasus ini akan dikawal secara hukum dan pihaknya menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian.

Saat disinggung soal gaji UMR hingga pemotongan gaji karyawan karena shalat Jumat, "Jawaban saya, ini biadab. Negara sudah mengatur terkait kegiatan beribadah," tegas Immanuel.

Dalam kesempatan berbeda, Jan Hwa Diana juga enggan menanggapi atas sidak yang dilakukan Wamenaker.

"Saya sudah malas, no comment," kata Diana.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.