TRIBUNNEWSBOGOR.COM - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Arif Satria menyampaikan pesan mendalam terkait dampak masalah geopolitik belakangan ini dan hikmahnya di Hari Raya Idul Fitri 2026.
Hal itu dia sampaikan saat dia menjadi khotib gelaran salat Idul Fitri 1447 Hijriah yang dihadiri ribuan warga di Kebun Raya Bogor, Kota Bogor, Sabtu (21/3/2026).
Prof Arif menjabarkan soal prinsip-prinsip di dunia Islam yang sangat relevan di masyarakat hingga sekarang.
Seperti prinsip keseimbangan, keadilan, toleransi dan yang lainnya.
Konsep-konsep tersebut, kata dia, memiliki nilai-nilai untuk membangun masyarakat.
Kemudian dia juga menyoroti konsep al islah yang disampaikan di hadapan ribuan jamaah salat id.
Apalagi hal itu juga dikaitkan dengan permasalahan yang merupakan dampak dari geopolitik dunia yang tak kondusif belakangan ini.
"Tapi yang jelas intinya konsep al islah, al islah itu adalah pembaruan, jadi kita sebagai bangsa Indonesia di tengah krisis hari ini karena faktor geopolitik maka dituntut oleh kita adalah bagaimana mengambul hikmah, kemudian melalukan al islah, pembaruan," kata Prof Arif Satria kepada wartawan.
Al Islah ini, kata Arif, dilakukan dengan inovasi-inovasi teknologi.
Apalagi berkaitan dengan energi yang bisa jadi menjadi persoalan ke depan akibat perang yang terjadi.
"Energi ini akan menjadi persoalan ke depan sehingga kita harus mengantisipasi dari sekarang dengan menemukan sumber-sumber energi baru terbarukan dan kemudian ini menjadi kedaulatan energi kita," kata Prof Arif.
Dia menjelaskan bahwa, Perang Dunia II telah banyak melahirkan temuan-temuan baru.
Temuan-temuan baru itu dikatakan lahir berawan dari krisis.
"Jadi oerang dunia kedua itu banyak temuan-temuan yang baru, banyak inovasi-inovasi baru seperti radar, komputer dan sebagainya. Jadi setiap krisis itu di baliknya ada hikmah," kata Prof Arif.
"Oleh karena itu kita harus berpikir positif dengan adanya krisis kemudian membuat kita terdorong menciptakan inovasi dan teknologi baru utnuk menyelesaikan itu, termasuk tadi untuk masalah teknologi, masalah lingkungan, ekonomi dan juga sosial," ungkapnya.