Blokade Selektif Iran di Selat Hormuz Dinilai Picu Ketidakpastian Energi Global
Garudea Prabawati March 21, 2026 10:38 PM

 

TRIBUNNEWS.COM - Kebijakan blokade selektif oleh Iran di Selat Hormuz dinilai menimbulkan ketidakpastian dalam rantai pasokan energi global. 

Negara-negara yang bergantung pada jalur ini kini harus bernegosiasi langsung dengan Teheran untuk memastikan akses.

Langkah ini juga meningkatkan risiko politisasi jalur perdagangan internasional, di mana akses ditentukan oleh posisi geopolitik masing-masing negara.

Sejumlah negara, termasuk sekutu AS, mulai mendesak Iran agar membuka jalur pelayaran vital tersebut.

Di sisi lain negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Inggris bersama beberapa negara lain telah menyatakan kesiapan untuk memastikan keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Selain itu, negara-negara seperti China, India, dan Pakistan dilaporkan telah melakukan komunikasi langsung dengan Iran.

Tekanan diplomatik ini menunjukkan meningkatnya kekhawatiran global terhadap dampak konflik terhadap jalur perdagangan vital dunia.

Baca juga: Rusia Dukung Iran, Putin Tegaskan Tetap Jadi Teman Setia dan Mitra yang Dapat Diandalkan

Beberapa Kapal yang Diperbolehkan Melintasi Selat Hormuz

Iran telah mengizinkan kapal beberapa negara 'istimewa', untuk bisa melintasi Selat Hormuz.

Diketahui Selat Hormuz, merupakan salah satu jalur maritim terpenting di dunia, di mana aktivitas di lokasi tersebut terdampak usai Amerika Serikat (AS)-Israel serang Iran.

Termasuk kapal-kapal dari China, India, Pakistan, Malaysia, dan Irak, untuk mengamankan jalur pelayaran aman bagi kapal-kapal mereka 

Menurut laporan Lloyd's List, setidaknya sembilan kapal telah meninggalkan selat tersebut melalui koridor yang membawa mereka melewati perairan Iran di sekitar Pulau Larak, tempat pihak berwenang dapat memantau pergerakan kapal.

Di antara kapal-kapal tersebut terdapat kapal-kapal dari India dan Pakistan, yang menunjukkan pola navigasi yang semakin meningkat di wilayah tersebut.

“Terdapat pola yang jelas dan mudah dikenali dari beberapa kapal yang melintas,” kata Richard Meade, pemimpin redaksi Lloyd's List , dalam sebuah wawancara, mengutip Al Mayadeen, Sabtu (21/3/2026).

Sementara itu Windward, sebuah badan intelijen maritim, juga melaporkan adanya kapal-kapal yang meninggalkan Teluk melalui perairan teritorial Iran.

Yang berlayar di sepanjang garis pantai daripada melalui jalur navigasi internasional standar.

Perusahaan pelayaran dilaporkan telah berkomunikasi dengan pejabat Iran melalui saluran tidak langsung, termasuk melalui anggota diaspora Iran. 

Demikian pula menurut analisis Financial Times mengatakan Iran hanya membuka kapal-kapal yang diistimewakan.

Manuver ini menandakan pergeseran dalam pengelolaan lalu lintas maritim di salah satu titik rawan energi paling penting di dunia.

Kapal-kapal tersebut mencakup campuran kapal tanker minyak dan kapal pengangkut barang curah dari India, Pakistan, dan Yunani, bersama dengan armada minyak Iran sendiri.

Sebagian besar kapal ini sebelumnya telah berlabuh di pelabuhan Iran, menunjukkan bahwa hubungan komersial sebelumnya mungkin memengaruhi keputusan untuk berlayar.

Data perkapalan menunjukkan bahwa kapal-kapal lain mungkin telah menempuh rute serupa tanpa mengaktifkan sistem pelacakan mereka.

Sehingga pergerakan mereka menjadi lebih sulit untuk dikonfirmasi dan menimbulkan kekhawatiran tentang transparansi di salah satu koridor maritim tersibuk di dunia.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka.

Menurutnya Selat Hormuz hanya tertutup bagi musuh yang melakukan agresi pengecut terhadap Iran.

(*)
 


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.