TRIBUNNEWS.COM, RIYADH – Angkatan bersenjata Arab Saudi menembak jatuh puluhan drone dalam beberapa jam pertama pada Sabtu pagi, ketika Iran meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk.
Eskalasi ini terjadi setelah pemboman Israel terhadap ladang gas South Pars milik Iran awal pekan ini.
Serangkaian unggahan Kementerian Pertahanan Saudi di platform X menunjukkan bahwa 51 serangan drone terfokus di Provinsi Timur, wilayah yang menjadi pusat ladang minyak dan kilang utama kerajaan.
Secara keseluruhan, 92 drone telah berhasil dicegat sejak Jumat.
Data terbaru mencatat, jumlah total serangan drone yang menargetkan Arab Saudi telah mencapai setidaknya 575 sejak 28 Februari, berdasarkan laporan resmi kementerian pertahanan.
Selain drone, sistem pertahanan udara Saudi juga mencegat 42 rudal balistik dan tujuh rudal jelajah dalam periode yang sama.
Hal ini menunjukkan bahwa serangan udara terhadap kerajaan berlangsung secara intens dan dengan berbagai jenis persenjataan.
Baca juga: Eskalasi Memanas, Arab Saudi Buka Peluang Aksi Militer terhadap Iran
Serangan Meluas ke Kawasan Teluk
Eskalasi konflik tidak hanya terjadi di Arab Saudi, tetapi juga meluas ke negara-negara Teluk lainnya.
Militer Kuwait menyatakan sistem pertahanan udaranya tengah merespons serangan rudal dan drone.
“Pertahanan udara Kuwait saat ini sedang merespons ancaman rudal dan drone yang bersifat bermusuhan,” demikian pernyataan resmi militer.
Bahrain melaporkan telah menghancurkan 143 rudal dan 242 drone sejak awal serangan Iran.
Tentara Yordania mengungkapkan bahwa 36 rudal dan drone Iran telah menargetkan wilayahnya selama pekan ketiga konflik.
Adapun Uni Emirat Arab menyatakan telah menghadapi tiga rudal balistik dan delapan drone pada Sabtu.
Secara keseluruhan, pertahanan udara UEA telah mencegat dan menghancurkan 341 rudal balistik, 15 rudal jelajah, dan 1.748 UAV sejak serangan dimulai.
Di Kuwait, dua gelombang serangan drone menghantam kilang Mina Al-Ahmadi—salah satu yang terbesar di Timur Tengah dengan kapasitas 730.000 barel per hari—yang memicu kebakaran, hanya sehari setelah serangan sebelumnya.
Selain itu, Kementerian Dalam Negeri Bahrain melaporkan kebakaran di sebuah gudang akibat serpihan proyektil yang berhasil dicegat. (Arabnews.com)