TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kepolisian menyiapkan skema rekayasa lalu lintas berupa one way lokal untuk mengantisipasi kepadatan saat arus balik Lebaran 2026.
Rencana ini mulai diberlakukan pada 23 Maret, dengan mempertimbangkan lonjakan volume kendaraan di jalan tol.
Baca juga: Jadwal Puncak Arus Balik Lebaran 2026, Bakal Diberlakukan One Way, Contra Flow, hingga Ganjil Genap
Kakorlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho mengatakan, kebijakan tersebut disiapkan berdasarkan peningkatan jumlah kendaraan selama periode mudik.
Tercatat, volume kendaraan naik dari 258 ribu menjadi 270 ribu kendaraan.
"Tentu kita antisipasi. Dari persentase-persentase tadi udah kita hitung," kata dia kepada wartawan, Sabtu (21/3/2026).
Ia menjelaskan, sekitar 66 persen kendaraan diprediksi berasal dari arah Trans Jawa.
Sedangkan 30 hingga 35 persen lainnya bergerak menuju wilayah Jawa Barat.
Kondisi ini menjadi perhatian utama dalam pengaturan lalu lintas saat arus balik.
"Terus yang dari Trans Jawa, kurang lebih hampir 66 persen, ini yang harus kita kelola," ujarnya.
Lebih lanjut, rekayasa lalu lintas akan dilakukan secara bertahap.
Pada tahap awal, one way lokal direncanakan diberlakukan dari KM 414 hingga KM 70.
"Bila perlu di tanggal 23 ini kami sudah lakukan one way lokal sepenggal tahap pertama," ucap dia.
Jika arus kendaraan masih tinggi, skema tersebut akan diperpanjang hingga KM 263 Pejagan.
Bahkan, rekayasa dapat kembali dilanjutkan hingga KM 70 apabila lonjakan kendaraan masih terjadi.
Selain itu, di sekitar KM 70 juga disiapkan skema contraflow.
Penerapannya bersifat situasional, bisa dimulai dari KM 70 hingga KM 55 atau bahkan diperpanjang sampai KM 36, menyesuaikan kondisi lalu lintas di lapangan.
"Sampai 70 karena dia menyempit, ketemu di 70, dan melebar nanti setelah ke 36 ke arah Jakarta, nanti akan kita persiapkan contraflow juga. Contraflow dari kilometer 70 sampai mungkin 55 atau mungkin sampai 36. Nanti kita lihat flow-nya tinggi atau tidak," pungkasnya.
Kasatgas Humas Operasi Ketupat 2026 Brigjen Tjahyono Saputro menyatakan Polri telah menyiapkan langkah antisipatif guna menghadapi peningkatan pergerakan masyarakat, termasuk fenomena bangkit mudik.
“Kami mengingatkan kembali imbauan Bapak Kapolri terkait potensi meningkatnya mobilitas masyarakat pasca Salat Idul Fitri. Untuk itu, Polri bersama seluruh jajaran meningkatkan kesiapan personel di lapangan, baik dalam pengaturan lalu lintas maupun pengamanan di titik-titik rawan kepadatan,” ujarnya dalam keterangan Sabtu (21/3/2026).
Ia menjelaskan, strategi pengelolaan arus balik akan dilakukan secara maksimal, serupa dengan penanganan saat arus mudik, agar perjalanan masyarakat tetap berjalan aman dan lancar.
Di sisi lain, masyarakat juga dianjurkan memanfaatkan kebijakan diskon tarif tol yang berlaku pada 26 hingga 27 Maret 2026.
Langkah ini dinilai dapat membantu mengurai kepadatan kendaraan dengan mendistribusikan waktu perjalanan.
“Kami juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan kebijakan Work From Anywhere atau WFA secara bijak, sehingga perjalanan arus balik dapat dilakukan secara bertahap dan tidak menimbulkan kepadatan yang berlebihan,” tambahnya.
Polri turut mencermati potensi kepadatan yang muncul dari kegiatan halal bihalal di berbagai daerah.
Untuk itu, personel telah disiagakan guna melakukan pengamanan dan pengaturan lalu lintas di titik-titik kegiatan masyarakat.
Selain itu, perhatian juga diberikan pada destinasi wisata, khususnya wisata air.
Masyarakat dan pengelola diminta untuk mematuhi batas kapasitas serta mengutamakan keselamatan guna mencegah terjadinya kecelakaan.
Lebih lanjut, Tjahyono menekankan bahwa keberhasilan Operasi Ketupat 2026 merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari TNI, kementerian terkait, pemerintah daerah, hingga masyarakat.