Iran Ambisi Ubah Selat Hormuz Jadi 'Gerbang Tol' Minyak Dunia, Tantang Dominasi AS
Rustam Aji March 22, 2026 07:29 AM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Pemerintah Iran memberikan sinyalemen kuat untuk mengakhiri supremasi Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah dengan mengajukan syarat perdamaian yang radikal.

Salah satu poin paling kontroversial adalah ambisi Teheran mengubah status Selat Hormuz menjadi "pos penagihan tarif tol" bagi setiap kapal yang melintas.

Ambisi ini muncul seiring klaim sepihak Teheran yang merasa berada di atas angin dalam peperangan yang telah memasuki minggu ketiga.

Iran berupaya memaksakan penyelesaian konflik kepada Washington demi mengamankan kendali mutlak atas sumber daya energi kawasan selama beberapa dekade ke depan.

"Iran akan mengubah posisinya dari negara yang dijatuhi sanksi menjadi kekuatan yang lebih besar di kawasan dan dunia. Kami akan menjatuhkan sanksi kepada kekuatan arogan tersebut," tegas Mohammad Mokhber, Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran bidang ekonomi, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Jumat (20/3/2026).

Ancaman terhadap Jalur Energi Dunia

Rencana penetapan status baru di Selat Hormuz diprediksi akan memicu guncangan hebat pada ekonomi global.

Sebagai urat nadi distribusi minyak dunia, kontrol penuh Iran atas jalur ini dipandang sebagai ancaman bagi negara-negara konsumen besar seperti China, India, dan Jepang.

Baca juga: Antisipasi Kebakaran Kapal,Tim Terpadu Maritim Juwana Perketat Patroli Hot Work di Sungai Silugonggo

Selain urusan tarif selat, Teheran juga menuntut ganti rugi perang dalam jumlah besar dari AS dan sekutunya, serta desakan pengusiran seluruh personel militer Amerika dari kawasan Timur Tengah.

Ketangguhan Militer dan Tekanan Ekonomi

Meski militer AS dan Israel mengeklaim telah menghancurkan banyak infrastruktur pertahanan Iran, Teheran terbukti masih mampu meluncurkan puluhan rudal balistik dan drone setiap hari.

Serangan tersebut dilaporkan telah menyebabkan kerusakan signifikan pada instalasi energi di Qatar, Arab Saudi, hingga Uni Emirat Arab.

Kondisi ini menempatkan Presiden AS Donald Trump dalam posisi sulit.

Lonjakan harga minyak dan gas akibat Konflik Iran AS 2026 mulai membebani ekonomi domestik Amerika, meski Trump sempat menyatakan melalui Truth Social bahwa membuka kembali selat tersebut adalah manuver militer sederhana.

Sikap Kaku Diplomasi Teheran

Namun, sejumlah pengamat meragukan efektivitas ambisi Iran tersebut.

Alex Vatanka dari Middle East Institute mengingatkan sejarah kaku diplomasi Iran yang sering kali melewatkan peluang gencatan senjata, yang justru berisiko memicu kehancuran lebih besar bagi mereka sendiri.

Baca juga: Gudang Pabrik Produsen Tepung di Jepara Terbakar, Kerugian Ditaksir Puluhan Juta Rupiah

"Sisi Iran memiliki sejarah tidak mengambil peluang, baik di garis depan diplomasi maupun militer," ujar Vatanka, merujuk pada rekam jejak Iran saat perang melawan Irak tahun 1980-an.

Di tengah ketidakpastian ini, Pentagon dilaporkan tetap mengirimkan ribuan personel tambahan Marinir ke wilayah tersebut, mengisyaratkan bahwa Washington tidak akan begitu saja membiarkan geopolitik Timur Tengah jatuh ke bawah kendali penuh Teheran.(danur)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.