Update:
- Perang terbuka di Selat Hormuz, Iran sudah memasuki hari ke-21 sejak dipantik kali pertama Amerika dan Israel, Sabtu (28/2/ 2026) lalu.
- Presiden Trump melalui Pentagon, kembali ajukan tambahan biaya perang senilai US$200 miliar (Rp3.391 triliun) ke parlemen Amerika, yang akan diputuskan pekan depan.
- Perang udara antara Iran vs Amerika-Israel diprediksi masih berlanjut hingga melewati momentum perayaan hari kemerdekaan Amerika, 4 Juli 2026 mendatang.
- bagi warga Iran, kecamuk perang lebih emosional dan spiritual sebab bertepatan dua momen perayaan besar, Idul Fitri 1447 HIjriyah dan Nowrus, Tahun Baru Persia 2026, akhir pekan ini.
Thamzil Thahir
Editor in Chief Tribun Timur
SAMPAI kapan perang di Selat Hormuz berakhir?
Hingga hari ke-22 perang militer terbuka pertama antara otoritas Republik Islam Iran vs Amerika Serikat dan sekutu setia Timur Tengahnya, Israel, belum terkonfirmasi pernyataan resmi.
Di Washington DC, akhir pekan ini, Presiden Donald Trump (76), justru baru mengajukan anggaran perang tambahan ke kongres.
Nominalnya, lebih lima kali lipat (USD 500 miliar) dari estimasi nominal kerugian (USD 28 miliar) sejak genderang perang ditabuh 28 Februari 2026 lalu.
Pengajuan ini bertepatan keputusan Trump dan Penatagon mengirim personel tambahan pasukan elite Marinir ke Timur Tengah.
Ambigu Trump juga terlihat di unggahan akun X-nya, Jumat (21/3).
Konglomerat pedagang-politisi Republik ini menyinggung Selat Hormuz harus dijaga bersama sebagai jalur vital transportasi sekitar seperlima aliran minyak dan gas global dan hampir tertutup sejak konflik dimulai.
Dia terbuka meminta bantuan militer negara-negara "pelintas".
"Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, jika perlu, oleh negara-negara lain yang menggunakannya — bukan Amerika Serikat! saja,” kata dia.
Baca juga: Sekjen MUI: Jangan Benturkan Sunni dan Syiah dalam Konflik Iran vs AS-Israel
Di Teheran, memanfaatkan momentum perayaan Nowruz 2026 (Tahun Baru Persia) dan Idul Fitri 1447 H, Jumat (20/3/2026), pemimpin tertinggi revolusi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei (57), berpidato virtual untuk menegaskan upaya perlawanan sengit militernya belumlah surut.
Putra Ayatollah Ali Khamenei (1939- 28/2/2026) ini justru memuji ketabahan semangat perang syahid dan meminta kesabaran kolektif 92,2 juta warganya.
"Musuh kita mulai retak. Ini saatnya kita memasuki tahun baru ekonomi perlawanan di bawah bendera persatuan dan keamanan nasional," ujarnya dalam siaran resmi negara, lansiran AlJazerah, Sabtu (21/3/2026).
Sejak wafatnya ayah dan enam elite spiritualis Iran, Mojtabah belum pernah tampil terbuka ke publik.
Media Amerika dan Israel mengabarkan sosok generasi ketiga pemimpin teologis Republik Islam Iran ini masih terluka pascainsiden bom terkontrol Israel, 3 pekan lalu.
Terpisah, Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menyampaikan pesan Nowruz, menegaskan kembali, negaranya tidak menginginkan senjata nuklir.
Ia juga mengulangi terus pernyataan Khamenei bahwa, Iran tidak mencari perang dengan negara-negara tetangganya.
Namun jika ada yang memulai, Iran takkan gentar.
Baca juga: Wamenlu RI: Perang AS-Israel dan Iran Berpotensi Panjang, Picu Krisis Energi
"Kesulitan kita adalah akibat campur tangan musuh. Tetangga-tetangga terkasih (Timur Tengah) yang mengelilingi kita, kalian adalah saudara-saudara kami. Kami datang untuk menyelesaikan semua perbedaan ini dengan kalian," kata Pezeshkian.
Analisis CSIS-BBC
Melansir laporan studi rigid dari Center for Strategic & International Studies (CSIS) dan analisis BBC, menyebutkan proposal tambahan alokasi anggaran perang Gedung Putih dan Pentagon senilai US$200 miliar (Rp3.391 triliun) yang akan diputuskan Parlemen AS, pekan depan.
Kalaulah proposal perang USD 200 miliar diterima, ini diprediksi mampu membiayai perang panjang hingga Agustus 2026, atau beberapa pekan usia perayaan Independent Day.
JIka anggaran perang tambahan itu dikonversi ke sejarah fiskal Indonesia, ini setara postur APBN 2024.
Saat itu, target belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.325,1 triliun.
Di pihak Amerika, ekses kerugian perang selama 19 hari, sejak Sabtu (28/2/2026) hingga Jumat (20/3/2026) sudah tembus US 28,1 miliar dolar atau setara Rp470 Triliun.
"Perlu uang untuk menumpas musuh," kata Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth Kamis (19/03) di Pentagon.
Dia menambahkan nominal proposal tersebut "masih dapat berubah."
Nominal ini, ternyata melampaui biaya setahun program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah Indonesia, Rp339 Triliun, dalam postur APBN 2026 ini.
CSIS menyebut tambahan alokasi ongkos tempur ini adalah analisa biaya dan kerugian dan kerusakan akibat perang selama 18 hari.
Melansir analisa dari CSIS yang dirangkum laporan Daniel Bush dan Alex Murray, dua koresponden BBC di Washington DC, Sabtu (21/3/2026), menyebut kerusakan akibat serangan balasan Iran hanya mencakup sebagian kecil dari keseluruhan biaya yang harus ditanggung AS untuk inisiatif perang terbuka tanpa notifikasi setuju dari Kongres.
Angka kerugian USD 28 miliar itu dikonfirmasi pejabat Departemen Pertahanan Amerika usai memberi penjelasan kepada para anggota Kongres bahwa enam hari pertama perang menelan biaya US$11,3 miliar (Rp191,6 triliun).
Adapun 12 hari pertama (28 Februari hingga 11 Maret) mencapai US$16,5 miliar (Rp279,7 triliun).
Lembaga Human Rights Activists News Agency (Hrana) yang berbasis di AS memperkirakan total korban tewas dari pihak Iran dan Israel dan militer telah mendekati 3.200 orang, termasuk 1.400 warga sipil.
AS juga telah kehilangan 13 personel militer sejak Presiden Donald Trump bergabung dengan Israel.
Analisis BBC menunjukkan sebagian besar kerusakan terjadi saat serangan balasan awal Iran, atau sepekan pertama pasca-Fury Epic Operation AS dan Israel.
Sejauh ini, gambaran lengkap mengenai kerusakan terhadap aset-aset AS di kawasan tersebut masih kabur dan belum sepenuhnya terkonfirmasi terbuka.
Namun, estimasi kerugian sebesar US$800 juta pada infrastruktur militer AS—angka yang lebih tinggi dibanding laporan sebelumnya—menggambarkan skala besarnya biaya tanggungan Washington seiring berlarutnya konflik.
BBC menulis, gelombang serangan Iran terhadap pangkalan-pangkalan militer yang digunakan Amerika Serikat di Timur Tengah menimbulkan kerusakan sekitar US$800 juta (Rp13,5 triliun) selama dua minggu pertama perang.
Bobot kerusakan terbesar ditimbulkan dari serangan atas sejumlah fasilitas radar militer AS yang menjadi bagian dari sistem pertahanan rudal Thaad di pangkalan udara Yordania.
Sistem radar AN/TPY 2 bernilai sekitar US$485 juta (Rp8,2 triliun), menurut telaah CSIS atas dokumen anggaran Departemen Pertahanan AS.
Sistem pertahanan udara itu digunakan untuk mencegat rudal balistik jarak jauh.
Serangan berulang ini menegaskan upaya keras Teheran membidik aset-aset spesifik milik AS.
Moskow dan Beijing bahkan dilaporkan mulai berbagi intelijen dengan Teheran mengenai keberadaan pasukan Amerika di kawasan semenanjung Timur Temgah.
Citra satelit menunjukkan tiga pangkalan udara—Pangkalan Ali Al Salim di Kuwait, Al Udeid di Qatar, dan Pangkalan Prince Sultan di Arab Saudi—mengalami kerusakan baru pada berbagai fase konflik.(zil)