Bawa THR Rp 50 Juta, Pemudik Lansia Ini Nyetir Mobil dari Jakarta-Sumatera, 2 Hari Tak Tidur
Galuh Palupi March 22, 2026 10:38 AM

 

TRIBUNTRENDS.COM - Inilah sosok Mulyadi (63) pemudik Jakarta-Sumatera yang rela tidak tidur dua hari demi pulang ke kampung halaman lagi bagi-bagi THR senilai Rp 50 juta.

Mulyadi berangkat mudik menggunakan mobil Mitsubishi Xpander dari Kawasan Kebun Jeruk, Jakarta Barat.

Ia bersama keluarga mudik menuju Sumatera Barat.

Di dalam mobil yang dikendarai Mulyadi, terdapat lima anggota keluarga lainnya yang terdiri dari keponakan, istri keponakan, dan tiga cucu.

"Ada enam orang di mobil. Saya yang nyetir sendiri. Alhamdulillah lancar,” ujar Mulyadi saat ditemui di pelataran Masjid Annur Syukur pada Kamis (19/3/2026).

MUDIK LINTAS SUMATERA - Budi (kiri) dan Mulyadi (kanan) bersiap melanjutkan perjalanan menuju kampung halaman usai beristirahat di Masjid Annur Syukur, Kamis (19/3/2026). Keduanya menempuh perjalanan mudik lintas Sumatera dari Jakarta ke Padang Pariaman dengan satu mobil bersama anggota keluarga lainnya. Dalam perjalanan itu, Mulyadi membawa THR Rp 50 juta untuk dibagi-bagi. (Kompas.com/Dharma Harisa)

Mulyadi menceritakan bahwa ia tiba di Pelabuhan Merak sekitar pukul 00.00 WIB, lalu menyeberang ke Bakauheni dan sampai pada pukul 02.00 WIB dini hari.

Baca juga: Pria Pekanbaru Kehabisan Ongkos saat Mudik, Jalan Kaki Ribuan Kilometer Demi Jenguk Ibu di Surabaya

Sejak merantau ke Jakarta pada 1990 dan bekerja di bidang ekspedisi pakaian, ia sudah sangat akrab dengan berbagai jalur alternatif di Sumatera untuk menghindari kemacetan.

Bawa THR Rp 50 Juta untuk Dibagikan ke Sanak Saudara dan Kerabat

Selain fisik yang prima, hal lain yang disiapkan Mulyadi adalah dana tunjangan hari raya (THR) untuk dibagikan kepada keluarga besar di kampung halaman.

Ia mengaku membawa uang tunai dalam jumlah cukup besar untuk berbagi kebahagiaan bersama sanak saudara dan kerabat di lapau (warung).

“Kalau pulang kampung pas Lebaran, paling sedikit Rp 50 juta saya bawa. Buat THR cucu, ponakan, bantu saudara, sampai traktir kawan di lapau,” kata Mulyadi.

ILUSTRASI THR - Foto ilustrasi tunjangan
ILUSTRASI THR - Foto ilustrasi tunjangan (Dok SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN)

Bagi Mulyadi, berbagi rezeki di kampung halaman memiliki makna spiritual yang mendalam. Ia meyakini bahwa kebiasaan berbagi tidak akan membuatnya merugi, melainkan justru mendatangkan doa-doa baik dari orang-orang di kampung halaman yang terus mengalir untuknya.

“Alhamdulillah, berbagi itu tidak rugi. Doa dari orang kampung itu yang mengalir ke kita,” ujarnya.

Mulyadi yang berasal dari Katapiang, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, berharap dapat tiba tepat waktu untuk mengikuti malam takbiran.

Tradisi menyantap ketupat dan bersilaturahmi menjadi momen yang paling ia rindukan setelah setahun bekerja keras di ibu kota. (Tribun Trends/Tribun Jatim)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.