Opini: Peter L. Berger- Gagasan yang Tak Pernah Padam
Dion DB Putra March 22, 2026 10:41 AM

Oleh: Bernardus Badj
Penulis tinggal di Maumere, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 17 Maret, dunia sosiologi memperingati kelahiran Peter Ludwig Berger (1929–2017), seorang pemikir besar yang gagasannya melampaui batas-batas akademis dan terus relevan hingga kini. 

Bagi kita di Nusa Tenggara Timur ( NTT), peringatan ini bukan sekadar nostalgia intelektual, melainkan momentum untuk menimbang kembali bagaimana kerangka berpikir Berger dapat membantu kita membaca dan mengubah realitas sosial yang kita hadapi sehari-hari. 

Di tengah kemiskinan yang masih membelenggu 19,5 persen penduduk NTT (BPS Provinsi NTT, 2024), praktik patronase yang mengakar, dan ketimpangan pembangunan yang kronis, gagasan Berger menjadi undangan reflektif: mau dibawa ke mana kita merancang realitas bersama ini?

Berger dan Tiga Pilar Pemikirannya

Peter Ludwig Berger lahir di Wina, Austria, pada 17 Maret 1929. Setelah Perang Dunia II, ia beremigrasi ke Amerika Serikat dan menempuh pendidikan di Wagner College serta New School for Social Research di New York. 

Baca juga: Opini: Refleksi dari Tubuh yang Melayani dan Menyaksikan

Sepanjang karier akademisnya, Berger mengajar di berbagai institusi ternama seperti Universitas North Carolina, Boston College, dan Universitas Boston hingga akhir hayatnya pada 2017. 

Ia dikenal sebagai sosiolog dan teolog yang mampu menjembatani dua ranah yang kerap dianggap terpisah, dengan karya-karya monumental seperti The Social Construction of Reality (1966) bersama Thomas Luckmann, The Sacred Canopy (1967), dan Pyramids of Sacrifice (1974).

Pertama, konstruksi sosial atas realitas. Dalam karyanya bersama Luckmann, Berger menjelaskan bahwa realitas sosial dibangun melalui tiga momen dialektis: eksternalisasi (penciptaan institusi dan norma), objektivasi (ketika institusi tampak sebagai kenyataan objektif yang given), dan internalisasi (saat realitas objektif itu diserap ke dalam kesadaran individu). 

Kerangka ini membongkar mitos bahwa struktur sosial bersifat alamiah atau tak terelakkan. Masyarakat adalah produk manusia, dan manusia adalah produk masyarakat sebuah dialektika yang berlangsung terus-menerus. 

Dengan kata lain, manusia secara aktif menciptakan realitas sosial yang pada gilirannya membentuk diri mereka sendiri.

Kedua, pluralisme dan agama. Berger pada awalnya mendukung tesis sekularisasi yang menyatakan bahwa modernitas akan mengikis peran agama. Namun pada akhir 1980-an, ia secara terbuka mengakui kekeliruannya. 

Dalam The Desecularization of the World (1999), ia menegaskan bahwa modernitas justru melahirkan pluralisme religius. 

Individu hidup di tengah berbagai keyakinan, nilai, dan gaya hidup yang saling bersaing. 

Agama tetap bertahan bahkan bangkit kembali sebagai sumber identitas dan solidaritas di tengah arus modernisasi. 

Pluralisme ini tidak hanya fenomena religius, tetapi juga sosial-politik, karena masyarakat modern ditandai oleh keberagaman pandangan dunia yang tak terhindarkan.

Ketiga, etika politik pembangunan. Dalam Pyramids of Sacrifice (1974), Berger menawarkan kerangka etis yang sangat relevan bagi pembangunan di negara berkembang. 

Ia mengkritik tajam utopia pertumbuhan ekonomi yang dikembangkan oleh ideologi kapitalis maupun sosialis. 

Berger memperkenalkan dua pertimbangan moral dalam setiap kebijakan politik: calculus of pain (perhitungan penderitaan) dan calculus of meaning (perhitungan makna). 

Calculus of pain menuntut agar setiap kebijakan dihitung dampaknya terhadap penderitaan manusia apakah kebijakan itu mengurangi atau justru menambah penderitaan? 

Calculus of meaning menuntut agar pembangunan tidak kehilangan akar makna, tetap terhubung dengan nilai-nilai kultural dan spiritual masyarakat. 

Baginya, basis etis pembangunan adalah upaya meniadakan penderitaan manusia.

Membaca Realitas NTT dengan Kacamata Berger

Kemiskinan sebagai konstruksi sosial. Data Badan Pusat Statistik Maret 2024 menempatkan NTT sebagai provinsi dengan persentase penduduk miskin tertinggi di Indonesia, mencapai 19,5 persen. 

Kerangka konstruksi sosial Berger mengajak kita melihat angka ini bukan sebagai takdir, melainkan sebagai hasil kebijakan, relasi kuasa, dan praktik sosial yang dilembagakan. 

Praktik patronase politik distribusi sembako dan uang tunai menjelang pilkades atau pilkada bertahan bukan karena "alami", melainkan karena terus diobjektivasi sebagai "budaya politik" dan diinternalisasi sebagai sesuatu yang wajar. 

Kesadaran bahwa semua ini adalah konstruksi membuka ruang bagi dekonstruksi: masyarakat NTT tidak lagi menjadi objek pasif, melainkan subjek yang mampu menulis ulang naskah sosial mereka sendiri. 

Pertanyaan mendasarnya: akankah kita terus membiarkan realitas ini atau berani mengubahnya?

Pluralisme dan kerukunan di NTT. Di NTT, agama-agama, khususnya Kristen Katolik dan Protestan, meresap ke dalam ruang publik. 

Ia menjadi fondasi moral kebijakan, alat mobilisasi politik, dan perekat sosial di tengah kemajemukan etnis yang mencapai lebih dari 50 suku. 

Kearifan lokal seperti Nusi (kerja sama), Butukila (membina persaudaraan), dan Muki Nena (rasa memiliki) telah lama mengkonstruksi realitas kehidupan yang harmonis. Namun pluralisme juga mengundang kewaspadaan. 

Ketika agama bernegosiasi dengan politik, ia bisa menjadi energi emansipatoris, tetapi tak jarang direduksi menjadi instrumen legitimasi kekuasaan. 

Di sinilah pentingnya reflektivitas kritis agar agama tidak kehilangan daya profetisnya.

Etika pembangunan: kritik atas proyek di NTT. Kerangka etika pembangunan Berger menemukan relevansinya yang paling konkret ketika kita membaca berbagai proyek pembangunan di NTT. 

Pembangunan pariwisata super prioritas di Labuan Bajo, misalnya, memang mendatangkan investasi dan meningkatkan kunjungan wisatawan, tetapi juga memunculkan persoalan: penggusuran, marginalisasi warga lokal, dan pelanggaran sempadan pantai. 

Demikian pula proyek geotermal di Poco Leok, Manggarai, yang memicu konflik berkepanjangan antara warga, pemerintah, dan korporasi. 

Calculus of pain menuntut kita bertanya: berapa banyak penderitaan yang harus dibayar untuk pertumbuhan ekonomi? 

Calculus of meaning menuntut kita bertanya: apakah pembangunan ini masih terhubung dengan makna dan nilai yang dihidupi masyarakat setempat? 

Pertanyaan-pertanyaan ini kerap luput dari dokumen perencanaan pembangunan yang hanya berorientasi pada target fisik dan serapan anggaran.

Catatan Kritis: Melampaui Berger

Teori konstruksi sosial Berger, meskipun revolusioner, cenderung menekankan dimensi kognitif dan intersubjektif, tetapi kurang memberi ruang pada analisis struktural dan kuasa. 

Ia menjelaskan bagaimana realitas dikonstruksi, tetapi kurang tajam menjawab mengapa konstruksi tertentu mendominasi dan kepentingan siapa yang dilayani. 

Pertanyaan kritis di NTT: siapa yang paling diuntungkan oleh konstruksi kemiskinan yang ada? Kelompok elit politik atau ekonomi tertentu? 

Mengapa wacana pembangunan selalu direduksi pada pertumbuhan ekonomi, sementara kesenjangan dan kerusakan lingkungan dibiarkan? 

Kritik ini tidak dimaksudkan untuk menafikan keunggulan pemikiran Berger, melainkan untuk melengkapinya. 

Analisis sosial yang utuh membutuhkan tidak hanya pemahaman tentang bagaimana realitas dibangun, tetapi juga kesadaran akan relasi kuasa dan struktur kepentingan yang bekerja di baliknya. 

Di NTT, kesadaran ini penting agar transformasi sosial tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi menyentuh akar persoalan.

Penutup: Menyalakan Kembali Api Refleksi

Memperingati Peter L. Berger berarti menyalakan kembali api refleksi kritis dalam diri kita. 

Ia mengajarkan bahwa ilmu sosial bukanlah menara gading, melainkan panggilan intelektual dan moral untuk membela kemanusiaan. 

Gagasannya tetap menjadi cahaya yang menuntun kita melintasi kompleksitas dunia modern bukan dengan memberi jawaban instan, tetapi dengan memicu pertanyaan-pertanyaan radikal tentang bagaimana kita hidup bersama.

Bagi kita di NTT, momentum kelahiran Berger pada 17 Maret ini hendaknya menjadi pengingat: bahwa kita memiliki kuasa untuk menulis ulang narasi sosial kita. Kemiskinan, ketimpangan, dan patronase bukanlah takdir. 

Ia adalah konstruksi yang bisa kita bongkar dan bangun kembali dengan kesadaran kritis, solidaritas kolektif, dan komitmen etis pada keadilan sosial. 

Gereja, pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil memiliki peran strategis dalam proses transformasi ini.

Refleksi ini tidak akan berarti jika berhenti di atas kertas. Di desa-desa Flores, Sumba, Timor, Alor, dan Lembata, ia harus menjelma menjadi keberanian warga menolak politik uang, kegigihan komunitas adat mempertahankan tanah leluhur, dan keberpihakan pemerintah mendistribusikan anggaran hingga ke sudut terpencil. 

Para pemimpin daerah hendaknya menjadikan kerangka etis Berger sebagai kompas moral: seberapa besar kebijakan mereka akan mengurangi penderitaan rakyat dan seberapa kuat kebijakan itu berakar pada makna kultural masyarakat. 

Hanya dengan begitu, gagasan Berger sungguh-sungguh hidup dan tak pernah padam. Selamat ulang tahun, Peter L. Berger. Terima kasih untuk gagasan yang terus mencerahkan. (*)

 

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.