Oleh : Bruder Pio hayon SVD
POS-KUPANG.COM- Renungan Harian Katolik Minggu 22 Maret 2026 dari Bruder Pio Hayon SVD pada Pekan Prapaskah V merujuk pada Bacaan I: Yehezekiel. 37: 12-14, Bacaan II: Rom. 8: 8-11 dan Injil: Yoh. 11: 1-45
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Pada Minggu Prapaskah kelima ini, Gereja mengajak kita masuk lebih dalam ke pusat iman: Tuhan Yesus adalah Kebangkitan dan Hidup.
Di tengah kesedihan, keterbatasan, dan kematian yang tampak final, Injil Yohanes menegaskan bahwa Allah sanggup memulihkan yang hancur dan menghidupkan yang “sudah berlalu”. Marilah kita membuka hati untuk percaya bahwa kuasa Allah melampaui batas manusia.
Saudara-saudari terkasih
Dalam perikop bacaan pertama (Yeh 37:12-14), Nabi Yehezkiel menerima gambaran tentang tulang-tulang kering yang mendapat hidup kembali. Ini bukan sekadar kisah kebangkitan tubuh, tetapi tanda bahwa Allah sanggup memulihkan harapan umat yang telah runtuh.
Roh Allah menghadirkan hidup baru: yang mati menjadi hidup. Dalam bacaan kedua (Rm 8:8-11), Paulus membedakan hidup menurut daging dan hidup oleh Roh. Ia menegaskan bahwa Roh yang membangkitkan Yesus juga memberi hidup kepada kita.
Jadi, kebangkitan bukan hanya urusan “masa depan”, melainkan daya hidup Allah yang sudah bekerja sekarang: menghidupkan iman, membimbing, dan mengubah cara hidup kita. Dan dalam Injil (Yoh 11:1-45), Yesus menghadapi kematian Lazarus.
Tangis ada, keterlambatan tampak, dan Lazarus sudah berada di kubur. Namun Yesus berseru “Lazarus, keluarlah!”—dan Lazarus hidup. Tanda ini menguatkan iman bahwa Yesus berkuasa atas kematian, serta menjadi peneguhan bahwa kata-kata Tuhan tidak pernah kosong.
Maka poin refleksi untuk kita adalah “Percaya saja ketika “sudah terlambat”: Seperti Marta dan Maria, kita pun kadang merasa terlambat: doa belum terjawab, harapan hilang, masalah makin berat.
Renungkan: di bagian mana hidupmu sedang “kubur” untuk sementara waktu? Apakah kamu mau tetap berpegang pada Yesus yang tidak berhenti bekerja?
“Membiarkan Roh menghidupkan yang mati”: Paulus mengajar bahwa Roh memberi hidup. Renungkan: apa “yang mati” dalam diri kita—semangat yang padam, kebiasaan dosa, relasi yang retak, atau iman yang melemah?
Bagaimana kita dapat memberi ruang bagi Roh untuk menghidupkan kembali? “Kesaksian iman: kebangkitan yang terlihat dalam hidup”: Kebangkitan Lazarus membuat banyak orang percaya.
Renungkan: bagaimana cara hidup kita dapat menjadi tanda bahwa Yesus adalah Tuhan yang memberi hidup—melalui pengampunan, ketekunan, keberanian, dan kasih yang nyata?
Saudara-saudari terkasih,
Pesan untuk kita, pertama, minggu Prapaskah kelima menguatkan kita untuk mengatakan dengan iman: “Akulah Kebangkitan dan Hidup.”
Kedua, Tuhan sanggup memulihkan yang runtuh, menghidupkan yang tampak mati, dan memberi harapan yang baru.
Ketiga, mari kita berdoa agar kita tidak hanya mengerti kebangkitan secara doktrin, tetapi menghayatinya dalam langkah hidup sehari-hari—percaya pada kuasa Allah, setia pada Roh-Nya, dan berani menjadi saksi kebenaran-Nya. Tuhan memberkati kita semua.(*)