WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA - Sebanyak 10 RW di Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur, terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 1 meter.
Saat ini, genangan air berangsur surut dan tersisa sekitar 15–20 sentimeter.
Camat Ciracas, Panangaran Ritonga, mengatakan kondisi mulai membaik sejak Minggu (22/3/2026) pagi.
"Di wilayah terdampak itu ada 10 RW di wilayah kecamatan kami ya, Ciracas, satu kecamatan," kata dia, saat dihubungi, Minggu.
"Pukul 06.00 WIB ketinggian air tinggal 15 sampai 20 sentimeter, sudah berangsur surut, meski belum sepenuhnya kering,” ujarnya.
Banjir terjadi sejak Sabtu (21/3/2026) pukul 19.00 WIB akibat kenaikan debit air kiriman dari hulu, meski hujan di wilayah Ciracas telah reda.
Ketinggian air mencapai puncaknya sekitar pukul 01.00 WIB.
Baca juga: H+2 Idul Fitri, Okupansi KA Lebaran 2026 Tembus 73 Persen
Menurut Panangaran, luapan air berasal dari Kali Baru dan Kali Cipinang yang tidak mampu menampung debit air.
Di permukiman warga, ketinggian air berkisar antara 50 sentimeter hingga 1 meter.
Dampak banjir membuat sejumlah warga, khususnya di Kelurahan Rambutan, mengungsi ke kantor kelurahan dan rumah tetangga yang tidak terdampak.
"Naiknya air mulai jam 7 malam ya, naik-naik terus sampai jam 1 tadi malam itu. Dan ini yang mengindikasikan hujan di hulu di wilayah Cimanggis ini cukup deras kemungkinannya kemarin ini," tuturnya.
“Air itu kalau di warga itu hampir juga dia sekitar 50 sampai 1 meter-lah ya. Jadi limpas dia dari kali itu kan," sambung dia.
Pemerintah kecamatan kini berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk penanganan.
Bantuan pangan telah disalurkan, meski belum menjangkau seluruh warga terdampak.
“Ada yang mengungsi ke kelurahan, ada juga ke tetangga. Tapi memang banyak rumah kosong karena ditinggal mudik,” kata dia.
Suasana hangat Lebaran yang biasanya penuh canda dan aroma masakan khas mendadak berubah menjadi kepanikan bagi seorang warga di kawasan Jakarta Timur.
Seno Haryanto (37), pria yang tinggal di Jalan Artha Kencana, Gang Mukhtar, Cilangkap, Cipayung, tak menyangka banjir setinggi 30-40 sentimeter justru datang tepat di momen hari raya.
Seno sudah lima tahun tinggal di kawasan itu.
"Selama saya tinggal di sini, baru dua kali banjir, ini yang paling parah," kata Seno ditemui Warta Kota, Minggu (22/3/2026).
Baca juga: Banjir Genangi Ciracas Jakarta Timur, 9 RW Terdampak dan Membuat Warga Mengungsi
Jika lima tahun lalu air hanya setinggi mata kaki, banjir kali ini naik hingga hampir selutut orang dewasa.
Air datang cepat pada malam hari, merendam seluruh isi rumah tanpa sempat diselamatkan.
"Semalam hampir sedengkul, air masuk semua, habis semua barang-barang," katanya.
Dalam kondisi darurat, ia memilih menyelamatkan keluarga terlebih dahulu.
Baca juga: Banjir di Jakarta Timur Dilaporkan Sudah Surut, 16 Rukun Tetangga di DKI Jakarta Masih Tergenang
Bersama istri dan bayi berumur delapan bulan, Seno mengungsi ke rumah kerabat yang berada di tempat lebih tinggi dan keputusan itu harus diambil dalam hitungan menit.
"Enggak sempat evakuasi barang, selamatin diri aja dulu, urusan rumah belakangan," tuturnya.
Akibatnya, hampir seluruh perabot rumah tangga rusak, mulai dari kasur, pakaian, hingga peralatan elektronik seperti kulkas dan mesin cuci tak bisa lagi digunakan.
Ia bersyukur kebutuhan makanan Lebaran masih ada.
Baca juga: Underpass Mampang Kembali Banjir, Kendaraan Tak Bisa Lewat dan Dua Mobil Terjebak
Banjir ini datang di saat keluarga baru saja merayakan Lebaran dengan sederhana.
Seperti kebanyakan warga lain, keluarga Seno menyiapkan hidangan khas seperti ketupat, rendang, dan opor ayam.
"Rasanya sedih banget, habis Lebaran dikasih musibah ini, buat kenangan seumur hidup," katanya lirih.
Warga menduga banjir dipicu oleh meluapnya air yang tidak tertampung, termasuk dari waduk di sekitar wilayah tersebut.
Baca juga: Banjir Genangi Ciracas Jakarta Timur, 9 RW Terdampak dan Membuat Warga Mengungsi
Informasi yang beredar menyebutkan adanya sistem buka-tutup pintu air, bahkan dugaan kerusakan area penampungan air.
Kondisi tersebut membuat mobilitas warga menjadi sangat terbatas.
Kini, harapan besar disampaikannya kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ia meminta perhatian serius terhadap sistem drainase dan penanganan banjir, khususnya di wilayah pinggiran Jakarta Timur yang dinilai masih kurang tersentuh.
Baca juga: Banjir di Mampang Prapatan Jaksel Ganggu Aktivitas Warga dan Arus Kendaraan
"Pemerintah tolong diperbaiki saluran airnya, kasihan warga di bantaran kali, jangan cuma kota yang diperhatikan," katanya.
Ia juga menyoroti lambatnya respons di tingkat lokal saat banjir terjadi.
Meski sempat ada petugas yang datang pada malam hari, ia berharap ke depan penanganan bisa lebih cepat dan terkoordinasi.
Terkejut
Warga lainnya, Apfia (31), mengaku terkejut dengan kondisi tersebut.
Selama 18 tahun tinggal di Cilangkap, ia belum pernah menyaksikan banjir dengan ketinggian seperti yang terjadi baru-baru ini.
Kini, air telah surut sejak Minggu pagi tadi.
Menurutnya, keberadaan waduk yang seharusnya menjadi penampung debit air belum mampu berfungsi optimal.
"Di sini ada dua waduk, Waduk Agro dan waduk di belakang Batu Licin, tapi semalam tetap tidak mampu menahan air," kata Apfia.
Penyebab tidak optimalnya fungsi waduk tersebut belum diketahui secara pasti.
Apfia menduga kemungkinan adanya kebocoran atau faktor teknis lain yang membuat kapasitas tampung tidak maksimal.
Selain waduk, Apfia juga menilai sistem drainase di kawasan tersebut perlu mendapat perhatian serius.
Ia berharap adanya perbaikan saluran air serta peningkatan area resapan agar air hujan dapat terserap dengan lebih baik.
“Semoga saluran air diperbaiki dan resapannya diperbanyak, supaya kejadian seperti ini tidak terulang,” tuturnya.
Resmikan Waduk
Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan Waduk Giri Kencana di Jalan Giri Kencana RW 06 Kelurahan Cilangkap, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur, Senin (12/1/2026).
Pramono meyakini, kehadiran Waduk Giri Kencana bisa menangani genangan maupun banjir di wilayah Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur.
"Di awal saya menjadi Gubernur, salah satu perhatian utama adalah banjir. Dan sekarang ini ada yang seperti ini kurang lebih kita bangun berapa jumlahnya, di Timur ada delapan (waduk yang dibangun)," kata Pramono.
Pramono sudah bertanya kepada warga sekitar setelah waduk itu jadi apakah masih ada genangan atau banjir di tempat tinggalnya.
Waduk tersebut selesai dibangun sejak 15 Desenber 2025 dan selama musim hujan serta belum diresmikan, tidak ada genangan maupun banjir.
"Dengan kapasitas waduk yang 92.000, kedalamannya 6 meter, kemudian juga digunakan ada jogging track, ada lapangan basket, ada mushola, dan sebagainya, ini berdampak sangat positif bagi masyarakat," tegas Pramono.
Orang nomor 1 di Jakarta itu berharap, tidak ada lagi genangan maupun banjir di wilayah Kelurahan Cilangkap, Jakarta Timur.
Ia meminta kepada Dinas SDA DKI untuk segera selesaikan pembangunan waduk di Jakarta supaya bisa mengatasi banjir dan genangan.