TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Upacara Manusa Yadnya, salah satunya pernikahan, kerap menimbulkan banyak sampah seperti plastik, mika, styrofoam dan sampah sulit diolah lainnya.
Sebab bahan-bahan tersebut selama ini seolah menjadi kewajiban, baik untuk dekorasi maupun piranti jamuan.
Namun bagusnya, pasangan pengantin baru I Wayan Sastrawan, dan Ni Komang Debi Julianawati di Desa Adat Talepud, Sebatu, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, telah memberi contoh, bahwa bahan-bahan tersebut tidak harus ada. Bahkan bisa dinolkan.
Baca juga: Per Hari 50 Ton Sampah Plastik Serbu Kawasan Pantai di Badung, DLHK: Sampah Kiriman Relatif Turun!
Pernikahan mereka yang berlangsung, Sabtu 21 Maret 2026 itu, dari perlengkapan upacara sampai konsumsi tamu, dan wadah telah beralih ke anyaman bambu dan daun pisang.
Minuman disajikan dengan gelas guna ulang, sementara dekorasi menonjolkan janur, bunga segar, dan ornamen alami tanpa sintetis.
Tentu, pilihan bahan dari acara penting ini, secara tak langsung menekan limbah tanpa mengurangi kesakralan.
Baca juga: Ny Rai Sanjaya Sosialisasi Kulkul PKK dan Posyandu, Kunjungi TPS Plastik Bali Harmoni Denbantas
Keluarga pengantin menjelaskan konsep ini lahir dari kepedulian lingkungan dan komitmen mengurangi sampah plastik yang terus menyedot perhatian di Bali.
Anggota Komisi III DPR RI I Nyoman Parta yang menjadi salah satu undangan dalam pernikahan ini pun terkesima, dan memberikan apresiasi pada pengantin baru tersebut.
“Ini harus menjadi inspirasi bahwa upacara adat tetap bisa berjalan khidmat sekaligus ramah lingkungan," ujar Parta.
Baca juga: Cuplis Nekat Bobol Toko Plastik Mantan Bosnya di Buleleng Bali, Uang Curian Dipakai Beli Iphone 11
Orang tua mempelai, I Nyoman Cendikiawan, mengaku bangga anaknya mengutamakan keberlanjutan tanpa melepaskan tradisi, dan berharap masyarakat meniru langkah ini dalam kegiatan adat maupun sosial.
Warga setempat merespons positif, menilai pernikahan Talepud sebagai bukti nyata pelestarian budaya dapat bersinergi dengan perlindungan lingkungan, sekaligus mendorong pergeseran perilaku yang lebih ramah alam di Bali. (*)