TRIBUNNEWS.COM - Angkatan Laut Kerajaan Inggris diam-diam mengerahkan kapal selam nuklir canggih, HMS Anson, ke wilayah Laut Arab.
Kehadiran kapal selam ini disebut membawa kemampuan serangan strategis yang signifikan di tengah konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Menurut sumber militer, HMS Anson telah tiba dan mengambil posisi di perairan dalam Laut Arab bagian utara setelah berlayar ribuan mil dari Australia.
Kapal selam ini dilengkapi dengan rudal jelajah Tomahawk Block IV yang memiliki jangkauan hingga sekitar 1.000 mil, serta torpedo berat Spearfish.
Penempatan HMS Anson dinilai sebagai langkah strategis Inggris untuk memperkuat posisi militernya di kawasan.
Langkah ini juga sejalan dengan keputusan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, yang dilaporkan telah mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer Inggris untuk operasi yang lebih luas.
Sebelumnya, penggunaan pangkalan tersebut hanya dibatasi untuk operasi defensif.
Namun kini, cakupannya diperluas dengan dalih “pertahanan diri kolektif” guna melindungi jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz.
Dalam skenario eskalasi, HMS Anson dapat meluncurkan salvo rudal jelajah setelah menerima perintah dari pusat komando militer Inggris di Northwood, London.
Komando tersebut berada di bawah kendali Letnan Jenderal Nick Perry, yang bertanggung jawab atas operasi gabungan.
Dalam skenario eskalasi konflik, setelah perintah diberikan, HMS Anson memiliki kemampuan untuk langsung meluncurkan rudal jelajah ke target yang telah ditentukan.
Sistem persenjataan yang dimiliki memungkinkan serangan dilakukan dari jarak jauh dengan tingkat presisi tinggi.
Kesiapan ini didukung oleh desain kapal selam yang beroperasi secara senyap dan sulit terdeteksi musuh.
Dengan kemampuan tersebut, HMS Anson dapat tetap berada di posisi strategis tanpa diketahui, sambil menunggu instruksi.
Selain itu, kapal ini hanya muncul ke permukaan dalam waktu singkat untuk berkomunikasi dengan markas militer, sehingga tetap menjaga kerahasiaan lokasinya.
Hal ini membuatnya menjadi salah satu aset militer yang efektif dalam operasi pengawasan maupun potensi serangan mendadak.
Mengutip dari Daily Mail, kapal selam nuklir milik Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Anson, menjadi salah satu aset militer paling canggih yang kini disiagakan di kawasan Timur Tengah.
Keunggulan teknologi yang dimilikinya membuat kapal ini mampu beroperasi dalam waktu lama dengan tingkat kerahasiaan tinggi.
Salah satu keunggulan utama HMS Anson terletak pada penggunaan reaktor nuklir sebagai sumber tenaga.
Teknologi ini memungkinkan kapal selam beroperasi tanpa perlu pengisian bahan bakar hingga 25 tahun, menjadikannya sangat efisien untuk misi jangka panjang.
Selain itu, kapal selam ini dirancang untuk mampu berada di bawah permukaan laut dalam waktu lama tanpa perlu sering muncul. Kemampuan ini memberikan keuntungan strategis, terutama dalam menjaga posisi tetap tersembunyi dari radar maupun deteksi musuh.
Tidak hanya itu, HMS Anson juga dilengkapi dengan sistem pemurnian udara dan air mandiri.
Fitur ini memungkinkan awak kapal tetap bertahan dalam kondisi tertutup, tanpa bergantung pada pasokan dari luar selama menjalankan misi.
Namun demikian, meski memiliki teknologi canggih, durasi operasional kapal tetap memiliki keterbatasan.
Faktor utama yang menjadi pembatas adalah logistik, khususnya ketersediaan makanan bagi sekitar 98 awak kapal.
Persediaan yang ada diperkirakan hanya cukup untuk mendukung operasi selama kurang lebih tiga bulan.
Kombinasi antara teknologi nuklir, kemampuan bertahan lama, dan sistem pendukung mandiri menjadikan HMS Anson sebagai salah satu kapal selam paling andal dalam operasi militer modern.
Meski begitu, aspek logistik tetap menjadi faktor penting yang menentukan lamanya misi di lapangan.
(Tribunnews.com / Namira)