TRIBUN-BALI.COM - Pelaksanaan Hari Suci Nyepi Caka 1948 dan Idul Fitri 1447 Hijriah, yang berlangsung berdekatan di tahun 2026 di Jembrana berjalan aman, lancar dan khidmat.
Suasana kondusif tersebut diklaim, sebagai bukti nyata bukti nyata dari kematangan sosial dan tingginya nilai toleransi yang dimiliki masyarakat Gumi Makepung.
Bahkan, di Desa Air Kuning Kecamatan Jembrana, seni Rebana mengiringi Ogoh-ogoh dan gamelan Baleganjur menyemarakkan malam Takbiran.
Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, sangat mengapresiasi pelaksanaan Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri yang berjalan khidmat dan kondusif di Jembrana.
Menurutnya, suasana tersebut merupakan bukti nyata dari kematangan sosial dan tingginya nilai toleransi yang dimiliki masyarakat Jembrana.
Baca juga: NYAWA Lansia Tak Tertolong Usai Tersengat Listrik Magicom di Denpasar, Gonggongan Anjing Beri Tanda!
Baca juga: BAU BUSUK Dikira Bangkai Tikus Ternyata Jenazah Lansia Sebatang Kara di di Letda Tantular Denpasar!
Dirinya merasa bangga, melihat bagaimana dua hari besar ini tidak hanya berjalan aman, tetapi juga diwarnai dengan aksi saling dukung antar umat beragama yang sangat menyentuh.
Bupati asal Desa Pangyangan, Kecamatan Pekutatan ini menekankan, kelancaran ini tidak lepas dari persiapan matang dan kerja keras semua pihak di lapangan.
Berbagai persiapan telah dilakukan sebelumnya, rapat kordinasi dan sosialisasi diantara umat beragama melibatkan tokoh dan serta aparat terkait.
"Secara khusus, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada jajaran TNI, Polri, Forkopimda Jembrana , unsur pengamanan adat seperti pecalang, serta para pemuda yang tergabung dalam sekaa truna maupun kelompok remaja masjid.
Sinergi ini adalah kunci mengapa Jembrana tetap tenang dan nyaman, bagi semua orang untuk beribadah," ujar Bupati Kembang Hartawan, Minggu 22 Maret 2026.
Kembang juga menyoroti fenomena indah yang terjadi di Desa Air Kuning, yang mana atraksi seni Rebana mengiringi Ogoh-ogoh dan gamelan Baleganjur menyemarakkan malam Takbiran.
Menurutnya, hal ini bukan sekadar kolaborasi seni, melainkan simbol persaudaraan yang melampaui sekat keyakinan.
"Apa yang kita lihat di Air Kuning adalah potret asli Jembrana. Perbedaan bukan menjadi pemisah, melainkan kekayaan yang saling melengkapi. Ketika dentuman Baleganjur bersambut dengan tabuhan Rebana, di sanalah letak kekuatan sosial kita," tambahnya.
Bupati berharap, agar semangat kebersamaan ini tidak hanya muncul saat momen hari raya saja, melainkan menjadi identitas permanen warga Jembrana dalam kehidupan sehari-hari.
"Kekhidmatan yang kita rasakan tahun ini adalah warisan berharga untuk generasi mendatang. Mari kita jaga terus fondasi toleransi ini agar Jembrana selalu menjadi rumah yang damai bagi siapa saja, apapun latar belakangnya," tandasnya.(*)