Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ibnu Dwi Tamtomo
TRIBUNNEWSMAKER.COM, KLATEN – Jenang ayu Klaten produksi Bu Sono dan Niten tetap populer sebagai oleh-oleh wajib, meski dibuat secara tradisional dengan cara yang nyaris tak berubah.
Dalam proses pengemasan, potongan jenang hitam mengilap disusun di atas nampan warna-warni. Di sampingnya, tangan-tangan terampil membungkus satu per satu dengan plastik bening.
Suasana ini menjadi pemandangan rutin di sentra produksi jenang ayu Klaten.
Produk ini tak hanya bertahan, tetapi juga terus diminati sebagai oleh-oleh wajib.
Di jenang ayu Niten, proses produksi masih dilakukan secara tradisional sejak 1928.
Kayu bakar digunakan untuk memasak. Loyang lama tetap dipakai. Serta bahan yang digunakan semua alami tanpa bahan kimia.
Sementara itu, jenang ayu Bu Sono berkembang dari usaha rumahan menjadi produksi yang stabil.
Permintaan biasanya meningkat signifikan saat musim liburan, bahkan mencapai 3 kali lipat.
Baca juga: Momen Hangat Lebaran, Bupati Hamenang Salami Warga Setelah Salat Id di Masjid Agung Al Aqsa
Ciri khas rasa manis dan sentuhan jahe membuat produk ini mudah dikenali.
Dari dapur sederhana hingga etalase oleh-oleh, jenang ayu tetap menjadi identitas kuliner Klaten yang sulit tergantikan.
Untuk mendapatkan produk keduanya, Tribuners bisa langsung ke tempat produksinya. Yakni Jenang Ayu Bu Sono di Desa Pacing, sedangkan Jenang Ayu Niten di Desa Gadungan, keduanya sama-sama berlokasi di Kecamatan Wedi, Klaten. (*)