WARTAKOTALIVE.COM -- Perang antara poros pimpinan Amerika Serikat-Israel melawan Iran telah memasuki tahap paling berbahaya dalam sejarah modern.
Pada Minggu (22/3/2026), eskalasi meningkat drastis setelah fasilitas nuklir kedua belah pihak dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Hal ini memicu peringatan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengenai ancaman radiasi global.
Baca juga: Jubir Iran: Ini Bukan Perang Rakyat Amerika, Warga AS yang Miliki Hati Nurani Bersih Pasti Tolak
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengonfirmasi laporan serangan Israel terhadap kompleks pengayaan Natanz di Iran, yang dibalas Teheran dengan serangan rudal ke arah Dimona, lokasi fasilitas nuklir sensitif Israel di Gurun Negev.
"Perdamaian adalah obat terbaik. Serangan terhadap situs nuklir adalah ancaman eskalasi bagi kesehatan publik dan keselamatan lingkungan," tegasnya.
Sementara itu Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan mendadak ke Arad, wilayah selatan yang dihantam rudal Iran pada Sabtu malam.
Meski lebih dari 80 orang terluka, Netanyahu menyebutnya sebagai keajaiban karena tidak ada korban jiwa.
Ia memberikan peringatan keras kepada warganya agar tidak meremehkan sirine peringatan.
"Ada waktu sepuluh menit penuh dari peringatan hingga rudal jatuh. Jika semua orang pergi ke tempat perlindungan di bawah gedung, tidak seorang pun akan terluka. Jangan lengah!" seru Netanyahu di lokasi jatuhnya rudal di antara bangunan pemukiman.
IRGC: Target Kami Melampaui Kawasan
Menanggapi ultimatum 48 jam dari Presiden AS Donald Trump untuk membuka Selat Hormuz, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui unit intelijennya mengeluarkan pernyataan provokatif.
Mereka mengeklaim memiliki "daftar target merah" yang mencakup target teknologi dan politik di luar Timur Tengah.
IRGC menegaskan bahwa mereka telah mengonsolidasikan kekuasaan di Selat Hormuz dan kini mengendalikan energi global.
Hal ini memicu kekhawatiran di Eropa, meskipun pemerintah Inggris menyatakan belum ada penilaian bahwa ancaman tersebut akan mencapai London dalam waktu dekat.
Bumi Hangus di Lebanon Selatan
Di garis depan utara, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, telah memerintahkan penghancuran total seluruh jembatan di atas Sungai Litani.
Langkah "bumi hangus" ini bertujuan memutus jalur logistik Hizbullah sekaligus meningkatkan skala penghancuran desa-desa di Lebanon selatan.
Serangan udara Israel dilaporkan telah menghancurkan Jembatan Qasmiya, memaksa sekitar satu juta warga Lebanon mengungsi.
Baca juga: Putin Kirim Pesan Nowruz ke Iran di Tengah Perang, Tegaskan Rusia Sekutu Setia di Masa Sulit
Pertahanan udara regional juga bekerja ekstra keras; UEA mengeklaim telah mencegat 345 rudal balistik dan ribuan drone sejak agresi Iran dimulai, menandakan bahwa perang ini telah menjadi konflik multinasional yang tak terkendali.
Berikut ringkasan perkembangan terbaru tentang serangan yang dilaporkan di seluruh Timur Tengah pada hari ke-23 konflik:
Lima belas orang terluka setelah rudal balistik Iran yang membawa hulu ledak bom tandan menghantam Tel Aviv pagi ini, kata layanan darurat Israel.
Sembilan "operator" Hizbullah tewas akibat serangan angkatan udara Israel di Lebanon selatan, kata IDF.
Hizbullah mengklaim bertanggung jawab atas serangan yang menewaskan seorang pria setelah dua kendaraan dihantam dan dibakar di wilayah Galilea Atas di Israel utara;
Pertahanan udara UEA telah menanggapi ancaman rudal dan drone yang datang dari Iran, kata kementerian pertahanannya.
Terdapat juga serangan dan pencegatan rudal di seluruh wilayah semalam, termasuk:
Lebih dari 180 orang terluka setelah serangan Iran menghantam kota-kota Israel, Dimona dan Arad, kata kementerian kesehatan Israel.
Sementara sebuah kapal terkena proyektil tak dikenal di utara kota pelabuhan Sharjah di UEA, kata Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris.
Kementerian pertahanan Arab Saudi mengatakan tiga rudal ditembakkan ke arah kota Riyadh, dengan satu dicegat dan dua jatuh di daerah tak berpenghuni.