Mengenal Tradisi 'Luah Luah' dan Kearifan Lokal Idulfitri di Lima Eks Marga Komering Ulu
Moch Krisna March 22, 2026 11:32 PM

 

 





TRIBUNSUMSEL.COM,MARTAPURA --
Perayaan Hari Raya Idulfitri di wilayah lima eks marga dalam eks Kewedanaan Komering Ulu, yakni Bunga Mayang, Paku Sengkunyit, BP Peliung, BP Bangsa Raja, dan Tanjung Raya (Belitang), memiliki kekhasan tersendiri yang sarat dengan nilai budaya dan kearifan lokal.

Berbeda dengan sejumlah daerah lain yang memiliki tradisi khusus bernuansa seremonial tertentu menjelang Lebaran, masyarakat di lima eks marga ini justru lebih mengedepankan makna silaturahmi sederhana yang bersifat umum sebagaimana umat Islam pada umumnya.

Tidak terdapat ritual adat khusus yang bersifat formal, melainkan lebih menekankan kebersamaan dan penghormatan kepada leluhur.

Ketua Lembaga Pembina Adat Kabupaten OKU Timur, H. Leo Budi Rachmadi, menjelaskan bahwa tradisi yang berkembang di tengah masyarakat merupakan warisan turun-temurun yang tetap dijaga hingga kini.

Menurutnya, menjelang Hari Raya Idulfitri, masyarakat memiliki tradisi yang dikenal dengan sebutan “Luah Luah”. Tradisi ini dilakukan sejak sepekan sebelum Lebaran hingga H-1, yang diisi dengan kegiatan ziarah ke makam keluarga besar sekaligus membersihkan lingkungan sekitar.

“Luah Luah bukan sekadar ziarah, tetapi juga bentuk penghormatan kepada leluhur serta pengingat akan asal-usul keluarga. Ini menjadi momen refleksi sekaligus mempererat hubungan batin antaranggota keluarga,” ujarnya kepada jurnalis Tribunsumsel.com dan Sripoku.com, Minggu (22/3/2026).

Selain ziarah, masyarakat juga melakukan pembersihan rumah secara menyeluruh. Halaman dibersihkan, perabot lama ditata kembali, bahkan barang-barang antik khas Komering seperti peti dan lemari tua ikut dipoles agar tampil lebih indah.

Proses pembersihan ini juga memiliki cara tradisional tersendiri. Barang-barang berbahan tembaga, misalnya, dibersihkan menggunakan cairan asam jawa, kemudian digosok dengan traso hingga kembali mengilap.

Tradisi ini tidak hanya bertujuan estetika, tetapi juga sebagai simbol kesiapan menyambut hari kemenangan dengan suasana yang bersih dan tertata.

Memasuki Hari Raya Idulfitri, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan salat Idulfitri. Usai ibadah, keluarga inti berkumpul untuk menikmati hidangan khas Lebaran dalam suasana penuh kehangatan.

Beragam menu tradisional khas Sumatera Selatan tersaji di meja makan, seperti ketupat, lemang, rendang, opor ayam, pempek, hingga aneka kue tradisional seperti kue angkak dan lapis puan. Hidangan ini menjadi pelengkap kebersamaan sekaligus simbol rasa syukur.

Setelah makan bersama, tradisi dilanjutkan dengan saling bermaaf-maafan antaranggota keluarga. Momentum ini kemudian diperluas dengan bersilaturahmi ke tetangga terdekat serta mengunjungi anggota keluarga yang lebih tua, seperti kakek-nenek (Umbay Akas), kemaman, kelama, keminan, hingga tokoh agama dan saudara lainnya.

H. Leo Budi Rachmadi menambahkan bahwa nilai utama dari seluruh rangkaian tradisi ini adalah memperkuat hubungan kekeluargaan dan menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat.

“Yang paling penting bukan kemeriahannya, tetapi bagaimana nilai silaturahmi, rasa hormat kepada orang tua, serta kebersamaan itu tetap hidup. Inilah esensi Lebaran yang dijaga masyarakat Komering hingga hari ini,” tegasnya.

Ia juga berharap generasi muda dapat terus melestarikan tradisi tersebut, meskipun di tengah perkembangan zaman yang semakin modern.

“Tradisi ini adalah identitas. Jika tidak dijaga, dikhawatirkan akan hilang. Karena itu, peran keluarga sangat penting untuk mengenalkan dan mewariskan nilai-nilai ini kepada anak-anak,” pungkasnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.