Turki: Negara-negara Teluk Bisa Membalas jika Serangan Iran Terus Berlanjut
Ansari Hasyim March 23, 2026 01:03 AM

SERAMBINEWS.COM – Negara-negara Teluk disebut telah mengeluarkan “peringatan terakhir” kepada Iran dan berpotensi melakukan serangan balasan jika agresi terus berlanjut.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyampaikan hal tersebut usai menghadiri pertemuan puncak regional di Riyadh, ibu kota Arab Saudi, pada Sabtu.

Dalam pertemuan itu, para peserta sepakat mengeluarkan pernyataan bersama yang mengkritik Iran atas serangan terhadap negara-negara Teluk, khususnya yang menyasar infrastruktur sipil sejak konflik dengan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran pecah bulan lalu.

Fidan menegaskan bahwa KTT tersebut digelar untuk membahas satu isu utama, yakni serangan Iran.

“Negara-negara Teluk mempertanyakan mengapa Iran menargetkan mereka dalam perang ini. Mereka menilai tidak terlibat dalam konflik tersebut,” ujar Fidan.

Baca juga: Iran Ancam Serang Lokasi Wisata Global, Konflik Berpotensi Meluas

Ia menambahkan, negara-negara Teluk juga menilai serangan yang ditujukan kepada mereka tidak adil dan perlu direspons.

Menurut Fidan, sejak awal negara-negara Teluk telah menegaskan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun pangkalan militer mereka digunakan untuk menyerang Iran, karena tidak ingin terlibat dalam konflik.

Namun, situasi memanas setelah Iran disebut tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil dan ekonomi secara sengaja.

“Jika situasi ini terus berlanjut, mereka akan terpaksa mengambil tindakan balasan. Peringatan terakhir telah disampaikan dalam pertemuan ini, dan risiko kini semakin meningkat,” katanya.

Ketegangan meningkat ketika Iran meluncurkan rudal dan drone ke ibu kota Saudi saat para menteri luar negeri kawasan tengah berkumpul di Riyadh. Serangan tersebut dinilai sebagai simbol ancaman serius.

Selain itu, serangan terhadap fasilitas gas di Qatar dan infrastruktur minyak Saudi semakin memicu kemarahan negara-negara Teluk, sekaligus mendorong evaluasi ulang terhadap sikap mereka terhadap Teheran.

Laporan media juga menyebut Arab Saudi mulai membuka Pangkalan Udara Raja Fahd di Taif bagi militer Amerika Serikat, menandai perubahan sikap dalam merespons konflik.

Sementara itu, dalam komunikasi terpisah, Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Sheikh Abdullah bin Zayed, disebut menyampaikan kepada Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bahwa negaranya siap menghadapi konflik berkepanjangan hingga sembilan bulan.

Di sisi lain, Fidan menegaskan bahwa Turki menolak agresi dan upaya ekspansionisme, baik dari Israel maupun Iran, serta akan terus mendorong jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan.

“Kami tidak ingin situasi ini berkembang menjadi perang panjang yang melibatkan seluruh kawasan,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi memicu perubahan besar di negara-negara Teluk, termasuk peningkatan investasi di sektor industri pertahanan.

Turki sendiri telah berkembang sebagai kekuatan industri pertahanan di kawasan, dengan berbagai kerja sama militer bersama negara-negara seperti Mesir, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, khususnya dalam teknologi drone dan amunisi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.