AS Panik atas Keputusannya untuk Lemahkan Rezim Iran, Eks Perwira Intelijen AS: Kesalahan Terbesar
Muhammad Hadi March 23, 2026 03:03 AM

AS Panik atas Keputusannya untuk Lemahkan Rezim Iran, Eks Perwira Intelijen AS: Kesalahan Terbesar

SERAMBINEWS.COM - Kebijakan Amerika Serikat dan Israel terkait upaya melemahkan bahkan mengganti rezim di Iran dinilai sebagai langkah keliru yang berpotensi membawa dampak besar secara global.

Pandangan tersebut disampaikan oleh mantan perwira intelijen Korps Marinir AS, Scott Ritter, yang menyebut strategi tersebut sebagai “kesalahan terbesar” dalam dinamika konflik Timur Tengah saat ini.

Menurut Ritter, upaya perubahan rezim di Iran sejak awal merupakan target yang tidak realistis. 

Ia menilai struktur pemerintahan Iran cukup kuat untuk bertahan dari tekanan militer maupun politik eksternal.

“Israel dan AS berusaha menimbulkan kerusakan permanen pada kemampuan produksi gas, minyak, dan energi Iran, serta menghasilkan pendapatan darinya,”

“Iran telah menyatakan bahwa mereka bukan satu-satunya negara yang akan mengikuti jalan ini,”

Ia menilai langkah tersebut berisiko besar memicu ketidakstabilan global, terutama jika berdampak pada sektor energi dunia.

“Jadi, saya percaya ini adalah awal dari salah satu kesalahan terbesar. Kondisi untuk bencana global sedang diciptakan," ujarnya.

Ritter juga menyoroti peran strategis Selat Hormuz sebagai jalur vital distribusi minyak dan gas dunia. 

Ia menyebut Iran memiliki posisi kunci dalam menentukan akses pelayaran di kawasan tersebut.

"Apa yang telah dilakukan Iran membuktikan bahwa mereka memegang kendali. Hanya Iran yang berhak memutuskan siapa yang diizinkan melewati Selat Hormuz,”

“Dan sekarang, Iran perlu memutuskan bahwa tidak seorang pun diizinkan melewati Selat Hormuz. Sama sekali tidak seorang pun," tegas pakar tersebut.

Konflik antara AS, Israel, dan Iran kini telah memasuki minggu ketiga, dengan kedua pihak terus melancarkan serangan intensif. 

Tel Aviv menyatakan operasi militernya bertujuan mencegah Teheran mengembangkan senjata nuklir, sementara Washington menegaskan komitmennya untuk melemahkan kemampuan militer Iran.

Di sisi lain, Iran menyatakan siap membela diri dan menilai tidak ada alasan untuk melanjutkan negosiasi di tengah meningkatnya tekanan militer.

Ketegangan yang terus meningkat ini juga berdampak langsung pada aktivitas pelayaran global. 

Jalur Selat Hormuz dilaporkan hampir lumpuh, menimbulkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dunia.

Para pengamat menilai, jika eskalasi tidak segera mereda, konflik ini berpotensi meluas dan membawa dampak serius terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan global.

(Serambinews.com/Agus Ramadhan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.