Sakralitas Takbiran: Antara Syiar dan Kemungkaran
Rizali Posumah March 23, 2026 03:22 AM

 

Oleh: Supriadi, S.Ag., M.Pd.I

(Pengawas PAI Kemenag Kota Manado, Ketua DPW AGPAII Prov. Sulut, Sekretaris Umum Yayasan Karya Islamiyah Manado, Wakil Sekretaris PW PERGUNU Prov. Sulut)

Takbiran adalah salah satu wujud syukur, pengagungan terhadap kebesaran Allah SWT, dan tanda kemenangan spiritual setelah sebulan penuh berpuasa Ramadan.

Lantunan takbir menekankan kerendahan hati manusia serta menghapus kesombongan, sisi manusia tampak kecil karena hanya Allah yang Maha Besar.

Inilah momen refleksi diri, meningkatkan ketakwaan, dan mempererat persaudaraan.

Takbiran adalah sebuah gema kemenangan.

Dia bukan sekadar lantunan kalimat “Allahu Akbar” semata, melainkan simbol spiritual atas keberhasilan umat Islam menundukkan hawa nafsu selama sebulan penuh di bulan Ramadhan. 

Dalam tradisi keislaman, malam takbiran menjadi momentum sakral yang sarat makna: mengagungkan Allah, mensyukuri nikmat Allah, dan meneguhkan kembali komitmen ketakwaan kepadaNya.

Allah SWT memberikan penegasan dalam Q.S. al-Baqarah ayat 185: "...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." 

Kondisi realitas sosial hari ini yang terjadi, sakralitas takbiran seringkali mengalami pergeseran makna.

Di banyak tempat, gema takbir yang seharusnya khusyuk dan penuh penghayatan berubah menjadi hiruk-pikuk yang cenderung kehilangan ruh ibadah.

Takbiran keliling, yang pada dasarnya merupakan bagian dari syiar Islam, tidak jarang justru ternodai oleh perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai agama. Campur aduk tanpa peduli dengan etika lagi.

Fenomena konvoi kendaraan dengan suara bising –knalpot racing, speaker super besar-, penggunaan petasan dan kembang api yang berlebihan, hingga aksi ugal-ugalan di jalan raya telah menjadi potret yang selalu berulang pada setiap tahunnya.

Bahkan, tidak sedikit orang yang menjadikan malam takbiran sebagai ajang hura-hura, bercampur dengan tindakan yang mengarah pada kemungkaran -mulai dari pelanggaran ketertiban hingga perilaku yang jauh dari adab dan etika pergaulan Islami.

Semuanya menyatu, berbaur dalam malam yang penuh sakralitas.

Pada titik inilah kita perlu melakukan refleksi kritis: apakah takbiran masih menjadi syiar yang menghidupkan hati, atau justru telah bergeser menjadi ritual yang kehilangan makna?

 Sejatinya syiar Islam bukan hanya tentang ekspresi lahiriah semata, tetapi juga tentang substansi nilai yang dikandungnya.

Takbir yang dilantunkan seharusnya melahirkan sebuah ketundukan dan ketaatan, bukan sekedar kebisingan tanpa makna.

Dia seharusnya menghadirkan ketenangan batin, bukan kekacauan sosial.

Dalam konteks ini, menjaga sakralitas takbiran berarti menjaga keseimbangan antara ekspresi kegembiraan dan nilai-nilai ketertiban serta akhlak.

Inilah tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW. semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.

Hal tersebut tidak berarti bahwa takbiran keliling harus dihapuskan.

Tradisi ini tentu saja tetap memiliki nilai kebersamaan dan identitas keislaman yang kuat. Namun, perlu dikelola dengan bijak.

Peran tokoh agama, lembaga pendidikan, dan pemerintah sangat penting dalam memberikan edukasi serta regulasi agar pelaksanaan takbiran tetap berada dalam koridor syariat dan etika sosial.

Masjid dan mushalla seharusnya kembali menjadi pusat gema takbir yang meneduhkan.

Takbiran yang dilaksanakan dengan tertib, penuh kekhusyukan, dan diiringi dengan kegiatan ibadah lainnya akan lebih mencerminkan esensi kemenangan yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, sakralitas takbiran bukan hanya terletak pada seberapa keras suara yang dikumandangkan, tetapi pada seberapa dalam makna yang mampu dihayati.

Jika takbiran hanya menjadi suara tanpa jiwa, maka dia kehilangan nilainya sebagai ibadah.

Namun, jika takbiran diiringi dengan kesadaran spiritual dan akhlak yang terjaga, maka takbiran akan kembali menjadi syiar yang membangun, bukan merusak dan menjatuhkan.

Idul Fitri menjadi momentum untuk kembali kepada fitrah.

Karenanya, sudah seharusnya malam takbiran menjadi gerbang yang mampu mengantarkan kita pada kesucian itu, bukan justru menjauhkan dari kesucian.

Kain yang sudah dicuci dalam proses Ramadhan, sejatinya tetap dijaga dan tidak dikotori lagi sejak malam takbiran. Wallahu a’lam.

WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.