BANGKAPOS.COM - Kenaikan arga minyak dunia di kisaran 112,19 dolar AS per barel saat ini memicu reaksi di berbagai negara terutama kawasan Asia.
Singapura memutuskan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.
Bensin dengan oktan RON 95 di Singapura saat ini dibanderol sekitar USD2,35 per liter, setara dengan hampir Rp39.869 jika mengacu kurs Rp16.968.
Sementara itu, varian RON 98 bahkan menyentuh angka USD2,65 per liter.
Angka ini menempatkan Singapura sebagai salah satu negara dengan harga BBM termahal di dunia, sebuah anomali yang menarik perhatian para analis ekonomi.
Harga BBM di Sri Lanka melonjak 25 persen pada Minggu (22/3), ini merupakan kenaikan kedua dalam dua pekan, imbas perang di Timur Tengah yang mendisrupsi pasokan minyak dunia.
AFP melaporkan harga bensin reguler naik menjadi 398 rupee (sekitar Rp21.611, kurs Rp54,43) per liter, dari sebelumnya 317 rupee (Rp17.252).
Sementara sementara solar, BBM yang umum digunakan transportasi umum, loncat jauh dari 79 rupee (Rp4.299) menjadi 382 rupee (Rp20.790).
Kenaikan harga BBM juga terjadi di kawasan Asia lainnya antara lain Pakistan, Maladewa, Australia, China, Myanmar dan Afghanistan.
Sedangkan negara Asia lainnya terpaksa mengambil kebijakan menghemat stok BBM dengan menerapkan bekerja dari rumah bagi warganya.
Bagaimana dengan harga BBM di Indonesia?
Pemerintah Indonesia memastikan stok BBM dalam negeri saat ini dalam kondisi aman di tengah ketegangan geopolitik di kawasan timur tengah.
Per Maret 2026, harga BBM Pertamina di Jakarta adalah Rp10.000/liter untuk Pertalite dan Rp6.800/liter untuk Biosolar.
Harga Pertamax adalah Rp12.300/liter, Pertamax Turbo Rp13.100/liter, Pertamax Green 95 Rp12.900/liter, serta jenis diesel Dexlite Rp14.200/liter dan Pertamina Dex Rp14.500/liter. Harga di wilayah lain bisa berbeda,
Di Indonesia, harga BBM masih dipengaruhi oleh kebijakan subsidi pemerintah, khususnya untuk jenis tertentu seperti Pertalite dan Solar subsidi.
Kondisi ini membuat harga BBM di Indonesia relatif lebih terjangkau dibandingkan beberapa negara ASEAN lainnya.
Pemerintah tidak akan menaikkan harga BBM subsidi meski harga minyak mentah dunia naik.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, hingga saat ini pemerintah belum berencana menaikkan BBM subsidi meski kenaikan harga minyak mentah dunia sempat tembus di atas 100 dollar per barrel, atau melampaui asumsi APBN 2026 di kisaran 70 dollar per barrel.
Purbaya menegaskan, kenaikan harga minyak mentah dunia masih bisa diredam oleh APBN karena daya tahan fiskal pemerintah cukup kuat.
Stok BBM Dalam Negeri
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, saat ini cadangan BBM nasional tercatat berada pada kisaran 27-28 hari, sehingga kebutuhan masyarakat dipastikan masih dapat terpenuhi dengan baik.
"Masyarakat bisa dengan aman menikmati lebaran 2026 ini," kata Yuliot dikutip Minggu (22/3/2026).
Menurutnya, masyarakat tidak perlu khawatir, termasuk menghindari pembelian secara berlebihan atau panic buying.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak memberlakukan pembatasan pembelian BBM selama periode libur Lebaran.
Kebijakan ini berlaku baik di tingkat pemerintah pusat maupun daerah, sehingga masyarakat dapat memperoleh BBM sesuai kebutuhan.
"Kita belum ada pembatasan. Itu baik yang dilakukan oleh pemerintah pusat, juga oleh pemerintah daerah," jelas Yuliot.
Meski demikian, Yuliot mengimbau masyarakat untuk tetap tertib saat mengisi BBM di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), terutama jika terjadi antrean.
"Jadi, untuk masyarakat yang mengantre di SPBU, tolong bersabar, jangan ada kericuhan. Tentu kita melayani secepat mungkin," ungkapnya.
Selain BBM, Yuliot juga memastikan bahwa pasokan listrik dalam kondisi terkendali.
Ia menyebut daya mampu sistem kelistrikan saat ini mencapai 52 gigawatt, sementara beban puncak berada di angka 35 persen.
Dengan demikian, masih tersedia cadangan atau risk margin sekitar 48 persen dari rata-rata kebutuhan harian.
"Jadi, kita memiliki cadangan atau risk margin sekitar 48 persen. Jadi, masyarakat yang perlu khawatir," jelasnya.
Yuliot memastikan, pemerintah terus bekerja keras menjaga kestabilan pasokan energi agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dari Sabang hingga Merauke, termasuk dalam mendukung kelancaran mudik dan perayaan Idulfitri.
"Jadi, kita mengharapkan ketersediaan BBM bagi masyarakat itu bisa terpenuhi dari Sabang sampai dengan Merauke, bagi masyarakat yang merayakan Idulfidri. Ini kita bekerja keras untuk menjaga ketersediaan energi," tuturnya.
Harga Minyak Dunia Bisa Tembus 200 Dolar AS
Institute for Development of Economics & Finance (Indef) memprediksi harga minyak dunia bisa menembus 200 juta dolar AS jika perang Israel-Ameriak Serikat (AS) versus Iran berlangsung secara lama.
Perang tersebut diketahui telah mengancam jalur distribusi 20 persen energi dunia di Selat Hormuz.
Sekarang harga minyak dunia dikisaran 112,19 dolar AS per barel.
Situasi ini berdampak langsung pada kenaikan Indonesian Crude Price (ICP) yang berpotensi membengkakkan beban subsidi energi dan menekan ruang fiskal dalam APBN, sekaligus memicu inflasi domestik melalui kenaikan biaya logistik.
Ekonom Senior Indef, Didin S. Damanhuri memaparkan tiga skenario dampak harga minyak terhadap ketahanan fiskal Indonesia.
Skenario pertama, jika perang berakhir cepat, harga minyak diprediksi pada level USD 100/barel dengan defisit APBN 4 persen.
Skenario kedua, perang yang berlangsung 1,5 bulan dapat mendorong harga ke USD 150/barel dengan defisit 5-6 % .
"Sementara itu, pada skenario terburuk jika konflik berkepanjangan, harga minyak bisa menyentuh USD 180–200/barel, yang berpotensi membengkakkan subsidi energi hingga Rp884 triliun dan menyebabkan defisit APBN melonjak di atas 6 % ," papar Didin dikutip Minggu (22/3/2026).
Menghadapi risiko tersebut, Didin menekankan pentingnya mempertahankan disiplin fiskal dengan defisit maksimal 3 % guna menjaga kepercayaan pasar keuangan dan lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan MSCI.
Ia menyebut, alih-alih melonggarkan defisit melalui Perppu yang berisiko memperberat beban utang, pemerintah disarankan melakukan penajaman efisiensi pada program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan swasembada pangan dengan melibatkan UMKM dan koperasi desa.
"Melalui perbaikan tata kelola APBN dan penguatan pasar modal, Indonesia diyakini tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5 % sekaligus mendorong pemerataan pendapatan," ujarnya.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman menjelaskan, urgensi kebijakan antisipatif dalam menghadapi dampak konflik geopolitik global Iran versus Israel-AS yang berisiko memicu imported inflation di Indonesia.
Mengingat struktur ekonomi nasional sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga (53 % terhadap PDB), beliau menyampaikan bahwa gejolak harga energi global yang berpotensi menembus USD 100 per barel menjadi ancaman langsung bagi daya beli masyarakat melalui inflasi barang dan jasa (cost-push inflation).
Rizal memperingatkan, adanya potensi risiko stagflasi, di mana pertumbuhan ekonomi melambat namun dibarengi inflasi tinggi, karena 74 % pengeluaran rumah tangga di Indonesia sangat sensitif terhadap komponen pangan (39 % ), energi (22 % ), dan transportasi (13 % ) dan lainnya (26 % ).
Rizal menyampaikan simulasi dampak berdasarkan durasi konflik, di mana jika harga minyak mentah berada di atas USD 100 per barel, pertumbuhan ekonomi Indonesia berisiko terkoreksi sebesar 0,3 % hingga 0,5 % .
(Bangkapos.com/Kompas.com/Tribunnews.com)