TRIBUNMANADO.CO.ID – Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta, pusat peringatan dini siklon tropis yang dikelola oleh BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait perkembangan Siklon Tropis EX-NARELLE.
Melalui akun resmi instagram BMKG, yang dikutip Tribun Manado pada Senin (23/3/2026) pagi ini disebutkan, sistem cuaca tersebut terpantau berada di daratan Australia Utara dan diperkirakan akan memengaruhi kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemutakhiran data pada Minggu (22/3/2026) pukul 19.00 WIB, sistem ini merupakan kelanjutan dari bibit siklon 96P yang sempat menguat menjadi Siklon Tropis Narelle pada 17 Maret lalu.
BMKG memaparkan dua fase perkembangan EX-NARELLE dalam dua hari ke depan:
Dalam 24 Jam ke depan sistem diprediksi memiliki potensi rendah untuk kembali menguat menjadi siklon tropis saat bergerak ke arah Barat - Barat Daya.
Sementara dalam 48 jam ke depan intensitas sistem diprediksi meningkat ke kategori sedang hingga tinggi.
Hal ini terjadi saat sistem bergerak keluar dari daratan Australia menuju perairan terbuka, di mana ia berpotensi besar kembali menjadi Siklon Tropis.
Meskipun pusat siklon berada di daratan Australia, BMKG memperingatkan adanya dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca dan perairan di Indonesia.
Hal ini berpotensi meningkatnya intensitas hujan dari kategori sedang hingga lebat di beberapa wilayah.
Juga berpotensi embusan angin dengan kecepatan tinggi yang dipicu oleh pola sirkulasi sistem tersebut.
Jua berpotensi meningkatnya tinggi gelombang di beberapa wilayah perairan Indonesia.
"Keberadaan sistem tersebut memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi hujan dan perairan Indonesia," tulis pihak BMKG melalui akun resmi @infobmkg.
Disadir dari BMKG, Siklon Tropis Narelle dan Ex-Narelle adalah fenomena cuaca yang berkaitan erat, di mana satu merupakan fase aktif dan yang lainnya adalah fase sisa atau peluruhan dari sistem badai yang sama.
Berikut adalah penjelasan detailnya:
Siklon Tropis NARELLEadalah sistem badai bertekanan rendah yang kuat, berputar, dan terbentuk di atas perairan hangat (biasanya di sekitar Laut Koral atau utara Australia).
Karakteristiknya memiliki kecepatan angin tinggi, sering kali mencapai intensitas tinggi (Kategori 3 hingga 4) dengan mata badai yang terorganisir.
Dampaknya bisa membawa hujan lebat, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah terdampak. Darilaut.id +5
Sementara EX-NARELLE adalah fase di mana sistem siklon NARELLE telah melemah, kehilangan struktur mata badai, dan kecepatan anginnya turun di bawah kekuatan siklon tropis (di bawah 35 knot atau 65 km/jam).
Karakteristiknya, beskipun bukan lagi siklon tropis yang terorganisir, sisa-sisa sistem ini (Ex-Narelle) masih membawa massa uap air yang banyak.
Ex-Narelle sering kali tetap menyebabkan cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang di wilayah yang dilaluinya, termasuk berpotensi berdampak pada wilayah Indonesia bagian selatan.
WhatsApp TribunManado.co.id : KLIK