BANGKAPOS.COM - Edi Rasidi (50), pedagang siomay asal Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah nekat mudik jalan kaki sambil mendorong gerobak.
Edi yang merantau ke Cilacap harus menempuh perjalanan panjang untuk bisa sampai ke kampung halamannya di Pemalang.
Jarak antara Cilacap ke Pemalang diperkirakan lebih dari 130 kilometer.
Aksi mudik jalan kaki ini dilakukan Edi semata-mata untuk menunaikan nazarnya setelah dirinya pernah mengalami kecelakaan pada kakinya.
Melansir Tribun Jateng, Edi bersandal jepit berjalan pelan melangkah di bawah terik matahari.
Baca juga: Cerita Viral Mulyadi Mudik ke Sumbar Bawa Uang Cash THR Rp 50 Juta untuk Sanak Saudara
Pria asal Desa Banyumudal, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang itu menargetkan lima hari lima malam perjalanan untuk sampai Pemalang.
Baca juga: Ambulans Nekat Terobos Kemacetan di Garut, Dikejar Polisi Ternyata Angkut Rombongan Pemudik
Pria ini juga mendorong serta gerobak siomay miliknya menyusuri jalur utama Banyumas- Purbalingga.
Di gerobak itu tertulis tulisan "Aja Ngeluh Ora Due Duit, Mudik Mlaku Taklakoni, Demi Njlaluk Pangapura, Negara Makmur Go Kasab Angel Temen, Demi Sungkem Nyong Mudik Mlaku Cilacap - Pemalang."
"Saya perjalanan dari Sampang Cilacap tujuan Pemalang," kata Edy kepada Tribunjateng.com, Selasa (17/3/2026) di sela perjalanan di Masjid Darul Najah, Kecamatan Bojongsari, Purbalingga.
Rupanya dia sedang menjalani perjalanan mudik yang tak biasa.
Bukan menggunakan motor atau bus seperti kebanyakan perantau.
Perjalanan itu bukan sekadar pulang kampung.
Edy memiliki nazar untuk berjalan kaki yang dia ikrarkan setelah mengalami kecelakaan sekira dua tahun lalu.
"Nazar itu karena saya dulu pernah kecelakaan di kaki. Dengkul saya sempat lepas karena terkilir."
"Waktu itu satu kaki tidak bisa jalan," tutur dia.
Kecelakaan tersebut terjadi saat ia terjatuh dari motor.
Dalam kondisi itu, Edy sempat bernazar. Kalau nanti bisa sembuh dan bisa jalan lagi, dia ingin pulang kampung jalan kaki.
Kini, setelah kakinya pulih, nazar itu benar-benar ia jalankan.
Perjalanan dimulai Senin (16/3/2026) sekira pukul 06.00.
Kalau menggunakan motor, perjalanan tersebut sebenarnya tidak terlalu jauh dan sekira tiga jam sudah sampai.
Namun dengan berjalan kaki sambil mendorong gerobak, Edy memperkirakan perjalanan akan memakan waktu jauh lebih lama.
"Kalau jalan kaki saya perkirakan empat hari empat malam," ujarnya.
Dia menargetkan bisa sampai kampung halaman pada Kamis (20/3/2026) malam.
Gerobak siomay yang didorongnya bukan sekadar alat berdagang, tetapi juga bagian dari rencana hidupnya ke depan.
"Saya menggunakan gerobak, jalan kaki. Tujuannya gerobak ini mau dibawa pulang ke kampung buat jualan juga di sana," ujarnya.
Selama perjalanan, Edy membawa bekal yang sangat sederhana, yaitu tekad.
Dia bahkan hanya membawa uang saku Rp 40 ribu saat memulai perjalanan.
Di sepanjang perjalanan, dia sesekali mendapat bantuan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan.
"Alhamdulillah ada yang support di pinggir jalan. Ada sekira satu sampai tiga orang yang langsung membantu," ujarnya.
Selain itu, Edy juga melakukan siaran langsung (live) selama perjalanan.
Dia mengaku ada teman yang membantu membelikan kuota internet agar ia tetap bisa melakukan live.
Edy baru enam bulan merantau di Sampang Cilacap. Dia tinggal sendiri di sana dengan menyewa kamar kos.
Keputusan merantau itu diambil karena ingin mencoba pengalaman baru.
Sebelum merantau ke Sampang, Edy sebenarnya sudah lama berjualan siomay di kampung halamannya di Pemalang.
"Kalau di Pemalang dulu sudah sekira 20 tahun, bahkan hampir 22 tahun sebelum corona," tuturnya.
Di sana ia juga membuat sendiri semua bahan siomay yang dijualnya. Namun dalam beberapa tahun terakhir, penghasilan dari berjualan siomay tidak menentu.
"Untuk tahun-tahun sekarang penghasilan saya tidak bisa diperjelas. Sangat jauh berbeda dari dulu," ujarnya.
Meski begitu, menurutnya hasil tersebut masih cukup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
"Kalau untuk makan saja cukup," katanya.
Perjalanan mudik ini juga menjadi momen penting baginya untuk kembali berkumpul dengan keluarga. Di rumah, masih ada orangtua, istri, dan anak yang menunggu kepulangannya.
"Di rumah masih ada anak, istri, ibu, dan bapak," katanya.
Selama merantau di Sampang Cilacap, dia tinggal sendirian jauh dari keluarga.
Karena itu, perjalanan ini dia jalani dengan semangat untuk bisa kembali bertemu mereka.
"Ini demi bertemu keluarga," ujarnya.
Selama perjalanan, Edy memilih jalur utama agar lebih mudah dilalui gerobaknya.
"Iya, ini jalur utama. Pilih jalur yang tanjakannya tidak terlalu banyak," katanya.
Meski begitu, ia tetap harus menghadapi sejumlah tanjakan di jalur menuju Pemalang, terutama di Purbalingga.
Ia bahkan sudah memperhitungkan tantangan tersebut.
"Total ada enam tanjakan. Yang paling ekstrem ada empat, terutama di Bayeman dan Karangreja. Itu panjang dan cukup berat," ujarnya.
Dalam perjalanan, Edy biasanya beristirahat dan bermalam di masjid. Sejauh ini dia sudah singgah di beberapa tempat.
"Saya baru tiga kali singgah. Pertama di Kalibagor, lalu di Sokaraja, dan sekarang di sini. Tadi malam bermalam di masjid di Sokaraja," ujarnya.
Untuk malam-malam berikutnya, dia juga berencana kembali beristirahat di masjid.
Meski sedang menjalani perjalanan panjang, Edy tetap berusaha menjalankan ibadah puasa.
"Alhamdulillah tetap puasa," ujarnya.
Namun dia akan menyesuaikan dengan kondisi tubuh. Sepanjang perjalanan, Edy berjalan menggunakan sandal.
Dia tidak terbiasa menggunakan sepatu. Dia juga tidak membawa dagangan selama perjalanan.
Menurutnya, membawa bahan dagangan justru akan menyulitkan.
"Kalau bawa dagangan nanti repot masaknya, perjalanan sampai empat hari," katanya.
Sebelum memulai perjalanan, ia masih sempat berjualan.
"Terakhir jualan malam Senin, sebelum berangkat pagi," ujarnya.
Kini, dengan gerobak siomay yang terus ia dorong perlahan, Edy menjalani perjalanan panjang itu dengan harapan sederhana, sampai di kampung halaman, menunaikan nazar, dan kembali berkumpul bersama keluarga pada momentum Lebaran.