Perang Timur Tengah, PHRI Takutkan Akomodasi Pariwisata di Bali Perang Tarif: Kita Tetap Berusaha
Putu Dewi Adi Damayanthi March 23, 2026 08:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Dampak perang di wilayah Timur Tengah saat ini memang belum dirasakan pelaku dunia pariwisata di Bali. 

Kendati demikian, jika perang terus berlarut-larut, maka dampaknya akan terasa.

Bahkan kini jumlah kunjungan wisatawan sejatinya sudah merosot, namun karena belum momen libur hal itu tidak terasa. 

Namun nanti akan dirasa signifikan, karena terjadinya gangguan penerbangan.

Baca juga: Meamuk-amukan Padang Bulia Buleleng, Tradisi Perang Api Penuh Makna Sambut Nyepi

Tidak hanya itu, di Bali juga nantinya akomodasi pariwisata akan terjadi perang tarif. 

Hal itu pun dikatakan Wakil Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali I Gusti Ngurah Rai Suryawijaya saat dikonfirmasi terkait dampak perang saat ini.

"Yang saya takutkan nanti akan terjadi perang tarif, jika kunjungan pariwisata mulai terasa menurun. Namun kita tetap berusaha agar Bali tetap menjadi primadona untuk dikunjungi," ujarnya.

Dia mengakui pelaku pariwisata sejatinya sudah was-was, mengingat adanya penundaan penerbangan dari Middle East atau negara-negara yang berada di Timur Tengah. 

Kendati demikian diharapkan wisatawan domestik bisa meningkat.

“Kalau berbicara masalah domestik, biasanya meningkat saat momen Lebaran yang akan datang. Bahkan peningkatan diangka 10-15 persen. Tapi untuk tahun ini kita belum memastikan akan meningkat atau tidak, dengan situasi saat ini," bebernya

Diakui saat ini memang bukan musim liburan, namun untuk wisatawan Mancanegara biasanya ramai karena adanya Meetings, Incentives, Conferences, and Exhibitions (MICE) yang dilaksanakan di Bali.

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Badung, I Nyoman Rudiarta sebelumnya mengakui tingkat hunian sampai diangka 40 persen. 

Penurunan aktivitas ini terasa signifikan pada beberapa destinasi unggulan yang biasanya didominasi oleh turis asing. 

Meski demikian, pemerintah daerah tetap mematangkan kesiapan fasilitas menyambut momentum libur panjang di tengah persaingan ketat dengan destinasi mancanegara lain seperti Singapura dan Thailand.

"Sebenarnya Bali tetap menjadi primadona meski kompetitor internasional maupun domestik
 Namun saat ini Jogja juga kuat," ucapnya.

"Berdasarkan sampel dari puluhan hotel, rata-rata okupansi saat ini masih bertahan di angka menengah," sambungnya Rudiarta. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.