Buntut Nafsu Donald Trump di Perang Iran vs Amerika, Negara Teluk Jadi Sasaran Pasukan Khamenei
Nia Kurniawan March 23, 2026 09:19 AM

TRIBUNKALTENG.COM - Update perang Iran vs Amerika. Pada 21 Maret, Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan melakukan serangan skala besar terhadap infrastruktur energi Iran jika Teheran gagal membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam.

Pada sebuah unggahan di Truth Social, Trump mengatakan Washington akan menargetkan “berbagai pembangkit listrik, dimulai dari yang terbesar,” jika jalur air strategis tersebut tetap ditutup. 

Baca juga: Terupdate Perang Iran vs Amerika, AS-Inggris Siaga Kini Kapal Selam Nuklir Menuju Laur Arab

Peringatan ini muncul ketika ancaman Iran secara efektif menghentikan lalu lintas melalui selat tersebut, koridor penting untuk minyak mentah Timur Tengah, yang mendorong kenaikan harga minyak global secara berkelanjutan.

Para pengamat mengatakan bahwa pernyataan Trump yang merujuk pada pembangkit listrik, yang tidak hanya mendukung operasi militer tetapi juga industri, komunikasi, dan sistem pengendalian iklim, menunjukkan kemungkinan serangan yang lebih luas yang bertujuan untuk mengganggu fungsi inti negara Iran.

Iran menanggapi dengan peringatannya sendiri. Menurut Reuters dan laporan lainnya pada 22 Maret, militer Iran mengatakan akan menyerang semua fasilitas energi, teknologi informasi, dan desalinasi AS di wilayah tersebut jika Washington menargetkan infrastruktur bahan bakar dan energi Iran.

Teheran juga telah memberi sinyal kesiapannya untuk meningkatkan eskalasi. Pada 20 Maret, mereka meluncurkan rudal balistik ke arah pangkalan militer gabungan Inggris-AS di Diego Garcia di Kepulauan Chagos di Samudra Hindia, sekitar 4.000 kilometer dari daratan utamanya.

Karena kedua belah pihak meningkatkan kemungkinan serangan terhadap infrastruktur non-militer, kekhawatiran meningkat atas konflik yang berkepanjangan. 

Secara khusus, setiap serangan terhadap fasilitas desalinasi dapat mengakibatkan korban sipil yang signifikan, mengingat ketergantungan Timur Tengah yang besar pada sistem tersebut untuk pasokan air. 

Reuters melaporkan bahwa meningkatnya ancaman terhadap infrastruktur Teluk menunjukkan bahwa konflik memasuki fase yang lebih berbahaya.

Sementara itu, Penasihat Keamanan Nasional Korea Selatan Wi Sung-lac diperkirakan akan segera mengunjungi Washington untuk membahas seruan Trump agar sekutu memberikan kontribusi terkait Selat Hormuz. 

Trump telah berulang kali mendesak sekutu, termasuk Korea Selatan dan Jepang, untuk membantu memulihkan jalur aman melalui perairan tersebut, dan kunjungan ini dipandang sebagai upaya untuk lebih memahami posisi Washington.

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian meluas setelah sebuah helikopter militer Qatar jatuh dan menewaskan enam orang di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Teluk.

Insiden ini terjadi saat situasi geopolitik Timur Tengah memanas, menyusul ancaman langsung terhadap jalur energi global dan infrastruktur vital di kawasan tersebut.

Kementerian Pertahanan Qatar melaporkan helikopter militer mereka mengalami kecelakaan saat menjalankan misi rutin di perairan negara tersebut.

Sebanyak enam orang dilaporkan tewas, sementara satu korban lainnya masih dalam pencarian, seperti dikabarkan Times.

Pihak otoritas menyebut kecelakaan diduga akibat kerusakan teknis, namun investigasi lebih lanjut masih dilakukan.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer di kawasan Teluk akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran.

Trump memberi waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia, dikutip dari The Guardian.

Jika ultimatum itu tidak dipenuhi, AS mengancam akan menyerang fasilitas energi Iran, termasuk pembangkit listrik.

Langkah ini menandai peningkatan signifikan dalam konflik, karena target serangan tidak hanya bersifat militer tetapi juga menyasar infrastruktur strategis sipil.

Iran Ancam Balasan

Merespons ancaman tersebut, Iran memperingatkan akan melakukan serangan balasan terhadap fasilitas vital di negara-negara Teluk.

Reuters menuliskan, target yang disebut meliputi instalasi energi, kilang minyak, hingga fasilitas desalinasi air yang menjadi sumber utama air bersih di kawasan.

Di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei, Iran juga mengancam akan menutup Selat Hormuz secara total, yang berpotensi mengganggu distribusi energi global secara besar-besaran.

Konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari 2026 ini dilaporkan telah menewaskan ribuan orang dan terus meluas.

Selain korban jiwa, dampak ekonomi global mulai terlihat, termasuk kenaikan harga minyak dunia dan gangguan rantai pasok energi.

Ketegangan di kawasan juga ditandai dengan meningkatnya serangan rudal dan drone, serta ancaman terhadap fasilitas strategis lainnya.

Jatuhnya helikopter militer Qatar menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada negara yang terlibat langsung, tetapi mulai berdampak pada negara-negara di kawasan Teluk.

Jika eskalasi terus berlanjut, konflik ini berpotensi berkembang menjadi krisis global yang memengaruhi stabilitas energi, ekonomi, dan keamanan internasional.

(Tribunkalteng/Tribunnews)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.