SURYA.co.id – Ketegangan di Timur Tengah memasuki babak baru setelah Selat Hormuz dinyatakan tetap terbuka untuk pelayaran internasional oleh Iran, namun dengan pengecualian bagi kapal yang dianggap berafiliasi dengan musuh-musuh Iran.
Kebijakan ini muncul di tengah eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Perwakilan Iran untuk badan maritim PBB atau International Maritime Organization (IMO), Ali Mousavi memberikan klarifikasi mengenai status Selat Hormuz pada Minggu (22/3/2026).
Menurut Mousavi, jalur perairan tersebut pada dasarnya tetap terbuka bagi pengiriman internasional.
Meski begitu, Iran memberikan pengecualian tegas, kapal yang memiliki hubungan dengan "musuh-musuh Iran" dilarang melintas.
Bagi kapal-kapal yang tidak terkait dengan kelompok “musuh”, Iran tetap mewajibkan adanya koordinasi dengan otoritas keamanan dan keselamatan mereka sebelum melewati selat.
“Keamanan kapal dan seluruh awaknya memerlukan koordinasi dengan pihak berwenang Iran,” imbuhnya.
Mousavi menegaskan bahwa pihaknya siap bekerja sama dengan IMO dan negara lain untuk menjaga keamanan pelayaran dan melindungi para kru kapal di Teluk.
Menurutnya, diplomasi adalah prioritas utama Iran. Meski begitu, penghentian agresi sepenuhnya membutuhkan rasa saling percaya sebagai jaminan penting.
Baca juga: Setelah Longgarkan Impor Minyak Iran, Donald Trump Minta Blokade Selat Hormuz Segera Dibuka
Kebijakan Iran membuka Selat Hormuz secara selektif bukan berarti risiko hilang.
Justru, di pasar energi global, kondisi ini memunculkan tiga efek besar yang bisa mendorong harga minyak tetap tinggi.
Meskipun selat dibuka, perusahaan asuransi kapal tetap akan mematok tarif tinggi karena adanya risiko “salah identifikasi” atau penyitaan oleh Iran.
Dalam industri pelayaran, kenaikan premi asuransi otomatis menaikkan biaya pengiriman minyak.
Kapal-kapal yang harus memutar atau berganti bendera untuk menghindari “daftar hitam” Iran akan menambah biaya operasional pengiriman minyak.
Jika biaya logistik naik, maka harga minyak mentah ikut terdorong naik.
Investor minyak sangat sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik.
Selama masih ada label “kapal musuh dilarang melintas”, harga minyak mentah akan tetap fluktuatif (volatil) karena pasar belum melihat situasi benar-benar aman.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur utama bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia.
Gangguan kecil saja di wilayah ini bisa langsung mengguncang harga energi global.
Jika melihat situasi saat ini, ada beberapa kemungkinan skenario harga minyak dunia:
Artinya, keputusan Iran membuka selat secara selektif memang mencegah krisis langsung, tetapi belum cukup untuk menurunkan harga energi secara signifikan.
Dampak situasi di Selat Hormuz tidak hanya dirasakan oleh negara produsen minyak, tetapi juga masyarakat di banyak negara, termasuk Indonesia.
Jika harga minyak tidak stabil akibat “filter” Hormuz, biaya distribusi barang kebutuhan pokok akan ikut naik karena transportasi bergantung pada BBM.
Dampaknya bisa terlihat pada harga beras, gula, hingga tarif logistik.
Pemerintah kemungkinan harus bekerja lebih keras menahan harga BBM agar tidak naik di tengah fluktuasi harga minyak dunia.
Jika harga minyak global terus naik, beban subsidi energi juga berpotensi membengkak.
Di lapangan sendiri, ketegangan antara Iran dan AS maupun Israel belum mereda.
Setelah ultimatum yang dikeluarkan Trump, pihak Iran menjawabnya dengan tegas siap membalas jika AS benar-benar menyerang infrastruktur pembangkit listrik mereka.
Dilaporkan BBC, Sabtu (21/3/2026), rudal Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara Israel dan menghantam area pemukiman di Dimona serta kota Arad, Israel.
Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun Selat Hormuz dibuka, risiko konflik masih tinggi.
Dan selama konflik belum mereda, harga minyak dunia, yang pada akhirnya menentukan harga BBM di SPBU, masih berada di bawah bayang-bayang krisis geopolitik.
Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz, seiring dengan dibukanya lagi kuota impor minyak Iran sebesar 140 ribu barel oleh Amerika Serikat.
Dalam akun media sosialnya, Truth Social Trump memberikan ultimatum keras kepada Iran terkait penutupan Selat Hormuz di tengah eskalasi perang Timur Tengah.
Trump pada Sabtu (21/3/2026) menyatakan, Iran memiliki waktu 48 jam untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Jika tidak, AS mengancam akan menyerang dan menghancurkan infrastruktur energi Iran.
Ia menegaskan, AS akan menyerang dan menghancurkan pembangkit listrik Iran, dimulai dengan yang terbesar.
Presiden ke-47 AS itu juga menetapkan batas waktu hingga Senin pukul 23.44 GMT (Selasa, 06.44 WIB) sesuai waktu unggahannya.
Ultimatum ini muncul hanya sehari setelah Trump menyebut sedang berpikir mengakhiri operasi militer di Iran setelah tiga pekan perang.
Pada saat bersamaan, Selat Hormuz masih tertutup dan ribuan Marinir AS tambahan dilaporkan bergerak menuju Timur Tengah.