Libur Lebaran : Bocah 11 Tahun Tersengat Ikan Lepu Beracun di Pulau Tunda Serang, Begini Kondisinya
Ahmad Tajudin March 23, 2026 02:07 PM

TRIBUNBANTEN.COM, SERANG - Nasib memilukan dialami keluarga M. Hamzah, warga Desa Wargasara, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Banten.

Anaknya berusia 11 tahun, yang seharusnya menikmati momen bermain saat liburan Lebaran, justru harus menahan rasa sakit akibat sengatan ikan beracun jenis lepu (stonefish) tanpa penanganan medis yang memadai.

Ikan lepu adalah ikan laut predator dengan duri punggung, dubur, dan dada yang mengandung racun neurotoksin berbahaya, terutama ditemukan di terumbu karang. 

Sengatannya menyebabkan nyeri hebat, pusing, bengkak, bahkan fatal, sehingga memerlukan penanganan medis segera.

Peristiwa tersebut terjadi pada momen libur lebaran, Minggu (22/3/2026) sekitar pukul 14.00 WIB di Pantai Pulau Tunda. 

Saat itu, anak Hamzah sedang berenang bersama adiknya. 

Namun, suasana kebahagiaan mendadak berubah menjadi kepanikan ketika ia tersengat ikan beracun jenis lepo di bagian kaki.

“Awalnya hanya bermain seperti biasa, tapi setelah satu jam, anak saya tiba-tiba kesakitan. Kakinya langsung bengkak karena kena duri ikan beracun,” ungkap Hamzah saat dihubungi.

Baca juga: 5 Rekomendasi Warung Bakso Enak di Kota Serang, Cocok untuk Kulineran saat Lebaran

Ironisnya, dalam kondisi darurat tersebut, tidak ada satu pun tenaga medis yang dapat memberikan pertolongan. 

Fasilitas kesehatan yang tersedia di Pulau Tunda juga tidak diisi petugas saat dibutuhkan.

“Di puskesmas pembantu pulau tunda tidak ada bidan, tidak ada mantri. Padahal seharusnya mereka siaga untuk kondisi seperti ini,” katanya.

“Sepertinya medis libur lebaran. Pulang kerumahnya di luar biasa pulau,” tambah Hamzah.

Tanpa pilihan lain, Hamzah terpaksa mengandalkan pengobatan tradisional untuk meredakan rasa sakit anaknya.

Kondisi ini kembali menyoroti minimnya layanan kesehatan di wilayah kepulauan. 

Hamzah menilai, absennya tenaga kesehatan bukan sekadar kelalaian, melainkan persoalan serius yang terus berulang dan berdampak langsung pada keselamatan warga.

“Kami ini jauh dari daratan. Kalau harus berobat ke Serang atau Tirtayasa, butuh waktu dan biaya besar. Sementara kondisi darurat tidak bisa menunggu,” tegasnya.

Ia pun mendesak Pemerintah Kabupaten Serang untuk segera mengevaluasi kinerja tenaga kesehatan yang ditugaskan di Pulau Tunda. 

Hamzah berharap ada penempatan tenaga medis yang benar-benar siap tinggal dan mengabdi, bukan sekadar datang lalu pergi.

“Kalau bisa, utamakan putra-putri daerah. Yang memang tinggal di sini, jadi bisa cepat tanggap. Jangan sampai fasilitas ada, tapi tidak bisa dimanfaatkan,” pungkas Hamzah.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.