Naik Gunung Saat Lebaran, Cara Beda Merayakan Idulfitri
Joko Widiyarso March 23, 2026 02:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM - Perayaan Idulfitri biasanya identik dengan suasana rumah, berkumpul bersama keluarga, dan menikmati hidangan khas Lebaran.

Namun bagi sebagian orang, momen ini justru dimaknai dengan cara berbeda, salah satunya dengan mendaki gunung.

Seperti yang dilakukan sejumlah pendaki yang memanfaatkan libur panjang Lebaran untuk menjelajah dua gunung sekaligus, yakni Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. 

Salah satu pendaki, Linggar, asal Malang, mengaku memilih naik gunung karena libur Lebaran yang cukup panjang memberinya kesempatan menjelajah destinasi yang lebih jauh dari rumah.

Pendakiannya dimulai pada 21 hingga 22 Maret ke Gunung Sumbing melalui jalur Batursari, Desa Kledung, Kabupaten Temanggung, sebelum dilanjutkan ke Sindoro pada 23 Maret 2026.

“Karena libur Lebaran panjang, jadi bisa ke gunung yang jaraknya cukup jauh dari rumah. Sekalian memanfaatkan uang THR, dan ada juga teman-teman yang belum bisa mudik, akhirnya memilih mendaki,” ujarnya Minggu (22/3/2026) usai mendaki Gunung Sumbing.

Menurutnya, merayakan Idulfitri di gunung memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan di rumah. Setelah melaksanakan salat Id bersama warga setempat, para pendaki bahkan ikut dalam tradisi makan bersama yang digelar di masjid desa.

“Salat Id di rumah sudah biasa, tapi ini di tempat baru, ketemu orang-orang baru. Suasananya lebih sepi dari kota, dengan pemandangan gunung. Bahkan habis salat ada makan bersama, jadi bisa berbaur dengan warga,” katanya.

Meski demikian, kondisi alam tetap menjadi tantangan tersendiri. Suhu dingin di gunung menjadi hal yang paling dirasakan para pendaki, terutama saat berada di dalam tenda.

“Yang paling berat itu melawan hawa dingin, kadang bikin malas gerak walaupun sudah di dalam tenda,” ucapnya.

Cara beda, makna sama

Linggar menegaskan, meski dirayakan dengan cara berbeda, makna Lebaran tetap sama. Ia menyebut kemenangan setelah menjalani puasa tetap menjadi esensi utama, baik dirayakan di rumah maupun di alam terbuka.

“Mau di rumah atau di gunung, makna Lebaran tetap sama. Cuma cara merayakannya yang berbeda,” katanya.

Hal senada disampaikan pendaki lainnya, Bagus, yang berangkat dari Jogja. Ia mengatakan kesempatan libur panjang menjadi alasan utama dirinya memilih mendaki, mengingat kesibukan pekerjaan sehari-hari yang jarang memberi waktu luang.

“Kesempatannya jarang, apalagi pekerja kantoran. Pas ada libur panjang seperti ini jadi momen buat naik gunung,” ujarnya.

Ia juga mengaku terkejut dengan tingginya jumlah pendaki selama periode Lebaran. Menurutnya, banyak pendaki lain yang memiliki alasan serupa, yakni memanfaatkan waktu libur untuk beraktivitas di alam.

“Di gunung ternyata ramai banget, dan rata-rata alasannya sama, karena ada waktu libur,” katanya.

Di balik cara merayakan yang berbeda, Linggar mengingatkan bahwa esensi Lebaran tetap pada menjaga hubungan antarsesama. Ia menilai, baik dirayakan di rumah maupun di gunung, silaturahmi tetap harus dijaga.

“Yang di rumah atau di gunung sama saja, tetap harus saling menjaga silaturahmi. Setelah turun gunung ya tetap kumpul keluarga, karena momen Lebaran itu masih panjang di bulan Syawal,” ujarnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa cara masyarakat merayakan Idulfitri semakin beragam. Namun di tengah perbedaan itu, nilai kebersamaan dan silaturahmi tetap menjadi hal yang tidak tergantikan.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.