Minggu Sengsara V GMIM Imanuel Bahu Manado, Solidaritas untuk Perempuan di Nigeria
Chintya Rantung March 23, 2026 05:22 PM

TRIBUNMANADO.CO.ID - Warga gereja telah memasuki Minggu Sengsara V (kelima) sejak Minggu 22 Maret 2026.

Minggu Sengsara adalah masa-masa penghayatan terhadap penderitaan dan pengorbanan Yesus Kristus. 

Karya agung Allah menebus dosa umat manusia ini berpuncak pada peristiswa Jumat Agung dan Paskah. 

Minggu Sengsara V di Jemaat GMIM Imanuel Wilayah Manado Barat Daya (MBD) sesi kedua (mulai pukul 09.00 WITA dirangkaikan dengan Ibadah Hari Doa Sedunia yang bertema suara perempuan-perempuan di Nigeria. 

Dalam ibadah ini, diuraikan kisah-kisah dan doa-doa perempuan Kristen di Nigeria yang mengalami tekanan, intimidasi karena berbagai alasan. 

Setidaknya ada tiga kisah perempuan Kristen di Nigeria yang mencerminkan pengalaman dan pergumulan sebagai pengikut Kristus.

Pertama, Beatrice yang mengisahkan tentang penindasan sistemik di negara Afrika Barat tersebut. Ia seorang janda 28 tahun. Suaminya tewas dalam bentrokan antarkomunitas di Nigeria. 

Tidak sekadar kehilangan pasangan hidup tapi Beatrice hilang dalam kehidupan masyarakat. Pergumulan sebagai seorang janda tiga anak. Didera kemiskinan, sebagai ibu tunggal 

Kedua, kisah Jato seorang ibu Kristen yang tinggal di Nigeria Utara. Ia punya putri 14 tahun. Jato senantiasa dihantui kecemasan atas diskriminasi atas pemeluk Kristus oleh rezim Boko Haram. Hidup di bawah bayang-bayang penganiayaan karena agama. 

Meskipun demikian, Jato mengungkapma, karena kasih mereka boleh hidup berdampingan dengan tetangga Muslim. Kata Jato, amarah kerap muncul tapi ia selalu teringat: menjadi Kristen berarti siap pikul salib. Kristus meminta mereka menunjukkan kasih. 

Ketiga, kisah Blessing yang tinggal di Lagos. Katanya, Nigeria tenggelam dalam kemiskinan dan keputusasaan. Setiap hari warganya seolah terperangkap dalam siklus kekecewaan. 

Pemerintah lebih memilih berdiri sendiri dibanding rakyat. Sebuah karung beras menjadi barang mewah bagi setiap keluarga. Anak-anak muda cerdas penuh potensi tapi sulit dapat pekerjaan. 

Beberapa terjerumus ke kriminalitas, perampokan, kejahatan dan prostitusi. Kemiskinan merusak kesehatan mental warga. Nigeria adalah bangsa yang kaya akan sumber daya tapi miskin akan kepemimpinan dan harapan. Mereka berseru dan meratap. Tuhan kuatkanlah kami. 

Selalu ada cahaya di ujung lorong genap. Beatrice, Jato dan Blessing dan kawan-kawan perempuan Nigeria tetap menemukan harapan. Mereka tidak sendiri dalam pergumulan. 

Ketua Badan Pekerja Majelis Jemaat (BPMJ) GMIM Imanuel Bahu, Pdt Shedy Irene menjadi khadim mengungkapkan, Kisah ini bukan untuk menunjukkan keputusasaan tapi bagiamana Allah memberikan kelegaan. 

"Ini menjadi kesaksian dan menginspirasi kita mengangkat doa untuk mereka yang berbeban berat," kata Pendeta Shedy. 

Katanya, jemaat adalah tubuh Kristus. Satu menderita yang lain ikut menderita. Ketika satu mendapatkan kelegaan, semua bersukacita. 

Terkait itu, di masa-masa penghayatan Minggu Sengsara V, warga GMIM membaca dari Matius 26:57-68. Judul perikop ini, Yesus di Hadapan Mahkamah Agama.

Pendeta Shedy dalam khotbahnya mengungkapkan, Hidup orang Kristen bukan berarti tanpa gumul dan persoalan. 

Berkaca dari kehidupan Yesus. Meskipun anak Allah tapi diperhadapkan pada peradilan dunia. Sebuah ironi kemanusiaan. 

"Bagaimana dengan kita? Kita pun yang ada di Indonesia, di Sulut, di Manado juga ada merasakan beban yang dirasakan seperti sudara-saudara di Nigeria," katanya lagi. 

Ketidakadilan, persoalan ekonomi, kesehatan dan kehidupan sehari-hari merupakan realitas yang tidak bisa dilepaskan. 

Kata Pendeta, realitas lainnya ialah kerap kebenaran dikalahkan oleh berbagai kepentingan. Kebenaran kalah oleh iri hati, keserahakan, kesombongan, karena Otoritas. Ada yang dihukum bukan karena bersalah tapi karena tidak disukai. 

Jemaat diajak belajar dari perenungan firman sebagai berikut:

Siapa yang hidup dalam kebencian, ego dan cinta diri yang berlebihan dapat mengabaikan kebenaran dan cenderung menggunakan kekuasaan demi mendapatkan kepentingan

Sikap tenang yang kalem, tenang dan tidak terprovokasi menghadapi tekanan dan penderitaan menjadi teladan orang percaya dalam menghadapi pergumulan hidup. 

"Kita juga dilatih tidak menyimpan dendam. Jangan sampai menjadi akar pahit dalam diri," kata Pendeta Shedy berpesan. 

Selanjutnya, orang percaya harus taat dan setia serta mampu menguasai diri menghadapi kesukaran. 

Orang percaya menggunakan setiap kewenangan yang ada padanya untuk menyatakan kebenaran dan menunjukkan kebaikan. Bukan menghalalkan secara cara demi mencapai tujuan pribadi atau kelompok. 

Bertugas dalam ibadah sesi kedua ini, Koordinator Penyelenggara Ibadah (KPI), Pnt Johny Lasut; pendamping khadim Pelsus kolom 11, Pnt Herman Nayoan dan Dkn Meity Tilaar-Kelung. (ndo) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.