TRIBUNJAMBI.COM - Harga minyak dunia berpotensi melonjak dipicu konflik Iran, Israel, dan AS. Gangguan pasokan global serta kenaikan brent crude picu inflasi.
Harga minyak dunia diprediksi melonjak pada awal pekan, Senin (23/3/2026), dipicu meningkatnya konflik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Analis Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga crude oil bergerak fluktuatif dengan support di kisaran 93,3 dolar AS per barel dan resistansi hingga 107,1 dolar AS per barel.
Kenaikan signifikan terutama terjadi pada brent crude yang berdampak langsung pada sektor penerbangan karena meningkatnya biaya bahan bakar avtur.
Kondisi ini memicu efek berantai berupa kenaikan biaya logistik dan tekanan inflasi global.
“Ya karena yang kelihatan kenaikannya cukup tajam bukan crude oil tapi brain crude oil yang berdampak terhadap apa?
Terhadap transportasi penerbangan yang mengalami kenaikan yang cukup tajam ya sehingga berdampak terhadap inflasi,” paparnya.
Badan Energi Internasional (IEA) menyebut krisis pasokan energi saat ini berpotensi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah.
Baca juga: Diskon Sports Station Jambi dan Berbagai Brand Sepatu di Jamtos
Baca juga: Cara Menonaktifkan Fitur Download Otomatis di WhatsApp, Agar Memori HP Tak Penuh
Gangguan distribusi minyak, khususnya di kawasan Teluk dan Selat Hormuz, menyebabkan produksi minyak negara-negara Teluk turun hingga 10 juta barel per hari atau sekitar 10 persen dari permintaan global.
IEA juga memperkirakan pasokan minyak dunia bisa turun hingga 8 juta barel per hari pada Maret 2026 akibat terganggunya ekspor dari Timur Tengah.
Kondisi ini semakin memperkuat potensi kenaikan harga minyak dan risiko terhadap stabilitas ekonomi global. (*)
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: Pemkot Jambi Pastikan Pasokan BBM Aman Selama Idul Fitri 2026
Baca juga: Diskon Sports Station Jambi dan Berbagai Brand Sepatu di Jamtos