Tahok Pak Citro, Kuliner Pagi Legendaris Solo, Sajian Cocok Dinikmati di Momen Libur Lebaran
Putradi Pamungkas March 23, 2026 07:29 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO – Tahok Pak Citro menjadi salah satu kuliner legendaris di Solo yang selalu diburu, terutama saat momen Lebaran.

Sajian sederhana berbahan dasar kedelai ini bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan jejak sejarah kejayaan Pasar Gede sebagai bandar dagang besar di masa lalu.

Kuliner Ikonik di Jantung Kota Solo

Tahok Pak Citro setiap hari mangkal di jantung Kota Solo, tepatnya di ujung delta pertemuan Jalan Suryo Pranoto dan Jalan Urip Sumoharjo.

Jika Anda berada di sekitar Tugu Jam Pasar Gede, gerobak berwarna biru yang dikerumuni pelanggan di sisi utara menjadi penandanya.

Meski dijajakan secara sederhana, kuliner ini tak pernah kehilangan penggemar.

Sekitar 80 porsi tahok habis terjual setiap hari, baik oleh warga lokal maupun wisatawan yang datang ke Solo, termasuk saat libur Lebaran.

TAHOK PAK CITRO - Pemilik Tahok Pak Citro generasi kedua, Sentot saat melayani pelanggan. Tahok merupakan kuliner khas Solo dengan tekstur lebih halus dibanding wedang tahu atau kembang tahu dari daerah lain.
TAHOK PAK CITRO - Pemilik Tahok Pak Citro generasi kedua, Sentot saat melayani pelanggan. Tahok merupakan kuliner khas Solo dengan tekstur lebih halus dibanding wedang tahu atau kembang tahu dari daerah lain. (TribunSolo.com/Ahmad Syarifudin)

Resep Turun-Temurun, Cita Rasa Tetap Otentik

Kini, usaha Tahok Pak Citro dilanjutkan oleh putranya, Sentot.

Ia mulai melayani pelanggan sejak pukul 05.00 pagi hingga dagangan habis.

Sentot mengungkapkan, resep tahok yang dijual merupakan warisan dari sang ayah, yang mempelajarinya dari peranakan Tionghoa di Solo.

“Bapak saya dulu (belajar dari) orang chinese. Bapak asli jawa,” terang Sentot, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Obati Rindu Pemudik, Berikut 5 Kuliner Legendaris Solo yang Wajib Dicicipi saat Libur Lebaran

Perpaduan Rasa Tionghoa dan Jawa

Tahok di Solo memiliki keunikan tersendiri karena telah beradaptasi dengan lidah masyarakat Jawa.

Kuah hangatnya mirip wedang ronde, terbuat dari campuran jahe dan gula, serta diperkaya aroma serai, daun jeruk, dan pandan. 

Perpaduan ini menyatu dengan lembutnya saripati kedelai, menciptakan rasa hangat yang cocok dinikmati di pagi hari atau saat suasana Lebaran.

Berbeda dengan Versi Asli dari Tiongkok

Sejarawan Heri Priyatmoko menjelaskan, tahok di Solo sangat berbeda dengan versi aslinya di Tiongkok, terutama dari segi penyajian.

“Jangan dibayangkan tahok di tempat asalnya di Tiongkok seperti di Kota Bengawan karena berbeda sama sekali. Bentuk tahunya sama persis, rasanya juga sama persis, tapi paduannya yang berbeda dengan yang di Surakarta. Di sana “wedang tahu” diberi taburan udang-udang kecil (rebon) garing renyah, sedikit kuah kecap asin yang gurih, irisan sayur asin dan taburan daun bawang atau daun ketumbar. Sering sambil menyendok makanan ini, penyantapnya juga menggigit cakwe atau mantou,” jelasnya.

Baca juga: 7 Rekomendasi Toko Oleh-oleh di Solo Jateng, Surganya Kuliner Legendaris

Jejak Sejarah Perdagangan di Pasar Gede

Tahok juga menjadi bukti akulturasi budaya di Solo sejak ratusan tahun lalu. Kehadiran pedagang lintas etnis di kawasan Pasar Gede membawa berbagai tradisi kuliner yang kemudian beradaptasi dengan budaya lokal.

“Dari pengamatan saya, di Surakarta, penjual tahok mangkal di daerah Pecinan, yang notabene banyak dihuni kaum Tionghoa sedari era kerajaan. Diyakini mengada sejak kedatangan bangsa Tionghoa di Surakarta era abad XVI, yang dibuktikan dengan ramainya bandar perdagangan Bengawan Solo yang melibatkan pedagang lintas etnis. Mereka membawa kultur dan tradisi kuliner ke Surakarta, termasuk tahok. Hingga kini para konsumen tahok tersebut gampang mencari kuliner ini di sekitar Pasar Gedhe,” ungkapnya.

Rekomendasi Kuliner Solo Saat Lebaran

Bagi Anda yang berkunjung ke Solo saat Lebaran, Tahok Pak Citro bisa menjadi pilihan kuliner pagi yang wajib dicoba.

Selain menghangatkan tubuh, sajian ini juga menawarkan pengalaman menikmati sejarah dalam setiap suapan.

Di tengah maraknya kuliner modern, tahok tetap bertahan sebagai ikon kuliner tradisional yang sederhana namun kaya makna.

(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.