TRIBUNJAMBI.COM, TANJAB TIMUR - Kehadiran Jembatan Harapan Jaya yang menghubungkan Desa Sungai Dualap, Kecamatan Kuala Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat dengan Desa Pangkal Duri Ilir, Kecamatan Mendahara, Kabupaten Tanjung Jabung Timur membawa dampak bagi aktivitas masyarakat, Senin (23/3/2026).
Jembatan gantung sepanjang sekira 200 meter tersebut kini menjadi jalur utama mobilitas warga. Anak-anak sekolah hingga para petani memanfaatkan jembatan ini untuk beraktivitas sehari-hari.
Berdasarkan pantauan Tribunjambi.com di lokasi, jembatan tampak kokoh dan ramai dilintasi, terutama saat momen hari besar seperti Idulfitri.
Bahkan, jembatan ini kini menjadi titik yang kerap dikunjungi warga maupun pendatang.
Keunikan Jembatan Harapan Jaya terletak pada posisinya yang menghubungkan dua wilayah administratif berbeda.
Dari ujung timur, pengunjung masih berada di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Namun, hanya dalam hitungan menit menuju ujung barat, mereka sudah memasuki wilayah Kabupaten Tanjung Jabung Barat.
Kepala Desa Pangkal Duri Ilir, Nurhamang, membenarkan bahwa jembatan tersebut menjadi akses bagi masyarakat dua wilayah.
Ia mengungkapkan, sejak diresmikan pada 2024, keberadaan jembatan sangat membantu berbagai aktivitas warga.
Baca juga: Misteri Hilangnya Warga Kerinci di Ladang Akhirnya Terungkap Setelah 4 Hari
Baca juga: Cuaca Jambi 24 Maret 2026 Didominasi Awan Tebal, Bungo Diguyur Hujan
"Jembatan ini menjadi penghubung penting antara dua desa dan dua kabupaten. Akses masyarakat jauh lebih mudah, terutama untuk anak sekolah dan para petani," katanya.
Ia menjelaskan, sebelum jembatan dibangun, masyarakat harus menggunakan perahu atau sampan untuk menyeberang. Kondisi tersebut dinilai cukup berisiko dan memakan waktu.
"Dulu anak-anak sekolah sering kesulitan, bahkan ada yang bajunya basah dan perlengkapan sekolahnya tenggelam. Warga juga harus antre karena jumlah perahu terbatas," ujarnya.
Menurutnya, keberadaan jembatan tidak hanya mempermudah akses, tetapi juga mendorong perkembangan sektor pendidikan, termasuk aktivitas pondok pesantren di wilayah seberang yang banyak diikuti santri dari Pangkal Duri Ilir.
"Sekarang akses menuju fasilitas pendidikan lebih mudah dan ini berdampak pada perkembangan pesantren," tegasnya.
Selain itu, aktivitas ekonomi warga juga mengalami peningkatan. Distribusi hasil perkebunan menjadi lebih lancar dibandingkan sebelumnya.
Ia juga menyebut pemerintah desa, turut melakukan pengaturan untuk menjaga keamanan jembatan dengan membatasi jumlah pengguna.
"Kami batasi maksimal 40 orang melintas secara bersamaan demi keselamatan," ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat yang telah memfasilitasi pembangunan jembatan melalui dana APBN.
"Alhamdulillah, kami sangat berterima kasih kepada anggota DPR RI dapil Jambi, H. Bakri Jembatan ini benar - benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," tuturnya.
Di sisi lain, warga setempat juga mengaku sangat terbantu dengan keberadaan jembatan tersebut.
Zakiyyah Wahida (25) mengatakan, akses perjalanan kini menjadi lebih mudah, terutama saat bepergian ke Kuala Tungkal maupun Kota Jambi.
"Sekarang tidak harus bergantung pada jalur air. Dulu harus menyesuaikan pasang surut dan tidak setiap waktu bisa berangkat," katanya.
Ia menambahkan, jembatan ini juga mulai menjadi ikon desa karena banyak warga dan pengunjung yang datang untuk sekadar melihat atau melintas.
Meski demikian, ia berharap pembangunan infrastruktur lain turut diperhatikan, terutama akses jalan menuju kecamatan dan kabupaten yang masih berlumpur saat hujan.
Hal senada disampaikan Salsabila Ahlina (25). Ia mengingat kembali kondisi beberapa tahun lalu saat masyarakat masih bergantung pada perahu.
"Sekarang jauh lebih mudah. Dulu menyeberang itu ada risiko, bisa karam dan harus mengayuh sendiri," ujarnya.
Ia berharap pemerintah dapat terus meningkatkan fasilitas, khususnya perbaikan jalan agar mobilitas warga semakin lancar.
Sementara itu, Nadiya Qotrunnada Tohiri (26) menilai keberadaan jembatan sangat terasa manfaatnya, terutama saat momentum Lebaran.
"Dengan adanya jembatan ini, mobilitas keluar masuk desa jadi lebih cepat. Silaturahmi juga lebih mudah karena waktu tempuh jauh lebih singkat," jelasnya.
Ia menyebutkan, perjalanan yang sebelumnya memakan waktu lebih lama kini bisa ditempuh sekira 15 hingga 30 menit, tergantung kondisi cuaca.
Ia berharap ke depan program pembangunan yang dilakukan pemerintah semakin tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masyarakat.
"Seperti jembatan ini, manfaatnya langsung dirasakan. Harapannya program lain juga bisa menyentuh kebutuhan masyarakat secara nyata," pungkasnya. (Tribunjambi.com/Khusnul Khotimah)
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: Misteri Hilangnya Warga Kerinci di Ladang Akhirnya Terungkap Setelah 4 Hari
Baca juga: Niat dan Syarat Qada Puasa Ramadan Mulai Bulan Syawal hingga Syakban