TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Kerja keras tak akan pernah mengkhianati hasil, begitu pun kerelaan melepaskan sesuatu yang berharga untuk menuai kesuksesan.
Kalimat ini sangat tepat disematkan pada pemilik usaha Souvenir Murah Bondowoso, Sri Welas Asih (35).
Wanita kelahiran 26 Juni 1991 itu memulai usaha souvenirnya sejak 2016 lalu. Berawal, ia harus mencari tambahan penghasilan untuk biaya kuliah di IKIP PGRI jurusan Matematika kelas jauh. Tak disangka, usahanya kini beromzet puluhan juta rupiah.
Sembari menjadi penyiar radio, admin studio foto, dan guru sukwan di salah satu madrasah, wanita yang akrab disapa Kasih itu melihat temannya membuat bros pita. Namun, sang teman terkendala dalam hal pemasaran.
Akhirnya, Kasih membantu menjual bros tersebut melalui akun Facebook dan blog. Saat itu penjualan belum terlalu banyak. Namun, Kasih tak menyerah. Meski baru menikah, ia tetap bekerja sama dengan temannya.
Setahun kemudian, tepatnya pada 2016, Kasih mencoba menjual produk tersebut melalui aplikasi Shopee dan Tokopedia. Tak disangka, pemesanan bros membeludak. Kasih mencatat pendapatan per bulannya saat itu bahkan menembus jutaan rupiah. Karena pesanan kian banyak, Kasih pun belajar perlahan membuat bros sendiri untuk membantu produksinya.
"Sebab kalau di Shopee ada batas waktu pengiriman, kalau lewat bisa kena penalti atau penutupan akun. Jadi sistem pre-order (PO) tidak boleh lama-lama," jelasnya saat dikonfirmasi di sela-sela mengerjakan pesanan parsel Lebaran, Rabu (18/3/2026).
Ia mulai mendapatkan pesanan bros untuk suvenir pernikahan dari temannya yang bernama Ariana. Pesanan pertama dibuat dengan harga Rp5 ribu per buah. Produk ini kemudian diunggah ke media sosial dan mendapat respons positif.
Melihat potensi tersebut, ibu mertuanya memberikan masukan. Kasih pandai membuat suvenir, sementara suaminya jago mendesain undangan pernikahan.
Untuk membuka usaha itu, Kasih nekat menjual semua perhiasannya, bahkan mahar pernikahannya, sebagai modal. Total terkumpul sekitar Rp10 juta.
"Saya izin ke ibu mertua, dan beliau meyakinkan saya pasti bisa. Suami juga sangat mendukung," kenang ibu dua anak ini.
Modal tersebut dikelola dengan cermat. Barang dagangan pertamanya adalah mika suvenir. Ia melakukan survei harga mika di seluruh toko di Bondowoso, kemudian mencari harga paling murah hingga ke Jakarta. Keberuntungan berpihak padanya; Kasih bertemu pemasok mika di Jakarta dengan harga Rp1.200 per buah, jauh di bawah harga pasar yang mencapai Rp1.500.
"Saya bahkan diperbolehkan oleh pemasok itu untuk menjual di Shopee dengan harga paling murah dibanding toko lain," ungkapnya haru.
Seiring berjalannya waktu, usaha Kasih berkembang pesat. Ia sempat mempekerjakan sekitar 15 orang di rumah ibu mertuanya di Kampung Templek, Kecamatan Bondowoso.
Namun, perjalanan tak selalu mulus. Kasih pernah tertipu Rp13 juta saat memesan produk dompet batik kualitas premium di Bandung sekitar tahun 2020.
"Sudah saya bayar lunas, tapi barang tak kunjung datang dan orangnya tidak bisa dihubungi," terangnya.
Tak ingin terpuruk, Kasih yang dikejar tenggat waktu segera bergerak bersama suaminya. Setelah mempelajari bahan produk premium dari media sosial dan mengalkulasi harga, ia memutuskan untuk memproduksi sendiri.
"Ternyata bisa," urainya.
Demi fokus mengelola bisnis, Kasih rela melepas karier mengajar dan studinya yang tinggal selangkah lagi.
"Tinggal sidang saja sebenarnya, tapi saya tidak datang sidang karena sudah merasa nyaman dan fokus di bisnis ini," ujarnya.
Kini, usahanya didukung oleh 4 karyawan tetap dan 2 karyawan lepas. Ia juga memiliki tiga gudang di Desa Sumbersalam, Kecamatan Tenggarang, yang berfungsi sebagai rumah produksi, gudang barang, serta ruang pamer (showroom). Omzetnya kini berkisar di angka Rp30 juta.
"Semua pemasaran dilakukan secara digital melalui TikTok, Instagram, dan Facebook," pungkasnya.
(Sinca Ari Pangistu/TribunJatimTimur.com)