Ultimatum Donald Trump Guncang Selat Hormuz, Pasar Saham Asia Rontok, Harga Emas Ikut Jatuh
Adrianus Adhi March 23, 2026 08:32 PM

SURYA.co.id - Pasar saham Asia-Pasifik jatuh setelah ultimatum Donald Trump kepada Iran yang memicu kekhawatiran energi global. Harga emas anjlok ke level terendah sejak November 2025.

Untuk diketahui, pasar saham Asia-Pasifik rontok pada Senin (23/3/2026) setelah ultimatum Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada Iran yang memicu kekhawatiran baru soal pasokan energi global dan masa depan Selat Hormuz.

Al Jazeera melaporkan indeks Nikkei 225 Jepang dan KOSPI Korea Selatan sempat merosot tajam, sementara indeks Hang Seng Hong Kong juga ikut tertekan.

Sementara, Reuters mencatat penurunan terjadi setelah AS dan Iran kembali saling melontarkan ancaman ketika perang di Teluk memasuki pekan keempat. Nikkei turun 3,8 persen, KOSPI melemah 5,2 persen, sementara tekanan menjalar ke bursa lain dan mendorong lonjakan imbal hasil obligasi.

AP melaporkan pasar saham di Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Taiwan, China, dan Australia sama-sama bergerak di zona merah karena pelaku pasar menghindari aset berisiko.

Baca juga: Amerika Serikat Dikabarkan Tambah 2.200 Pasukan ke Timur Tengah, Ada Spekulasi Perang Darat di Iran?

Tak hanya itu, Harga emas yang selama ini disebut safe heaven juga ikut tertekan di tengah konflik Timur Tengah.

Harga emas sehari ini diperdagangkan di US$ 4226,57 per troy ons atau ambruk 5,8 % pada Senin (23/3/2026) pukul 14.01 WIB.

Harga emas produksi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk. juga ikut ambruk.

Berdasarkan data logammulia.com pukul 09.31 WIB, harga emas satuan 1 gram dibanderol Rp2.843.000 per batang, turun Rp50.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Ambruknya harga emas Antam memperpanjang tren negatif, dengan total penurunan Rp153.000 hanya dalam lima hari.

Harga buyback emas Antam juga anjlok ke Rp2.560.000 per gram, turun Rp50.000.

Selat Hormuz dan Lonjakan Harga Energi

Pemicu utama gejolak ini adalah ultimatum Trump kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi serangan terhadap pembangkit listrik Iran.

Ancaman tersebut memperbesar kecemasan investor karena Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman minyak dan gas dunia.

Iran membalas dengan ancaman serangan terhadap infrastruktur energi di kawasan jika AS merealisasikan ultimatum itu.

Baca juga: Iran Jawab Ancaman Donald Trump di Selat Hormuz dengan Ancaman Serangan Pusat Energi di Teluk

Reuters melaporkan harga minyak Brent diperdagangkan di kisaran 112,62 dolar AS per barel

Kenaikan harga energi memperburuk kekhawatiran inflasi global dan memunculkan kekhawatiran bahwa bank sentral akan lebih sulit menurunkan suku bunga.

Wall Street Journal menilai perang berkepanjangan berpotensi memicu guncangan inflasi baru, tidak hanya pada energi, tetapi juga komoditas lain seperti pupuk, pangan, dan penerbangan.

(Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.