WARTAKOTALIVE.COM – Harapan dunia untuk menghindari 'Kiamat Energi' kembali kandas di tengah pertumpahan darah yang kian liar di Timur Tengah.
Beberapa saat setelah Presiden AS Donald Trump mengeklaim adanya dialog damai yang 'produktif', militer Israel justru melancarkan serangan udara brutal ke jantung ibu kota Iran, Teheran, pada Senin (23/3/2026), dilansir dari CNN.
Adu otot geopolitik ini kembali menelan korban warga sipil yang tak berdosa.
Baca juga: Harga Minyak Dunia Langsung Turun Usai Trump Tunda Serangan ke Iran, Gairah Ekonomi Global Bangkit
Serangan mendadak Israel meruntuhkan sejumlah bangunan tempat tinggal di tengah kota Teheran.
Isak tangis dan jeritan keputusasaan pecah di tengah reruntuhan.
Tim Bulan Sabit Merah Iran kini tengah berjuang melawan waktu, merangkak di bawah tumpukan beton untuk mencari seorang anak yang dilaporkan hilang.
Tragedi ini menonjolkan sisi human interest yang menyentuh hati; di mana nasib seorang anak kini bergantung pada keberanian para penyelamat di tengah bayang-bayang ancaman serangan susulan.
Ketakutan akan kegelapan abadi kini menghantui seluruh warga sipil di kawasan konflik tersebut.
Sinyal Damai Berubah Jadi Kekacauan Global
Anjloknya harga minyak dunia setelah pernyataan sinyal damai Trump hanya berlangsung sesaat.
Kini, dunia bersiap menghadapi krisis energi yang jauh lebih parah daripada tahun 1973.
Pasar merespons kembalinya kekacauan di lapangan dengan lonjakan harga energi yang tak terkendali, mencekik ekonomi global secara masif.
Pihak Iran secara tegas membantah adanya dialog dengan Washington.
Teheran menyebut klaim Trump sebagai upaya manipulasi untuk menurunkan harga energi dan mengulur waktu untuk menyusun rencana militer yang lebih besar.
"Permintaan untuk mengurangi ketegangan harus dirujuk ke Washington, karena kami bukanlah pihak yang memulai perang ini," tegas Kementerian Luar Negeri Iran.
Persenjataan Regional dan Kegagalan Mediasi
Jendela diplomasi lima hari yang sempat dibuka Trump kini tampak sebagai sekadar ketenangan sesaat sebelum badai.
Sementara Trump menggembar-gemborkan dialog, administrasinya justru tengah sibuk mempercepat penjualan senjata ke negara-negara Teluk seperti Saudi Arabia, Uni Emirat Arab, dan Kuwait untuk memperkuat pertahanan mereka dari serangan balasan Iran.
Qatar, yang selama ini diharapkan menjadi mediator, menegaskan bahwa mereka tidak terlibat dalam upaya mediasi apa pun.
Diplomat Qatar menyatakan bahwa saat ini Doha fokus pada membela negara setelah fasilitas gas mereka menjadi sasaran serangan Iran.
Kegagalan mediasi spiritual yang diandalkan Paus Leo XIV kian memperparah ketidakpastian global, meninggalkan Timur Tengah di ujung tanduk 'kiamat energi' permanen.
Sebelumnya, isyarat damai yang tak terduga antara Amerika Serikat dan Iran telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar energi global.
Harga minyak dunia langsung turun dan tersungkur dari level tertingginya pada hari Senin (23/3/2026), hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal kuat mengenai kemajuan luar biasa dalam pembicaraan rahasia dengan Teheran untuk mengakhiri permusuhan total di Timur Tengah.
Pasar bereaksi masif, seperti dilaporkan CNN, Senin.
Minyak mentah Brent, patokan global, anjlok lebih dari 7 persen , jatuh dari puncaknya $114 menjadi di bawah $99 per barel.
Nada serupa terjadi pada WTI, patokan AS, yang merosot 8 % menjadi $90 per barel—jatuh sekitar $10 dalam waktu singkat.
Sebelumnya Donald Trump, secara mengejutkan mengumumkan, Senin (23/3/2026) melakukan penundaan serangan militer terhadap infrastruktur energi Iran selama lima hari ke depan.
Baca juga: Analis: Hanya Paus Leo yang Didengar Trump Sehingga Mau Hentikan Perang di Iran!
Keputusan ini diambil setelah adanya kemajuan signifikan dalam pembicaraan rahasia antara Washington dan Teheran selama akhir pekan.
Melalui unggahan di Truth Social, Trump mengungkapkan bahwa kedua negara telah terlibat dalam dialog yang "sangat baik dan produktif" untuk mengakhiri permusuhan total di Timur Tengah.
Langkah ini merupakan perubahan drastis, mengingat sebelumnya Trump mengancam akan melumat pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali pada Senin (23/3/2026) malam.