Kilas Balik Piala Dunia 2022, antara Sukses Penyelenggaraan dan Rekor Buruk Tuan Rumah
Bonifasius Anggit Putra Pratama March 24, 2026 02:33 AM

ODD ANDERSEN/AFP
Qatar menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia yang dianggap sukses pada edisi 2022.

BOLASPORT.COM - Jika kembali mengulas soal Piala Dunia 2022, maka hal itu antara kesuksesan dalam penyelenggaraan dan rekor buruk dari tuan rumah.

Piala Dunia 2022 di Qatar bakal selalu diingat sebagai salah satu edisi yang unik sekaligus kontroversial.

Diselenggarakan antara 20 November dan 18 Desember 2022, Qatar merancang kondisi turnamen paling kompak dalam sejarah Piala Dunia modern.

Hal itu tercermin dengan kedelapan stadion sebagai venue yang terletak saling berdekatan.

Konsep itu diperkenalkan dengan nama Compact World Cup yang membuat para pendukung menyaksikan lebih dari satu pertandingan dalam sehari.

Secara administratif dan infrastruktur, kinerja Qatar dinilai sangat luar biasa.

Pemerintah Qatar sampai menggelontorkan dana sekitar 220 miliar USD untuk membangun stadion-stadion mutakhir, sistem metro Doha yang canggih, hingga kota baru di Lusail.

FIFA mencatat total kehadiran kumulatif di stadion mencapai 3,4 juta penonton, dengan rata-rata okupansi kapasitas stadion mencapai 96,3 persen.

Untuk jaringan terintegrasi bernama Doha Metro, selama fase grup saja, tercatat lebih dari 9,19 juta perjalanan dengan rata-rata harian mencapai 707.032 penumpang.

Ini menjadi kunci kelancaran mobilitas di tengah kehadiran lebih dari satu juta turis internasional.

Meskipun sempat diterpa isu pelarangan alkohol dan hak asasi manusia, Qatar berhasil membuktikan bahwa dari sisi logistik, mereka mampu menghadirkan turnamen yang aman, tertib, dan megah untuk ajang sekelas Piala Dunia.

Kinerja Qatar sebagai tuan rumah juga meninggalkan warisan berupa stadion-stadion yang kini dialihfungsikan menjadi pusat komunitas, sekolah, dan fasilitas publik.

Program hebat mereka selepas Piala Dunia telah menyentuh lebih dari satu juta orang di 75 negara melalui inisiatif sepak bola untuk pembangunan.

Hanya saja semua fasilitas dan kemewahan yang diperlihatkan oleh Qatar berbanding terbalik dengan prestasi tim nasinal mereka saat berkecimpung di Piala Dunia 2022.

Kinerja Timnas Qatar di atas lapangan hijau justru mencatatkan sejarah kelam.

Juara Piala Asia 2019 itu tampak demam panggung dan The Maroons tertekan sebagai tuan rumah.

Berada di Grup A bersama Belanda, Senegal, dan Ekuador, Qatar menjadi juru kunci tanpa meraih satu poin pun.

Bisa dibilang Qatar mencatatkan diri sebagai tuan rumah dengan performa terburuk sepanjang sejarah Piala Dunia.

Hanya bisa mencetak satu gol dengan kebobolan 7 gol dari lawan membuat The Maroons menjadi tuan rumah pertama yang harus tersingkir setelah 2 laga fase grup.

Kegagalan Timnas Qatar di lapangan disebabkan oleh beberapa faktor kunci.

Pertama, minimnya pengalaman kompetisi tingkat tinggi bagi sebagian besar pemain yang hanya merumput di liga lokal.

Kedua, strategi persiapan jangka panjang dengan mengisolasi pemain dalam kamp pelatihan ternyata membuat tim kehilangan ritme kompetitif saat menghadapi intensitas permainan tim-tim seperti Ekuador, Senegal, dan Belanda.

Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bahwa pembangunan infrastruktur sepak bola yang masif tidak secara otomatis berbanding lurus dengan kesiapan mental dan taktis pemain di panggung sebesar Piala Dunia.

Meskipun timnasnya gagal bersinar, secara global, Piala Dunia 2022 di Qatar mencatatkan engagement yang memecahkan rekor.

Lionel Messi mengangkat trofi juara Piala Dunia 2022 usai timnas Argentina kalahkan timnas Prancis pada final di Lusail, Qatar (18/12/2022).
FRANCK FIFE/AFP
Lionel Messi mengangkat trofi juara Piala Dunia 2022 usai timnas Argentina kalahkan timnas Prancis pada final di Lusail, Qatar (18/12/2022).

Turnamen ini menjadi bukti bahwa sepak bola memiliki kekuatan penyatu yang luar biasa lintas budaya.

Dari penikmat sepak bola secara global, final antara Argentina dan Prancis menarik penonton sekitar 1,5 miliar di seluruh dunia.

Itu menjadikannya salah satu siaran olahraga yang paling banyak ditonton sepanjang masa.

Adapun untuk media sosial, FIFA mencatat lebih dari 5 miliar interaksi di berbagai platform digital.

Catatan itu meningkat tajam dibandingkan edisi 2018 di Rusia.

Pada akhirnya kinerja Qatar di Piala Dunia 2022 adalah sebuah paradoks.

Di satu sisi, dunia disuguhi standar baru dalam kemewahan fasilitas dan efisiensi logistik.

Di sisi lain, para penggemar tuan rumah harus menelan pil pahit melihat tim kesayangan mereka menjadi juru kunci di fase grup.

Namun, secara keseluruhan, Qatar 2022 telah berhasil menempatkan Timur Tengah dalam peta utama pusat olahraga dunia.

Itu tentunya menjadi sebuah warisan yang akan bertahan jauh setelah peluit akhir dibunyikan.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.