BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI -Jalur tikungan tajam di kawasan Gunung Kayangan di wilayah Desa Ambungan, Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanahlaut (Tala), Kalimantan Selatan (Kalsel), kembali mengingatkan pentingnya kehati-hatian bagi setiap pengendara.
Meski jalan poros di kawasan ini telah dipecah menjadi dua lajur satu arah sejak era kepemimpinan Bupati Tanahlaut H Adriansyah (Aad) sekitar 20 tahun silam, risiko kecelakaan belum sepenuhnya hilang.
Terutama pada jalur dari Pelaihari menuju Banjarmasin, rangkaian tikungan patah yang saling berdekatan kerap “menjebak” pengendara yang lengah.
Kondisi geometrik jalan yang berkelok membuat kendaraan berpotensi melebar saat menikung, apalagi jika kecepatan tidak terkendali atau konsentrasi menurun.
“Kalau tidak benar-benar fokus, motor bisa melebar sendiri saat di tikungan. Saya pernah hampir keluar jalur karena kurang hati-hati,” ujar Rahmat (34), warga Pelaihari yang kerap melintasi kawasan tersebut, Selasa (24/3/2026).
Baca juga: Di Balik Ricuh Malam Lebaran di Batibati Tanahlaut, 3 Pemuda Sempat Diamankan karena Lakukan Hal Ini
Baca juga: Menikmati Hidangan Berbuka Masjid Darussalam Solo, Ratusan Warga Antre Bubur Khas Banjar
Ia mengaku selalu mengurangi kecepatan setiap memasuki lintasan Gunung Kayangan. Bahkan juga masih membunyikan klakson terutama saat melintas saat senja.
Sebagai informasi, di luar faktor teknis jalan, sebagian masyarakat juga meyakini kawasan ini memiliki nuansa “angker”.
Dulu, pengendara kerap membunyikan klakson saat melintas, bukan hanya sebagai penanda bagi kendaraan dari arah berlawanan, tetapi juga sebagai bentuk “permisi” menurut kepercayaan setempat kepada makhluk alam sebelah yang menghuni Gunung Kayangan.
Sebagian warga di daerah ini meyakini Gunung Kayangan adalah kotanya makhluk alam sebelah. Itulah sebabnya dulu cukup banyak hal dan cerita mistis di gunung kecil ini.
Hal serupa disampaikan Siti Aminah (41), warga asal Tanahlaut lainnya. Menurutnya, meski kini jalur sudah satu arah dan lebih aman dibanding dulu, potensi kecelakaan tunggal tetap ada.
“Kadang kita merasa sudah aman karena jalurnya satu arah, tapi justru di tikungan itu yang sering bikin kaget. Kalau tidak siap, bisa saja melebar,” katanya.
Secara historis, Gunung Kayangan dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan di Tanahlaut. Pada awal 1990-an, pernah terjadi kecelakaan tragis di salah satu tikungan tajam yang merenggut nyawa seorang pejabat daerah.
Bahkan, sebelum jalan dipecah, sejumlah kecelakaan fatal kerap terjadi, termasuk insiden yang menewaskan satu keluarga di lokasi kejadian.
Di luar faktor teknis jalan, sebagian masyarakat juga meyakini kawasan ini memiliki nuansa “angker”.
Dulu, pengendara kerap membunyikan klakson saat melintas, bukan hanya sebagai penanda bagi kendaraan dari arah berlawanan, tetapi juga sebagai bentuk “permisi” menurut kepercayaan setempat.
Kini, meski kondisi jalan telah jauh lebih baik dengan sistem satu arah yang mengurangi potensi tabrakan frontal, kewaspadaan tetap menjadi kunci utama.
Tikungan-tikungan tajam di Gunung Kayangan masih menuntut disiplin berkendara—mengurangi kecepatan, menjaga fokus, dan tidak lengah—agar perjalanan tetap aman hingga tujuan.
(banjarmasinpost.co.id/banyu langit roynalendra nareswara)