Pernikahan Anak Sumbang 30 Persen Angka Stunting di NTB, Sinta Agathia: Kita Harus Rempuk Bersama
Laelatunniam March 24, 2026 04:19 PM

TRIBUNLOMBOK.COM – Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Dekranasda NTB, Sinta Agathia M. Iqbal, menyebut pernikahan usia anak di Nusa Tenggara Barat (NTB) sudah masuk dalam kondisi genting.

Pasalnya, fenomena ini menjadi hulu dari lingkaran setan yang memicu stunting dan kemiskinan ekstrem di daerah.

Dalam Podcast Tribun Lombok, Sinta memaparkan data bahwa pernikahan usia anak menyumbang sekitar 30 persen angka stunting di NTB. Hal ini diperparah dengan pola asuh yang tidak matang karena orang tua yang masih di bawah umur.

"Pernikahan usia anak, stunting, dan kemiskinan itu seperti lingkaran setan. Orang tuanya putus sekolah, akhirnya jadi buruh migran. Anak dititipkan ke nenek dengan pola asuh dan gizi yang seadanya. Begitu terus berputar," ujar Sinta Agathia dalam Podcast Tribun Lombok yang tayang, Kamis (19/3/2026).

Sinta juga menyoroti fenomena di masyarakat yang seringkali menjadikan adat sebagai alasan atau "tameng" untuk mewajarkan pernikahan dini.

Menurutnya, esensi aturan adat pada dasarnya bertujuan baik untuk menjaga kehormatan anak perempuan, namun kini sering diselewengkan.

"Jangan adat yang disalahkan. Aturan adat itu awalnya untuk kebaikan. Tapi sekarang, hanya karena anak pulang malam atau sering pergi dengan teman laki-laki, orang tua ketakutan dan langsung menikahkan sebagai solusi," tegasnya.

Ia menceritakan pengalaman pilu saat turun ke lapangan dan bertemu seorang remaja putri berusia 16 tahun yang sudah tiga kali menikah dan dua kali bercerai.

Fenomena pengajaran terhadap kegagalan pernikahan ini dianggap mengkhawatirkan karena anak muda tersebut merasa tidak ada dampak panjang dari tindakannya.

Sebagai langkah konkret, PKK NTB telah menjalin kerja sama dengan organisasi perempuan dan tokoh agama untuk melakukan sosialisasi masif.

Sinta menekankan bahwa edukasi harus dimulai sejak bangku SD, karena angka pernikahan dini banyak terjadi pada rentang usia 13-15 tahun.

Selain itu, Dekranasda NTB mengambil peran dengan membuka jalur pemberdayaan bagi anak-anak marginal yang putus sekolah.

"Dekra akan masuk memberikan pelatihan. Daripada mereka berpikir menikah adalah satu-satunya jalan keluar saat kesulitan ekonomi atau putus sekolah, kita bukakan jalan lain. Kita ajarkan mereka keterampilan yang bisa menghasilkan secara ekonomi," tambah Sinta.

Di akhir perbincangan, Sinta menitipkan pesan mendalam bagi generasi muda NTB. Ia meminta anak-anak muda untuk menghabiskan waktu dengan kegiatan produktif, dan tidak terburu-buru mengambil keputusan besar untuk menikah sebelum siap secara fisik, mental, maupun reproduksi.

Baca juga: Sinta Agathia Dorong Storytelling Tenun NTB: Turis Asing Sangat Menghargai Sejarahnya

"Menikah itu bukan solusi, tapi ibadah terpanjang yang butuh kesiapan mental dan kesehatan. Sayangi diri sendiri dulu. Jangan pernah takut gagal di usia muda, dan yang paling penting, jangan pernah takut jadi jomblo. Menikahlah di waktu yang tepat, bukan karena terpaksa atau sekadar ikut-ikutan,"pungkasnya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.